BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »
Tampilkan postingan dengan label Farras Az Zahra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Farras Az Zahra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2012

HERAN


         Matahari belum sepenuhnya muncul, embun pagi masih menghiasi rerumputan, jam pun menunjukan pukul 05.00.
 Dilalangsung bergegas bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan kembali ke kamar untuk shalat. Ya setiapminggu pagi, Dila meluangkan waktunya untuk berolahraga. Dilaberlari-lari kecil di komplek perumahan yang tak jauh dari rumahnya.
Nadila Az-zahra namanya, usianya baru genap 19 tahun. Gadis cantik blasteran Jawa-Arab ini biasa di panggil Dila. Ia suka sekali menulis cerpen dan membaca. Beberapa cerpen karyanya sudah dimuat dimajalah-majalah remaja. Dila juga sangat suka berolahraga, tak jarang ia meluangkan waktunya untuk berolahraga.
Dila terus berlari sambil menikmati suasana pagi yang begitu sejuk, sedang asyiknya ia berlari seorang pria menghampiri dirinya.Tiba-tiba saja Pria itu menanyakan bagaimana kabarnyapadahal Dila sama sekali tidak mengenal orang itu. Pria itu terus saja menanyakan tentang Dila sekarang, Dila pun hanya terdiam.Anehnya Pria itu langsung saja menceritakan saat-saat merekasekolah dulu. Dila pun mulai tidak mengerti apa maksud Pria itu.Memangnya kamu siapa?” tanya Dila. “Ha..Ha..Ha kamu tidak mengenal aku?” jawab Pria itu. “Mengapa kamu tertawa? Iya aku tidak kenal sama kamu!” ujar Dila sambil berusaha menghindar dari Pria itu. Usaha Dila untuk menghindar dari Pria itu pun gagal, Pria itu masih saja mengikutinya. Emosi Dila sepertinya mulai memuncak, ia semakin tak mengerti dengan Pria ini. Tak lama Pria itu punmemperkenalkan dirinya “Aku Nizam. Kamu benar-benar lupa sama aku” ujar pria itu. Entah mengapa saat Dila mendengar nama itu, ia tiba-tiba gugup “ya Tuhan, mengapa tiba-tiba tulang-tulang di sekujur tubuhku terasa bergemeretak, jantung ini berdegub lebih kencang dari biasanya. Ahh ada apa dengan ku?” ucapnya dalam hati.
Muhammad Nizam namanya, Nizam biasa ia disapa. Seorang pria tampan yang mengikuti Dila dari tadi, ternyata teman sekolah Dila waktu SMP. Nizam adalah sosok pria yang Dila kagumi waktu itu. Selain wajahnya yang tampan Nizam juga seorang anak yang cerdas.
Dila pun beristirahat sejenak, dengan meminum air mineral seharga 2500 rupiah. “Kamu beneran Nizam? Tanya Dila dengan heran“Iya, aku Nizam masa kamu tidak percaya” jawab Nizam sambil tersenyum. Nizam pun mengajak Dila untuk makan bubur ayam. Tapi Dila masih saja merasa herankarena Nizam sekarangtak seperti Nizam yang dulu ia kenal, kini Nizam terlihat lebih tinggi dan wajahnya pun semakin tampan. Cukup lama memang mereka tak bertemu. Sembari makan bubur mereka terus saja melanjutkan pembicaraannya. Mereka  menceritakan tentang kesibukan mereka masing-masing. Tapi lama-lama pembicaraan itu pun berubah menjadi pembahasan yang aneh. “Aku boleh minta nomorhandphone kamu ga?” tanya Nizam. “mau nomor handphone aku?Wani Piro?” jawab Dila dengan candanya. “Ha..Ha..Ha. Kamu ini ga pernah berubah dari dulu!” ucap Nizam. Dila pun hanya tersenyum dan langsung memberikan nomor handphonenya.
Matahari pun sudah muncul sepenuhnya, Dila memutuskan untuk pulang kerumah. Sampai di rumah, Dila langsung membantu ibunya, merapihkan kamar, dan mandi. Menanti datangnya anak-anak ke rumah. Kini ia memiliki tugas baru, Dila akan mengajarkan anak-anak di sekitar rumahnya, walaupun hanya mengajarkan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika namun Dila cukup senangSaat Dila sedang asyik mengajarkan anak-anak. Tiba-tiba  handphone yang berada di kamarnya berbunyi. Ternyata telepon dari Sukma temannya. Sukma ingin mengadakan kumpul hari ini bersama teman-teman yang lainnya. Jarum jam pun telah menunjuk keangka sebelas, anak-anak pun mulai pulang ke rumah mereka masing-masing. Dila pun beristirahat sejenak sebelum akhirnya ia pergi bertemu dengan teman-teman lamanya.
Pukul 12.30 pun tiba. Dila bersiap-siap, ia mengganti pakaiannya. Dan langsung berpamitan pada ibunya. Dila akan pergikesalah satu mall di Tangerang, karena Dila akan bertemu teman-temanya di mall itu. Dila datang lebih awal dari teman-temannyayang lain. Untuk membuat dirinya tidak jenuh Dila pun memesan secangkir ice cappuccino. Saat Dila sedang meninum ice cappuccino, datanglah teman-temannya. Tapi kini lebih banyak dari biasanya. Ternyata Nizam ikut berkumpul hari itu“Hey, tumben ikut kumpul?” tanya Dila pada Nizam. “Iya, kebetulankan lagi di Tangerang!” jawab Nizam. Nizam pun duduk di samping Dila.Mereka berbincang-bincang dengan seru bahkan sampai tertawa terbahak-bahak. Tapi kali ini Dila dan Nizam menjadi bahan ledekan “Cie..cie yang tadi pagi abis ketemu!” ucap Andi“Siapa Ndi yang abis ketemu?” tanya Sukma. “Itu..tuh” jawab Andi sambil melirikan matanya pada Dila dan Nizam. Dila pun bersikap biasa saja, namun Nizam bersikap begitu aneh, ia tersipu malu karena ledekan dari teman-temannya. “Eh Zam, memangnya kamu itu kemana aja?” tanya Dila. Belum Nizam menjawab malah teman-temannya yang mendahului “Nizam kan sekolah penerbangan Dil di Bandung!” jawab Sukma. “Cie..cie kangen nih” ucap teman-teman Dila. Dila pun hanya tersenyum “Apa sih maksudnya?” ucap Dila yang tidak mengerti maksud teman-temannya. Akhirnya Nizam pun menjawab pertanyaan dari Dila “Aku, sekolah penerbangan Dil di Bandung, tapi sekarang aku lagi libur. Lusa aku sudah balik lagi” jawab Nizam. “ooh, gitu ya!” ujar Dila.
Waktu pun terus berputar, tak terasa mereka sudah lamaberada di tempat ini. Mereka pun melanjutkan berjalan-jalan lagi.“Nonton yuk? Aku bayarin deh!” ucap Nizam. “Serius! dibayarin?” ucap Andi. “Iya, bener deh. Kapan lagi coba aku bayarin” ujar Nizam. “Boleh juga kalau mau bayarin” ucap Dila dan Duwi. Akhirnya mereka pun menonton film terbaru di XXI. “Eh, tapi aku duduknya dekat Dila ya? Ujar Nizam. “Iya deh, iya. Kasian udah bayarin” ujar Andi. Setelah hampir dua jam mereka berada dalam ruangan bersuhu dingin itu. Akhirnya mereka keluar. Namun mereka pun melanjutkan untuk makan malam bersama, hari ini memang Nizam yang membayarkan semuanya. Makanan pun sudah habis. Mereka pun memutuskan untuk pulang. Nizam ingin sekali mengantarkan Dila pulang “Dil, pulang bareng aku ya?” tanya Nizam. “Iya Dil, pulang bareng Nizam aja. Dari pada kamu pulang sendiri” ujar Sukma. Dila pun tak bisa menolak ajakan Nizam, karena teman-temannya memaksa Dila untuk pulang bareng Nizam.“Iya deh” jawab Dila sambil menganggukan kepalanya.
Sepanjang perjalanan Dila hanya bisa mengotak-atikhandphonenya, entah kenapa Dila merasa gugup, tidak seperti tadi saat masih ada teman-temannya. Ia merasa seperti orang yang baru kenal dengan Nizam. Memang sejak dulu Dila sangat menyukai Nizam, sebenarnya Nizam pun sangat menyukai Dila tapi Nizam tak pernah berani untuk mengungkapkannya, sampai-sampai Dila tidak pernah mengetahui bahwa Nizam menyukainya. “Kamu kenapa diam aja?” tanya Nizam. “Hemh, ga apa-apa ko?” jawab Dila. Nizam pun kembali fokus pada jalanan dan mobil yang dikemudikannya. “Kamu maukan antar aku dulu?” tanya Nizam. “Kemana?” ucap Dila. “Ya, nanti juga tau” ujar Nizam. “Kamu, mau nyulik aku ya?” ucap Dila. “Ha..ha..ha Dila kamu ini ada-ada saja” jawab Nizam sambil tak henti-hentinya tertawa. Nizam pun terus mengemudikan mobilnya. “Dil, Dila” ujar Nizam. “Eh iya, kenapa?” ujar Dila kaget. “Dil, bapak kau pemulung ya?” ucap Nizam. Dila pun tiba-tiba bete saat itu. “Enak aja kamu” jawab Dila sewot. “Ish, ko kamu malah marah sih, aku kan mau ngegombal” ujar Nizam. Dila pun sangat malu sekali saat itu karena ia tidak tahu kalau Nizam mau menggombalinya “Oh, ha..ha..ha. kok kamu tahu?” jawab Dila yang masih saja tertawa. “Ah, udahlah ga seru!” jawab Nizam dengan bete. Dila merasa tidak enak pada Nizam. “Ih, ko malah ngambek sih, makanya kalau mau ngegombal bilang-bilang dulu” ucap Dila sambil membujuk Nizam agar tidak marah. Akhirnya mobil yang di kemudikan Nizam pun berhenti di suatu tempat. Dila cukup kaget saat ia sampai di tempat itu. “Kenapa ke sini?” tanya Dila heran, Nizam pun hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Dila. Kafe yang terletak di pinggir danau ini memang sering Dila dan teman-temannya datangi. Tempatnya yang nyaman dan sejuk apalagi malam-malam. Entah apa maksud Nizam mengajak Dila ke tempat ini. “Kamu duduk di sini dulu ya!” ujar Nizam. Tidak lama Nizam pun datang dengan membawa kotak yang terbuat dari kardus berbentuk love dan ia berikan kepada Dila. Dila pun tidak mengerti maksud Nizam. “Apa ini?” tanya Dila. “Kamu liat aja nanti di rumah” jawab Nizam. Nizam dan Dila pun melanjutkan perbincangan mereka, mereka terliat asyik mengobrol namun Dila masih saja heran dengan sikap Nizam. Saat asyiknya mereka berbincang-bincang datanglah seorang pelayan kafe dengan membawa jus alpukat dan tape bakar. “Permisi, ini pesanannya” ucap pelayan itu sambil menaruh makanan dan minuman itu di meja. “Loh, aku kan ga pesen mas!” ucap Dila pada pelayan itu. Saat pelayan akan menjawab pertanyaan Dila. Nizam pun langsung berkata “Iya mas, makasih” kata Nizam. “Ini punya kamu?” tanya Dila. “Ya, punya kita lah” jawab Nizam. “Tapi kan aku ga mesan!” Ujar Dila. “Yaudah Makan aja sih” ucap Nizam. Dila pun semakin bingung karena Nizam memesan jus alpukat dan tape bakarkesukaan Dila. “Kenapa kamu mesan ini?” tanya Dila heran. “Inikan kesukaan kamu!” jawab Nizam sambil memancarkan senyum di wajahnya. Dila Tak mengerti maksud semua ini. Akhirnya Dilamengajak Nizam untuk pulang.
Tak perlu kau kirim bunga
'tuk buktikan cinta
 Tak perlu puisi indah
Agar ku bahagia...
Suara dering handphone itu sangat mengganggu Dila, karena ia sudah sangat mengantuk. “Aah, siapa sih ini malam-malam SMS!” ucap Dila sewot. Saat ia membuka handphonenya ternyata SMS dari Nizam.
Kuminta rembulan menemani tidurmu
Kumohon pada bintang menjaga istirahatmu
Selamat tidur. Semoga esok hari kau bangun dengan semangat baru
Sender:
Nizam
0878878xxxx
Sent:
23:24
01/01/2012
SMS dari Nizam membuat Dila tersenyum sendiri...
            “Dil..dila bangun nanti kamu telat!” suara ibu membangunkan Dila sambil mengetuk kamarnya. “Iya bu” jawab Dila yang masih mengantuk. Saat ia membuka matanya, langsung ia lihat handphone yang tergeletak di sampingnya. Ia tercengang kaget saat ia membaca pesan di ponselnya. Ia pun segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Saat ia membuka pintu sudah ada mobil yang terparkir di depan rumah.  “Dil, hayu naik!” ucap Nizam yang berada dalam mobil. “Kamu sudah menunggu dari tadi ya?” tanya Dila. “Ga kok. “ jawab Nizam singkat. Percakapan pun terjadi selama perjalanan menuju kampus. “Kamu udah sarapan?” tanya Nizam. “Belum” jawab Dila singkat. “Kita sarapan dulu ya?” ucap Nizam sambil memarkirkan mobilnya di depan tukang bubur...
            Langit pun begitu bersinar siang ini. Dila bersiap-siap untuk pulang. Kali ini Nizam sudah menunggunya di depan kampus. Ternyata Dila sudah berjanji pada Nizam kalau ia akan mengantarkan Nizam untuk membeli perlengkapan sebelum ia ke Bandung. “Kamu ga apa-apakan Dil kalau antar aku dulu?” tanya Nizam. “Iya, nyantai ajalah” jawab Dila. “Besok sehabis shalat shubuh aku berangkat ke Bandung!” ujar Nizam. “ooh, yah aku ga di antar jemput lagi dong?” ucap Dila sambil menggoda Nizam. “he..he..he iya lah. Tapi aku selalu mengantarkan kamu ko menuju hatiku” ucap Nizam. Dila pun hanya tertawa saat mendengar perkataan Nizam. Selesai berbelanja Nizam pun mengantarkan Dila pulang...
Walau aku jauh memandang dirimu, bahkan tak tampak dirimu dengan jelas disana. Namun slalu dekat dihatiku, memang engkau tak pernah hadir dihadapku tapi engkau slalu dipikiranku setiap aku berpikir.
Sender:
Nizam
0878878xxxx
Sent:
            20:32
            02/ 01/ 2012
            Dila semakin heran dengan sikap Nizam sekarang. Nizam selalu mengirimkannya pesan-pesan singkat yang berisi tentang cinta atau perhatian. Walaupun Nizam jauh namun Dila merasa perhatian Nizam begitu tulus. Ini membuat Dila Heran karena Nizam tak seperti dulu yang cuek padanya. Nizam yang sekarang begitu perhatian padanya.



Kamis, 12 Januari 2012

perjuangan sang pengrajin kulit

oleh: farras azzahra
Mentari bersinar di sela dua bukit cahayanya merambat, menjamah segala yang di lewatinya dan Kabut masih menutupi pandangan saya. Nama saya Dadang, saya tinggal di daerah Tarogong-Garut. Saya ayah dari dua orang anak dan satu istri. Dila adalah putri pertama saya dan Dani putra kedua saya. Istri saya bernama Laila...
Dila dan dani kini masih sekolah, mereka  pandai dan sangat mengerti keadaan orang tuanya, bahkan sering dapat peringkat di kelasnya. Perbedaan umur mereka yang tidak jauh terkadang membuat mereka bertengkar... Istri saya merupakan ibu rumah tangga yang sempurna, ia juga membantu untuk menambah pemasukan dikeluarga, ia bekerja di usaha pembuatan dodol milik kakaknya. Dan saya hanya seorang buruh.
Saya bekerja di usaha rumahan milik tetangga. Yang memproduksi kerajinan yang berasal dari kulit Sapi, Kerbau, dan Domba. Setelah diolah Kulit-kulit itu biasa di buat jacket, sepatu, dan hiasan dinding. Saya bekerja sejak tahun 1997 dengan upah yang pas-pasan. Untunglah saya mempunyai istri yang sangat mengerti keadaan hidup kami. Setelah sekian lama bekerja saya pun mulai mengerti tentang cara membuat kerajinan dari kulit-kulit tersebut bahkan saya sudah  mampu menerima pesanan di rumah.  
Hari libur pun tiba, saya mengajak anak-anak dan istri saya pergi tempat wisata pemandian air panas yang tidak jauh dari rumah. Hanya 15menit kami sudah sampai di tempat itu. Kebetulan di tempat itu sedang ada acara Atraksi Adu Domba Garut. Lomba itu pun diikuti oleh peternak-peternak domba se-Garut. Acara ini memang di adakan satu tahun sekali, kini giliran kampung saya yang menjadi tuan rumahnya. Hadiah yang didapat berupa sepeda motor, mobil dan uang puluhan juta. Ajang adu domba itu juga diselingi oleh atraksi pencak silat juga musik tradisional.
Istri dan anak-anak saya pun sangat menikmati tempat itu, mereka sangat asyik bermain air. Saya pun tidak ikut berenang bersama anak dan istri saya. Saya hanya menunggu sembari memerhatikan mereka dari saung yang tidak jauh dari tempat pemandian. Saat saya sedang asyiknya memperhatikan mereka. Tiba-tiba ada seorang bapak yang nampaknya sedang menunggu anaknya “punteun kang, tiasa pun abdi calik di dieu?”. “mangga,mangga” jawab saya. Kami pun berbicara banyak, ternyata bapak ini seorang penampung bahan kulit yang belum diolah, ia biasa mengirimkan kulit-kulit ke berbagai industri rumahan yang berada di Garut. Entah apa yang saya pikirkan saat itu, saya tiba-tiba meminta alamat dan nomor telepon bapak ini. Bapak Junaedi namanya..
Matahari pun mulai meninggi, Kami memutuskan untuk pulang . Sampai di rumah, saya pun beristirahat sejenak menunggu istri yang sedang menyiapkan makan seadanya... Makanan telah habis di santap oleh kami. Mungkin karena kelelahan anak-anak pun langsung tertidur pulas. Tetapi rasanya saya tidak bisa tidur siang ini, saya hanya bercengkrama membicarakan tentang bagaimana kehidupan kami. Saya pun menceritakan tentang bapak Junaedi. Entah apa yang ada dalam pikiran istri saya, ia tiba-tiba berkata “ kumaha upami urang muka usaha karajinan tina kulit ?”. Saya pun terengah kaget dan saya langsung melihat uang tabungan yang sudah kami kumpulkan dari  awal kami bekerja. Dan istri saya menyuruh saya untuk menelpon bapak junaedi untuk menanyakan harga kulit perKaki atau sekitar 30cm. Berbagai macam-macam harga kulit sesuai dengan kualitasnya. Alhamdulillah uang yang kami kumpulkan sudah cukup untuk modal awal. Walaupun kami belum bisa membeli kulit berkualitas paling bagus. Esok pagi, saya akan bertemu dengan pak Junaedi untuk membicarakannya lebih lanjut...
Namun bagaimana dengan pekerjaan saya, pastilah saya merasa tidak enak kepada Mang Aceng, bos saya. Ia sudah cukup baik kepada keluarga saya. Mungkin Sebaiknya akan saya bicarakan kepadanya. Esok setelah saya bertemu dengan pak Junaedi, saya akan menemui Mang Aceng di rumahnya.
Waktu terus berputar. Hari pun telah berganti. Saya segera bersiap-siap. Karena saya sudah punya janji dengan pak Junaedi. Kami akan bertemu di alun-alun kota Garut. Sampailah saya di alun-alun, cukup lama saya menunggu pak Junaedi datang. Saat ia datang, ia langsung mengajak saya untuk ke Rumahnya, melihat bahan kulit yang belum diolah. Ternyata cukup banyak dan bermacam-macam harganya. Pertemuan kami pun selesai, saya akan menghubungi pak Junaedi lagi nanti. Saya akan membicarakannya dahulu kepada istri saya.
Saya pun kembali pulang kerumah, tapi saya berhenti dulu di sebuah tempat yang cukup menarik untuk saya kunjungi. Ya saya melihat berbagai sarung tangan untuk pengendara motor yang terbuat dari bahan kulit. Saya pun membeli satu pasang untuk kemudian saya jadikan contoh. Saya pun melanjutkan perjalanan pulang. Saya akan mampir dulu di rumah Mang Aceng. Saya akan membicarakannya dengan beliau. Entah mungkin beliau akan marah. Akhirnya saya pun sampai di rumah Mang Aceng. “Assalamualaikum” saya pun masuk ke Rumah Mang Aceng. Mang Aceng pun Terheran “aya naon jang?”, emm.. Saya pun merasa gugup “ieu mang, abdi nyuhunkuen hampura. Abdi bade ngabuka usaha nyalira”.”usaha naon?” Jawab mang Aceng. Saya pun langsung berkata “abdi bade buka usaha rumahan tina bahan kulit”. “sae, abdi bade ngantos ngirimkeun mesin jait” jawab Mang Aceng sambil tersenyum menatap saya. Ahh ternyata Mang Aceng tidak marah sedikit pun, ia malah akan membantuku, ia sangat mendukung niatku. Malah ia akan memberikan aku satu mesin jahit. Aku pun sangat bersyukur  dan berterimakasih sekali kepada Mang Aceng. Aku fikir dia akan marah denganku, malah ia memberiku masukan-masukan untuk memulai usaha. Saya pun segera pamit.” Mang, abdi bade uwih heula, hatur nuhun nyah mang. assalamualaikum”.
Sesampai di Rumah, saya langsung membicarakannya kepada istri. Istri saya pun sangat bersyukur “alhamdulillah” saat saya bilang Mang Aceng akan memberikan satu mesin jahitnya kepada kami. Dan kami pun segera merapihkan rumah kami, dan membagi menjadi dua bagian, walaupun ruang tidur kami semakin menyempit, tapi inilah.. Kami tidak punya lahan lagi. Kami hanya bisa memaanfaatkan tempat yang ada.
Hari-hari terus berlalu. Saya pun sudah memulai usaha itu. Saya mengolah bahan kulit itu menjadi sarung tangan untuk pengendara motor. Saya hanya mengerjakanya seorang diri. Istri saya sedang sibuk membantu kakaknya membuat dodol dengan inovasi baru, ia membuat coklat yang berisi dodol. Ya bisa disebut cokodol..
Saya mencoba membuat sarung tangan tidak terlalu banyak. Dan mencoba memasarkannya secara berkeliling, memasuki toko-toko. Ternyata tidak semudah yang saya bayangkan itu semua sangat sulit. Namun saya tak pernah putus asa. Saya pun menghubungi teman saya yang berada di luar daerah untuk membantu memasarkannya. Ya syukurlah ada teman saya yang menyanggupi dan saya akan mengirimnya lewat jasa pos. Saya akan mengirim barang tersebut ke teman saya yang berada di Jakarta. Karena ia juga membuka toko aksesoris sepeda motor yang sudah lumayan besar dan terkenal. Saya pun terus mencoba membuat lebih banyak.
Beberapa hari kemudian teman saya dari Jakarta menelpon, dan ia bilang tak satu pun barang buatan saya yang terjual. Banyak pembeli yang mengeluh tentang model sarung tangan buatan saya. Hal ini membuat saya lemas dan hampir putus asa, namun untunglah saya mempunyai istri dan anak-anak yang selalu mendukung saya. Lambat laun rasa putus asa pun hilang, dan kini timbul ide-ide dan saran-saran dari teman saya. Saya mencoba menuangkan ide tersebut.
Saya mencoba mengirimkan lagi barang tersebut keteman saya yang berada di Jakarta. Dan saya pun mencoba memasarkannya di toko-toko sekitar Bandung. lagi, lagi, dan lagi saya pun gagal. Sarung tangan buatan saya pun di tolak di berbagai toko-toko. Namun ini membuat saya penasaran dan ingin terus mencoba, karena saya pun tau bahwa kegagalan itu adalah awal dari sebuah kesuksesan. Saya pun terus berinovasi dan mengeluarkan ide-ide yang ada dalam fikiran saya. Saya tak pernah lepas dari buku gambar dan meja jahit. Kini saya sudah menghasilkan sesuatu yang baru. Dan saya memasarkan kembali ke toko-toko. Dan Alhamdulillah akhirnya mereka pun menerima dagangan saya, dan akan menjualnya.
Sarung tangan buatan saya pun mulai diterima dikalangan masyarakat. Keuntungan yang saya dapat pun luar bisa. Sekarang saya membutuhkan seseorang untuk membantu saya. Saya pun meminta adik sepupu saya membantu di dalam usaha saya. Saya tidak langsung merasa puas. Kini saya membuat inovasi baru dengan membuat rompi pengaman untuk pengendara motor dan ternyata saya pun membutuhkan banyak orang untuk membantu usaha tersebut. Kini aksesoris untuk pengguna motor buatan saya pun sudah merambat keluar daerah, seperti Bandung, Sumedang, Tasikmalaya, bahkan Jakarta.
Sedang asyiknya saya menjahit, datang seorang pria berkemeja rapih sekali, nampaknya ia seorang juragan dan berasal dari luar daerah. Dan benar saja ia, datang dari Tangerang, ia seorang yang akan memakai jasa saya. Ya ia hanya membawa merk perusahaannya. Dan ia ingin aksesoris yang saya buat di tempelkan merk perusahaannya. Saya pun sangat terkejut dan heran. Akhirnya saya pun menandatangi kontrak dengan perusahaan tersebut. Dan sekarang usaha rumahan saya sudah sangat berbeda dengan dahulu. Ini semua berkat Tuhan dan keluarga saya yang selalu mendukung saya.

tugas penpop

BAU NAMUN NIKMAT

oleh : Farras Azzahra


“Ka... Raka...” terdengar suara Ibu memanggil-manggil. “ia, Bu!” jawab Raka sambil berlari menghampiri Ibunya “bawa kesini pakaian yang akan kamu bawa nanti! Biar Ibu rapihkan” ucap Ibu. “ia Bu..” Raka pun kembali ke kamarnya untuk mengambil pakaian. Hari ini Raka, Ibu, dan Ayah Raka akan mengunjungi rumah saudaranya yang berada di luar kota.
Muhamad Razka namanya, namun Ibu dan Ayahnya memanggilnya Raka. Katanya sih biar ga ribet. Raka ini anak sulung dari Pak Dudi dan Ibu Eti dan Kini usianya baru enam tahun. Ia senang sekali bermain game....
Mobil melaju masuk gerbang tol menuju luar kota... Setelah keluar dari jalan tol.  mobil pun mulai melewati Jalan berliku, bukit-bukit yang hijau sungguh sangat Raka nikmati. “Waah, di Jakarta ga da yang kaya gini ya Bu?” tanya Raka pada Ibunya. “ia, apalagi nanti kalau kita sudah sampai di rumah mang Rudi  kamu pasti suka deh!” jawab Ibu. Mobil yang dikemudikan Ayah pun berhenti sejenak di Rumah makan yang terletak di pinggir jalan. “kenapa berhenti yah?”tanya Raka dengan heran. “kita makan dulu, di sini makanannya enak loh!” ujar ayah. Dengan rasa penasaran Raka segera turun dari mobil dan memasuki Restoran itu. Raka sangat heran saat iya melihat ke dalam tempat itu, saat Ayah iba-tiba mengambil piring yang tersusun “Bu ko ayah ngambil sendiri?” tanya Raka dengan penasaran. “ia, sayang memang di sini aturannya seperti ini, kita ngambil sendiri nanti di ujung meja sana bayarnya. Ini namanya perasmanan” jawab Ibu dengan senyumannya. “oh, gitu ya Bu” Raka pun bergegas mengambil piring. Ia mengambil sedikit-sedikit semua makanan yang tersaji. Saat sampai di bale, Ayah pun tertawa memperhatikan makanan yang di pilih oleh Raka. “kenapa yah? Ko tertawa?” Raka sangat heran kepada Ayahnya. “gak apa-apa ka, memangnya kamu suka Jengkol?” jawab Ayah masih tertawa. “jengkol itu apa yah? Yang mana?” tanya ia sambil menyodorkan makanannya. “itu yang bulat-bulat gepeng di kecapin, kamu coba saja enak ko!” jawab Ayah. Raka pun langsung melahap semua makanannya “jengkol enak ko yah” ucap Raka sambil terus melanjutkan makan.
Perjalananpun di lanjutkan...”bau, apa sih ini?” ucap Raka. Ia pun sangat terganggu dengan bau itu. “ haah..haah” ia pun mencium bau mulutnya, “Ibu ko mulut aku bau ya?” tanya Raka pada ibunya. “masa sih, bau apa ?” jawab Ibu yang langsung memperhatikan Raka. “gak tau bu.”Raka pun gelisah karena bau yang keluar dari mulutnya. Ayah pun langsung menjelaskannya pada Raka “Tadi kan kamu habis makan jengkol ka, jadi bau mulutnya bahkan nanti kalau kamu pipis pun akan bau jengkol” jelas Ayah. “masa habis makan jengkol bau sih, emang kenapa ko jengkol itu bau yah?” tanya Raka. Ayah pun menjelaskan kembali kepada Raka “ jadi, Penyebab bau itu sebenarnya adalah asam-asam amino dan gas H2s yang terkenal sangat bau terkandung di dalam biji jengkol, tapi jengkol juga kaya vitamin loh!” jelas Ayah sambil terus mengemudikan mobilnya. Raka pun sangat kesal dengan bau mulutnya itu. Akhirnya Ibu memberinya permen agar bau di mulutnya sedikit hilang.
“Wah kita sudah mau sampe!” ucap Ayah berteriak. “aah, ayah ini mengagetkan kami saja” ujar Ibu sambil mengelus-elus dadanya. Kini mereka berada di daerah Cikuda- Sumedang, Jawa Barat. Mereka pun sampai di rumah Mang Rudi, ia adalah paman dari Raka atau adik dari Ayah Raka. “assalamualaikum” ucap Raka, Ayah, dan Ibu serempak. “waalaikumsalam” jawab seorang anak kecil dan segera berteriak memanggil ayahnya di dalam rumah “ Ayah ada Uwa sama a’Raka”. Ya ternyata yang membukakan pintu adalah Faiz anak mang Rudi yang berusia tujuh tahun. Mereka berpelukan melepas rindu. “hayo masuk a” Mang Rudi pun mempersilahkan keluarga Pak Dudi untuk masuk.
Pak Dudi sedang asyik berbincang-bincang dengan Mang Rudi dan Ibu sedang membantu Bi Ela memasak di dapur, sedangkan Raka sangat asyik bermain dengan Faiz. Faiz mengajak Raka ke kandang kambing yang terletak di belakang rumah. Raka sangat senang sekali karena ia tidak pernah melihat ini di Jakarta. Mereka memberi makan kambing-kambing...”hayu a’ urang uwih?” ajak Faiz.”ahh Faiz kamu ini ngomong apa sih, aku ga ngerti!” jawab Raka. Memang Faiz kurang lancar menggunakan Bahasa Indonesia, mungkin karena Bahasa yang digunakannya sehari-hari adalah Bahasa Sunda. Mereka pun kembali ke rumah, saat sampai di rumah Raka pun mendengar suara KRIK..KRIK... “suara apa itu?” tanya Raka, “oh, itu suara Tongeret a’ ” jawab Faiz. “Tongeret itu apa sih?” Raka pun masih sangat bingung. Ayah segera memberi penjelasan pada Raka “ Tongeret itu sejenis kumbang, yang biasa ada di pohon-pohon besar ka” Jelas Ayah. “aku mau lihat yah, gimana caranya?” ujar Raka yang masih penasaran. “ya mana bisa liatnya susah atuh!” jawab Faiz sambil tertawa. “ayo..ayo kita makan dulu” ucap Bi Ela dengan membawa mangkuk yang berisi sayur. Mereka pun segera duduk di atas tikar yang sudah tergelar. “apa ini?” tanya Raka. “ini itu jengkol ka!” jawab Faiz. “yang membuat mulut bau itu ya? Ah aku ga mau!” ucap Raka yang sepertinya masih kesal. “iya, tapi enakko, mantap! Apalagi di cocol sambel, emmmhh” Faiz pun merayu Raka. “ ia sih enak tapi kan bau” ujar Raka. “ya, sehabis makan kamu minumnya teh pait atau makan timun nanti ga bau deh” Faiz pun memberi penjelasan pada Raka. Akhirnya Raka memakan Jengkol dan mengikuti saran yang di berikan oleh Faiz. Karena hari sudah malam mereka pun beristirahat dan tertidur, malam itu Raka merasa sangat kedinginan walaupun ia sudah memakai selimut yang sangat tebal.
Hari ini Faiz mengajak Raka bermain ke kebun yang berada tidak jauh dari rumah. banyak hal-hal yang aneh di temui oleh Raka mungkin karena ia tidak pernah melihat itu semua di rumahnya. Faiz memperkenalkan Raka pada teman-temannya. Seperti biasa Faiz dan teman-temannya selalu bermain di kebun atau bermain bola. Tapi kali ini mereka akan membantu ali mengambil buah cecendet. Raka pun sangat bersemangat. Selesai mengambil cecendet mereka pun bermain ucing sumput atau bisa di bilang petak umpet, Raka pun sangat senang, sesekali mereka berganti permainan seperti bermain gatrik dan enggrang. Raka sangat kesulitan saat bermain enggrang dan gatrik karena ia tidak mengerti permainan ini.
Matahari pun semakin terik namun angin tetap sejuk. Faiz mengajak Raka untuk pulang ke rumah karena perutnya sudah lapar. “urang uwih heulanya?”Faiz pun berpamitan pada teman-temannya... Raka mengambil gamenya yang ia taruh di dalam tasnya. Raka pun menawarkan Faiz bermain game bersamanya, namun Faiz hanya memperhatikan Raka saja, karena ia tidak pernah bermain game seperti ini. “saya mah ga ngerti maennya juga!” ucap Faiz, “sini aku ajari!” Raka pun memberi tahu bagaimana cara bermain game d PSP itu. Lama-kelamaan Faiz pun mulai mengerti dan ia terus mencobanya. Ibu Faiz pun datang dengan membawa Nasi yang di taruh di bakul. Mereka pun segera mencuci tangan dan lalu makan-makanan yang baru Ibu Faiz siapkan.. Makanan pun telah habis kini saatnya mereka tidur siang..
“Faiz..Faiz.. urang ngaji yu” terdengar suara yang memanggil Faiz di depan rumah. ya, ternyata mereka teman-teman Faiz yang mengajak Faiz mengaji. Ternyata Faiz sudah bersiap-siap berangkat bersama teman-temannya. Raka pun mendengar suara itu, ia terbangun dari tidurnya dan ingin ikut mengaji bersama Faiz dan teman-temannya, karena Raka harus mandi dan mengganti pakaiannya. Mereka pun menunggu Raka dahulu. Akhirnya mereka pun pergi mengaji. Untuk sampai di rumah Pak Ustad mereka harus melewati sawah-sawah dan perkebunan. Sampailah mereka di rumah Pak Ustad. Ternyata sudah banyak teman-teman lainnya yang sudah berada di sana. “Saha eta iz?” tanya Pak Ustad. “eta Raka Abi, anakna Uwa Dudi” ucap Faiz. “oh, mana Ayah kamu?” tanya Pak Ustad kepada Raka. Raka pun menjawab dengan sedikit malu-malu “ada di rumah mang Rudi pak ustad”. Ngaji pun telah selesai mereka berpamitan pada Pak Ustad. Pak Ustad menitipkan pesan pada Raka “ Salam untuk Ayahmu ya, bilang suruh main kerumah Abi”, Raka Pun hanya Tersenyum/
Mereka pun kembali menyusuri kebun-kebun dan jalan setapak di tengah sawah. Saat melewati Kebun Raka sangat terkejut dengan Pohon yang buahnya menurutnya bagus, berkumpul seperti anggur. “a’ Pohon Apa itu?” Raka pun menanyakan pada Ace teman Faiz. Ace pun menjelaskannya pada Raka “itu pohon Jengkol Rak!” jelas Ace. “jengkol yang bau itu? Oh seperti itu pohonnya bagus ya, aku jadi tau sekarang pohon jengkol”, “Iya” jawab Ace. Raka pun sudah tidak penasaran lagi tentang jengkol kini dia sudah mengetahui banyak tentang jengkol dari pohonnya hingga manfaatnya bahkan ia pun sudah mulai tau bagaimana cara menghilangkn bau mulut sehabis makan jengkol. Di tengah Perjalanan Raka pun mendengar suara Krik,,krik.. di atas pohon besar. “itu suara tongerit ya iz” tanya raka tentang suara itu. “hahahaha Raka-Raka” teman-teman Faiz pun menertawakannya, Raka hanya terdiam menahan malu. Ace pun menjelaskan lagi kepada Raka memang Ace yang paling besar di antara teman-teman Faiz yang lain. “Raka itu bukan Tongerit tapi Tongeret, binatang itu selalu ada di pohon-pohon besar” ucap Ace yang menjelaskan pada Raka. “Oooh, aku salah ucap, makanya mereka menertawakanku”Ujar Raka sambil menahan malu. Mereka berlari-lari di jalan setapak tengah sawah, namun sungguh kasihannya Raka maksud ia ingin mengejar Ami yang berlari paling depan Ia malah terpeleset kedalam sawah, ia pun pulang dengan baju yang sangat kotor dan penuh lumpur.


tugas penpop

Kamis, 29 Desember 2011

Surat Cinta Untuk Ibu Gubernur

Oleh : Farras Az Zahra


Hari masih gelap Matahari belum menampakan cahayanya, ini baru jam 04:30 pagi, tapi aku harus segera bangun dari tempat tidur. Aku membantu ibu merapikan rumah dan mempersiapkan dagangan yang akan aku bawa ke sekolah. Namaku Isti, aku tinggal di daerah Malimping, pelosok kota Pandeglang-Banten. Desa terpencil yang jauh dari keramaian. Aku tinggal bersama kedua orangtuaku dan dua adik perempuanku. Ibuku bekerja sebagai buruh cuci di desa. Ayahku menjadi buruh bangunan terkadang ia harus pergi ke kota untuk bekerja. Kedua adikku mereka masih sangat kecil.
Jam 05.00 aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Untuk sampai di sekolah aku memerlukan waktu 2 jam. Cuma sekolah ini lah yang paling dekat dengan rumahku. Hanya ada satu angkutan umum untuk sampai ke sekolah, kami harus berlomba-lomba masuk bahkan sebagian harus duduk di atap mobil. Perjalanan yang rusak harus aku dan teman-teman lewati, terkadang jika hujan turun banjir pun datang. Kondisi sekolah pun sangat tidak layak untuk di tempati, atap-atap yang sudah bocor. Tembok gedung pun sudah banyak yang retak. Sungguh sangat ironis sekali. Tidak ada fasilitas komputer di sekolahku seperti di kota-kota. Kini hanya ada beberapa guru di sekolahku. Mereka pun memutuskan untuk pindah mengajar.
Ingin rasanya aku mengeluh tentang ini semua. Tapi aku bingung kepada siapa aku mengeluh selain kepada Tuhan. Aku ingin seseorang itu menepati janji-janjinya yang dulu ia ucapkan saat ia membutuhkan kami. Saat ucapan-ucapan manis terucap dari mulutnya. Tapi kini dimana ia?. Aku tak tau kapan ia akan sadar! Kapan ia akan memperhatikan kami!.  
Sampailah disekolah, kami harus segera baris di lapangan karena upacara bendera akan dimulai. Kegiatan ini sering kami lakukan di senin pagi. Karena bagi kami, kita harus tetap menghormati sang Merah Putih walau bagaimana pun keadaan kita. Walau lapangan sekolah kami agak sedikit becek karena hujan yang turun semalam. Tiang bendera yang sudah berkarat.Tapi ini bukan kendala bagi kami. Kami tetap semangat.
Kini saatnya aku mengikuti pelajaran di kelas. Hari ini aku belajar Bahasa Indonesia, pak Sutrisno namanya kami biasa memanggilnya bapak Ino. Ia sudah tua, tapi ia tetap semangat mengajarkan kami. Pak Ino selalu berkata “ kalian harus tetap semangat, jadilah anak yang bisa dibanggakan” kata-kata itu selalu terngiang ditelingaku, selalu teringat dipikiranku karena hampir setiap pak Ino mengajar ia selalu berkata itu. Kata-kata beliau lah menjadi motivasi dalam hidupku.
Jam istirahat pun tiba. Kini saatnya aku mulai menjual daganganku. Aku menjual gorengan dan es lilin. Aku menjualnya dengan harga tiga ratus rupiah perbuah. Alhamdulillah aku bisa sedikit membantu kedua orangtuaku. Terkadang daganganku tidak habis terjual. Dan aku harus melanjutkan berjualan nanti setelah pulang sekolah. Sekarang aku pun kembali ke kelas untuk melanjutkan belajar.
Pukul 12.00 pun tiba. Lonceng telah berbunyi ini saatnya kami harus pulang. Kami harus pulang dengan berjalan kaki. Karena tidak ada angkutan umum. Angkutan itu hanya mengantarkan kami di pagi hari. Memang ini yang biasa kami lakukan jika pulang sekolah. Kami harus mencopot sepatu sebelum melanjutkan berjalan, karena jika kami memakai sepatu, sangat rugi bagi kami. Jalanan yang becek dan terjal terkadang membuat kami terjatuh dan membuat sepatu kami kotor dan cepat rusak. Entah sampai kapan kami harus merasakan seperti ini. Mungkin sampai ia sadar.
Sampailah aku di rumah, aku pun beristirahat sejenak sebelum aku membantu ibu. Setiap hari aku membantu ibuku mencari kayu bakar dan mengambil daun pisang di kebun. Kegiatan ini rutin aku lakukan sehabis pulang sekolah. Aku pun berangkat ke kebun. Kebun ini pun bukan punya kami. Kebun ini milik tetanggaku. Ia mengijinkan kami mengambil daun pisang asalkan hasilnya dibagi dua.
Waktu pun terus berputar. Malam pun tiba, aku pun membuka kembali buku-buku. Aku membaca pelajaran yang sudah diberikan oleh guru tadi siang. Aku belajar ditemani dengan lampu petromak, hanya itu satu-satunya penerang di rumahku. Listrik di rumahku sudah di cabut oleh PLN. Karena ayahku sudah lama tidak membayar. Pikiranku pun teringat kembali kepada janjinya. Ia berjanji akan memberikan listrik gratis kepada warga. Jika ia terpilih. Ia sudah terpilih bahkan sudah bertahun-tahun ia menjabat. Tak pernah ia menepati janjinya. Waktu pun sudah larut malam aku pun harus tidur karena esok pagi aku melanjutkan kembali aktifitasku.
Pagi pun tiba. Seperti biasa aku akan berangkat ke sekolah di pagi hari. Setiap hari kegiatan ini pun harus kami lakukan berebut masuk kedalam angkutan umum. Melewati jalan-jalan yang rusak. Entah sampai kapan?. Aku ingin ia segera sadar pada janjinya. Janji yang ia ucapkan saat pemilihan gubernur tahun lalu. Kami ingin sekolah kami menjadi layak untuk digunakan tidak seperti sekarang atap-atap yang bolong sangat mengganggu kami ketika belajar. Apalagi jika hujan turun. Ia berjanji memperbaikinya. Tapi apa sampai sekarang. Tidak ada! Janji manis itu hanya ucapan saja. Hanya sebuah rayuan gombal. Dan terlalu bodohnya kami tergiur oleh janji-janji manisnya.
Hujan pun turun begitu deras. Kami sangat sibuk memindahkan buku-buku dan mencari tempat yang tidak terkena air. Angin pun bertiup kencang. Atap-atap pun berterbangan. Akhirnya belajar pun dihentikan karena guru-guru dan kepala sekolah takut sekolah tiba-tiba roboh. Kami pun berlarian keluar kelas. Apakah kami akan terus seperti ini?
Tiba di rumah, seperti biasa aku langsung membantu ibu. Aku ingin sekali mengirimkan keluhanku yang sudah ku tulis. Aku ingin mengirim tulisan ini kepada ia. Tapi aku tak tau dimana ia tinggal. Apakah tulisan ini akan sampai? Namun jika tidak segera aku mengirimnya. Kapan sekolah kami akan di perbaiki. Akhirnya setelah aku selesai membantu ibu. Aku pun pergi ke kelurahan yang tidak jauh dari rumahku. Disana terdapat kotak pos. semoga surat ini dibaca olehnya dan dimengerti maksudnya. Aku pun memikirkan alamatnya Karena aku tidak tahu. Mau bertanya pada siapa aku. Kepada Pak Rt. Pak Rw. Atau Pak lurah. Ah rasanya itu tak mungkin. Akhirnya aku tulis saja di amplop itu “SURAT CINTA UNTUK BU GUBERNUR” “Pak pos, siapapun anda tolong antarkan surat ini kepada ibu Gubernur tercinta”. Entah surat itu akan di antarkan atau tidak. Akan sampai atau tidak. Aku tak pernah tau. Aku hanya bisa menanti perubahan itu terjadi.
Tugas 4 PenPop

Selasa, 13 Desember 2011

PERTEMUAN DI MINGGU PAGI

Oleh : Farras Az Zahra
Matahari belum sepenuhnya muncul, embun pagi masih menghiasi rerumputan, jam pun menunjukan pukul 05.00, aku langsung bergegas bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan kembali ke kamar untuk shalat. Ya ini minggu pagi, waktunya aku untuk berolahraga. Aku berlari-lari kecil di komplek perumahan yang tak jauh dari rumahku.
Aku terus berlari, tiba-tiba seorang pria menghampiriku. Ia menanyakan bagaimana kabarku, tapi aku sama sekali tidak mengenal orang itu. Ia terus saja menanyakan tentangku, kesibukanku sekarang, ia menceritakan tentang sekolah dulu. Entahlah, tak mengerti apa maksudnya itu!. Sampai akhirnya aku pun memutuskan untuk bertanya “memangnya kamu siapa?” dia malah tertawa, aku pun hanya tersenyum sambil memikirkan mengapa dia tertawa. Ingin rasanya aku menghindar dari orang ini tapi ia selalu mengikutiku. Taklama ia memperkenalkan dirinya ia bilang, dulu ia cukup dekat denganku, tapi sungguh aku tak mengenalnya. Akhirnya ia memberitahukan namanya . ya Tuhan saat aku mendengar namanya tiba-tiba tulang-tulang disekujur tubuhku terasa bergemeretak, jantung ini berdegub lebih kencang dari biasanya. Ahh ada apa dengan ku?.
Aku pun beristirahat sejenak, dengan meminum air mineral seharga 2500 rupiah. Pria  ini masih saja mengikuti, Alba namanya. Ia, mantan kekasihku. Ya, bisa dibilang cinta monyet. ia mengajakku makan bubur ayam. Tapi aku masih saja merasa heran karena dia tak seperti dahulu, kini ia tinggi dan wajahnya pun semakin tampan. Cukup lama aku tak bertemu dengannya. Sembari makan bubur kami pun melanjutkan pembicaraan kami, kami menceritakan tentang kesibukan kami. Tapi lama-lama pembicaraan itu pun berubah menjadi pembahasan yang aneh dan semestinya tak perlu untuk diperbincangkan lagi. Kami pun bertukar no handphone.
Matahari pun sudah muncul sepenuhnya, aku memutuskan untuk pulang kerumah. Sampai di rumah, aku langsung membantu ibuku, merapihkan kamar, dan mandi. Menanti datangnya anak-anak ke rumahku. Ini tugas baru untukku, aku akan mengajarkan anak-anak les. Saat jam menunjukan pukul 08:30 HandPhoneku pun berbunyi, teman-teman smpku ingin mengadakan kumpul hari ini.
Pukul 12.30 pun tiba. Ini saatnya aku bersiap-siap karena aku sudah berjanji akan pergi dan berkumpul bersama teman-teman lamaku. Kami akan berkumpul disalah satu mall di Tangerang. Aku datang lebih awal dari teman-temanku yang lain. Saat aku sedang meninum secangkir ice cappuccino, datanglah mereka. Tapi kini lebih banyak dari biasanya. Ooh ternyata ada dia, ya Alba . mengapa mereka tak memberitahuku?. Dia pun duduk di sampingku . kami berbincang-bincang bahkan sampai tertawa terbahak-bahak, ya ini lah kami jika sudah disatukan. Tapi kenapa aku dan alba yang jadi bahan ledekan hari ini. Waktu pun terus berputar, tak terasa kami sudah lama ditempat ini. kami memutuskan  untuk pulang. Alba ingin sekali mengantarkanku untuk pulang. Tak bisa ku tolak, karena teman-temanku memaksa aku untuk pulang bareng alba.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa mengotak-atik handphoneku, entah kenapa aku merasa gugup, seperti orang yang baru kenal, memang cukup lama kami tidak bertemu. Ia pun tak mengajakku mengobrol, ia hanya fokus pada jalanan dan mobil yang dikemudikannya. Ini bukan jalan menuju kerumahku, mau dibawa kemana aku. Dengan sangat terpaksa aku pun bertanya ”mau kemana kita?”. Ia hanya menjawab “ nanti juga tau!”. Ternyata ia mengajakku untuk pergi kesuatu tempat. Ya tempat itu memang sering kami kunjungi waktu dulu. Entah apa maksudnya mengajakku ke tempat ini. ia memesan jus alpukat dan tape bakar, ya ampun ternyata ia masih hafal saja makanan dan minuman kesukaan ku. tapi apa maksudnya?. Banyak yang kami bicarakan saat itu, dan ia memberiku kotak yang terbuat dari kardus berbentuk love. Aku Tak mengerti maksud semua ini. sampai akhirnya aku mengajak alba untuk pulang.

Tugas 3 .. Penulisan Populer

Jumat, 02 Desember 2011

Kantin KampusKu

Oleh : Farras Az Zahra

Jam 12 pun tiba, waktunya untuk beristirahat melepas penat dan mengisi perutku yang mulai lapar, rasanya tak kuat aku menahat lapar ini. Mataku tertuju pada tempat yang tersusun gerobak-gerobak. Aku datangi tempat itu dan aku duduk dibangku yang terhalang meja. Ramai sekali tempat ini, sedang apa mereka?. Tiba-tiba aku lihat sosok pria menggunakan celana panjang dan baju berkerah. Entah siapa namanya, ia sedang asyik sendiri pada kegiatannya, mengaduk-aduk mie didalam mangkuk, memasukan mie kedalam panci yang berisi air mendidih. Sedang apa orang itu? Ah, mungkin orang itu adalah penjual mie. Sungguh ramai sekali, bermacam-macam aktifitas ada disana. Mereka asyik pada kegiatannya masing-masing. Ada yang berteriak ”bang saya, mie satu”  ah bermacam-macam teriakan itu, mengapa mereka harus berteriak? Sungguh membuat kupingku sakit, dan kepala ku hampir pecah karena mendengar teriakan itu.
Perhatian ku tertuju pada gerombolan wanita yang baru saja datang ketempat itu, mereka bercanda-canda, dan langsung duduk pada kursi yang telah disediakan, lagi-lagi kudengar teriakan ditempat itu. Kulihat banyak orang yang sedang asyik memakan makanan yang berbeda-beda, dan ada yang tetap asyik bercanda. Tiba-tiba pria yang memakai baju berkerah mengantarkan mangkuk yang berisi mie yang dicampur dengan irisan daging ayam yang memakai kecap, dan bapak itu memberi ku satu botol saos, sambal, dan lada bubuk. Aku pun mulai menikmati makanan itu bersama teman-temanku. Tapi mengapa beberapa temanku isi mangkuknya beda dengan ku? Ahh memang banyak menu yang bisa kita pilih ditempat itu. Tak lama datanglah empat orang pria yang membawa gitar, gendang, tapi itu bukan gendang, entahlah apa itu namanya terbuat dari pipa, dan ditutup dengan karet hitam, mereka bernyanyi, ya suaranya lumayan bagus, dan itu hiburan buat kami yang sedang makan, tapi ada pula yang mengaggap mereka sebagai pengganggu. Selesai bernyanyi, mereka meminta uang pada kami, Untuk apa uang itu? Rasanya ingin sekali aku bertanya pada mereka, tapi itu memang tidak penting bagi ku.
Aku terus menikmati suasana yang ada ditempat itu, aku terus memperhatikan orang-orang yang berada ditempat itu. Ya, lagi-lagi mataku tertuju pada seorang ibu memakai jilbab berwarna merah yang sedang asyik menggoreng sejenis tahu tapi berbentuk bulat, mungkin bisa kita berinama tahu bulat. Tapi tidak hanya itu, ibu itu pun menggoreng yang sepertinya terbuat dari adonan sagu dan terigu lalu di dalamnya diisi dengan macam-macam rasa, dengan bentuk yang beraneka ragam ada yang berbentuk bulat, love, segitiga, kotak, dan macam-macam lainnya. Aku pun penasaran dengan yang si ibu goreng itu, aku mencoba mengambil adonan yang berbentuk kotak dan segitiga, ya, aku meminta si ibu untuk menggorengnya. Aku pun terus memperhatikan orang-orang yang ada disekelilingku, banyak orang-orang yang takku kenal.
Ya ibu itu mengantarkan pesananku, ia membawa piring yang berisi adonan yang sudah digoreng, dan aku pun tak mau berlama-lama aku gigit dan ternyata adonan itu berisi irisan-irisan daging ayam, dan dan daging sapi cincang, emm, sangat nikmat sekali makanan ini. Siapa pria berkulit hitam, dan memakai baju hitam itu? Sedang apa dia?. Menaruh es batu didalam gelas yang terbuat dari plastik dan memasukan air teh, lalu alat apa itu? Ia masukan gelas yang berisi es batu dan teh itu kedalam alat itu, lalu ia menarik besi yang menempel pada alat itu. Tak lama ia keluarkan kembali gelas itu dan kini gelas itu sudah tertutup dengan plastik, berarti alat itu merupakan alat untuk menutup gelas, pantas saja didalamnya terdapat gulungan plastik yang bergambar. Aku pun sudah menghabiskan makanku, sudah waktunya aku untuk kembali kekelasku dan melanjutkan untuk belajar, tapi aku harus memenuhi kewajibanku, aku harus membayar makanan-makanan itu. Kini aku kembali kekelasku di lantai enam gedung Universitas Pamulang.



Tugas 2 Penulisan Populer

Operasi

Oleh : Farras Az Zahra 

Sabtu pagi yang cerah kuhirup udara yang sangat sejuk, ya ini waktunya weekand, dan aku pun harus pergi ke suatu tempat, bersama kedua orangtua ku. Pukul 08.30 kami berangkat ke tempat yang berada di daerah Cipondoh-Tangerang. Lumayan jauh untuk sampai ke sana.
Akhirnya sampailah kami di tempat itu. Perlahan ku dorong pintu kaca dan segera masuk ke sana. Gedung ini beraroma aneh dan dipenuhi orang-orang yang takku kenal. Ku lihat orang-orang sibuk mengantre panggilan untuk dapat masuk ke sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat seorang pria berjas putih dengan berbagai macam peralatannya.
Aku melanjutkan perjalananku berkeliling ruangan. Kini aku menuju ke ruang kecil yang mengantarku ke lantai atas, di dalamnya terdapat orang yang duduk di kursi roda dengan kakinya terbungkus kain berwarna putih. Sungguh mengerikan. Lalu sampailah aku di lantai empat gedung ini. Aku masuk ke dalam ruangan bersekat-sekat. Ku lihat seorang wanita tua terbaring lemah di atas kasur dengan tangan ditempelkan pada selang-selang dengan botol tergantung di tiang sampingnya. Pandanganku kembali berpusat pada wanita yang baru saja datang, membawa sebotol obat dan alat untuk menyuntik. Aku langsung merinding ketakutan. Untung saja aku salah ruangan.
Sudah hampir pukul 11.00 ibu dan bapak mengajakku bergegas mencari ruangan Anggrek 401. Hmm.. Ruangan Anggrek, dari namanya ruangan itu pasti menyenangkan pikirku. Tapi ternyata, ruangan ini sama dengan ruangan lainnya. Datanglah seorang pria memakai kemeja berwarna biru dengan jas putih, gagah sekali. Tiba-tiba jantungku berdebar lebih kencang. Entahlah, aku tiba-tiba takut. Kali ini seorang wanita berbaju putih menghampiriku. Ia menyuruhku rileks. Tiba-tiba saja ia menyuntikku, aku pun pasrah dengan meringis ketakutan. Ooh Tuhan... mereka benar-benar membuat jantungku berdebar-debar. Tiba-tiba ia berkata “operasi akan dilakukan besok jam 08.00”. Ya Tuhan jantung ini semakin berdebar kencang. Tidak ini pasti salah, pasti salah.. Ya ini pasti salah.

Aku terus berdoa dan berdoa kepada Tuhan. Jam pun terus berputar, ku rasa jam berputar lebih cepat! Jantung pun terus berdegub kencang. Suasana ruangan seketika menjadi tegang ketika seorang wanita berpakaian putih datang menghampiriku, ia datang hanya melarangku untuk tidak makan dan minum sampai operasi berlangsung besok. Malam pun datang, suasana sepi dan sunyi hanya ada orang-orang yang terbaring lemah dengan tangan yang ditempelkan dengan selang kecil menyambung kebotol yang menggantung disampingnya sama sepertiku, tapi aku tak merasa lemas sedikit pun dan beberapa orang wanita yang mondar-mandir memeriksa mereka-mereka yang terbaring lemah.
Wanita berpakaian putih pun masuk kembali kedalam ruangan, tapi kali ini ia menghampiri seorang wanita muda yang terbaring lemah dihadapanku, ia menyuruh wanita itu untuk bersiap-siap, entahlah bersiap-siap untuk apa. Ia pun pergi lagi. Tapi tak lama ia datang dengan membawa kasur tipis berwarna hitam yang beroda, ia pindahkan wanita muda itu keatas kasur yang ia bawa, mau dibawa kemana wanita itu? Rasanya ingin sekali aku bertanya, untuk menghilangkan rasa penasaran, aku pun bertanya pada laki-laki tua yang sehari tadi menemani wanita itu, ya dia jawab “wanita itu mau di operasi”. Jlebbb, jatung ini mau copot rasanya saat kembali mendengar kata-kata itu “OPERASI” ya, operasi rasanya aku tidak ingin sekali mendengar kata-kata itu. Rasa kesal terus menghampiriku. oh Tuhan.. sudah tidak betah aku di tempat ini. Ingin sekali aku pulang ke rumahku.
Beberapa jam kemudian wanita muda itu datang lagi dan dibalikan kembali ketempat tidur asalnya, ia terlihat sangat lemah sekali. Matanya pun terpejam seakan-akan ia tak mau memandang dunia ini. Sreeggg,, gorden pun di tutup sehingga aku tak bisa lagi melihatnya. Aku kembali memerhatikan sekelilingku.untuk menghilangkan jenuh aku pun turun dari tempat tidur ku, aku berjalan dengan mendorong besi yang menggantung botol berisi cairan, aku pergi keluar ruangan untuk mencari pemandagan baru. Mataku tertuju pada lantai bawah, disana sangat ramai berbeda dengan di lantai ini. Ingin rasanya aku pergi ke tempat itu, ya walaupun tetap di gedung yang sama setidaknya aku tak merasa bosan, tapi aku dilarang oleh ibuku, aku hanya bisa memandangan dari atas saja. Malampun semakin larut, aku pun masuk kedalam ruanganku lagi, ibu menyuruhku untuk tidur. Aku tak bisa tidur, pikiranku hanya memikirkan hari esok.
Hari pun telah berganti tak terasa ternyata aku pun semalam bisa tidur, jatung ini kembali berdegub kencang. Beberapa jam lagi aku akan dioperasi. Semoga berjalan lancar. Tepat jam 05.30 seorang wanita dan pria yang berjas kemarin, kini datang lagi,ia menghampiriku. Aku pun takut, ini belum saatnya aku operasi tapi mengapa ia sudah datang ketempat ini, ternyata Ia hanya ingin mengetahui kondisiku saat ini, dan ia memeriksa kembali kesehatanku. Ia menggelengkan kepalanya, entah apa arti dari gelengan itu. Setelah selesai memeriksa ia pergi keluar ruangan, tetapi wanita itu malah mengganti botol yang berisi cairan yang menggantung dengan botol yang baru. Tak lama ia pun keluar menyusul seorang pria tadi.
 Waktu terus berputar, aku semakin bingung dengan apa yang aku rasakan. Aku mendengar suara yang memanggil orangtua ku, ya ternyata orangtuaku dipanggil oleh dokter tadi, mereka pun menghampiri dokter tadi entahlah dimana ia akan menemui doker itu dan entah apa yang akan mereka bicarakan. Aku hanya menunggu dengan berbaring di tempat tidur itu. Orangtuaku datang kembali bersama laki-laki berjas dan wanita yang memakai baju putih. Mengapa mereka datang bersamaan? Apa ini sudah saatnya aku operasi? Aku bertanya-tanya dalam hati. Pria berjas itu menghampiriku, ia memeriksaku untuk yang kedua kalinya pagi ini, setelah itu Ia berkata bahwa kondisi tubuhku tidak siap untuk di operasi sehingga operasi pun diundur menjadi nanti jika kondisi tubuh ini sudah siap. Aku pun tercengan kaget, degub jantungku kembali berdetak seperti biasanya. Aku pun diperbolehkan makan dan minum lagi. Tapi kapan aku akan dioperasi? Semoga nanti jika tubuhku sudah siap.
-UTS Penulisan Populer-