Di sebuah desa, ada seorang anak laki-laki yang bernama Ali. Ia berumur sepuluh tahun, sejak kecil Ali sangat nakal. Ia suka mengganggu teman-teman sebayanya, ia juga melawan kepada kedua orang tuanya apa-apa yang ia inginkan harus terpenuhi. Ia tinggal dari keluarga tidak mampu, tapi tingkahnya seperti orang kaya. Apa yang dimiliki temanya, ia harus memilikinya juga.
Ayah Ali bekerja di sawah milik tetangganya, karena ayahnya tidak mempunyai uang untuk membeli sawah. Sedangkan ibunya bekerja sebagai pembantu di rumah tetangga yang kaya raya dan baik hati.
Ali sangat manja kepada orang tuanya, karena Ali hanya anak tunggal. Apa saja yang diinginkan Ali, orang tuanya akan berusaha memenuhinya dengan cara apapun. Suatu hari Ali meminta dibelikan sepeda kepada ayahnya, karena temannya baru dibelikan sepeda oleh ke dua orangtuanya, Ali merasa iri dan tidak mau kalah dengan temannya. Ia menangis seharian, sehingga orang tuanya tidak tega melihat anak kesayangannya menangis. Akhirnya ayahnya memutuskan untuk menjual kambing satu-satunya milik mereka dan membelikan sepeda baru untuk Ali.
Semakin lama tingkah Ali semakin tidak karuan, ia semakin sombong dan nakal kepada teman-temannya. Ali tidak memiliki teman dekat, karena temannya tidak suka dengan sifat Ali yang sombong dan nakal. Ia juga suka memukul temannya jika temannya tidak mendengarkan apa katanya.
Di sekolah ia juga sering berbuat onar, ia suka mengambil barang milik temannya yang tidak ia miliki untuk ditunjukan kepada teman-temannya dirumah. Teman sekolahnya juga takut kepada Ali, karena ia memiliki tubuh yang lumayan besar. Sehingga teman-temannya tidak berani melawannya.
Para orangtua teman Ali sering datang kerumah untuk mengadukan kelakuan nakalnya. Orangtua mereka mengadu mulai dari Ali memukul anaknya sampai Ali mengambil barang-barang milik anak mereka, dan para orangtua meminta ganti rugi atas apa yang telah diperbuat Ali. Sebenarnya orangtua Ali juga sudah lelah dan sangat sedih dengan semua masalah yang diperbuat anakya. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa atau memarahi anaknya, karena mareka sangat menyayangi anak sematawayangnya itu.
Suatu hari ayah Ali jatuh sakit, keuangan keluarga mereka semakin kekurangan, sebab gaji dari ibunya digunakan untuk membeli obat ayahnya, dan perhatian ibunya pun terbagi untuk merawat ayahnya yang sedang sakit. Sehingga Ali merasa ibunya sudah tidak sayang dan tidak dapat memenuhi apa yang ia inginkan. Ali pun pergi dari rumah.
Sejak kepergian Ali kondisi kesehatan ayahnya semakin memburuk dan akhirnya ayahnya pun meninggal dunia. Kini ibunya hanya tinggal seorang diri, ia haya bisa termenung dan berharap anak kesayangannya akan lekas pulang.
Saat pergi dari rumah Ali tinggal di pinggir pasar, ia tidur di pinggir took-toko yang sedang tutup. Untuk makan ia mencuri barang-barang orang yang ada di pasar. Di pasar ini ia dapat melihat berbagai macam orang, mulai dari para pedagang, pembeli yang kayaraya, sampai pengemis. Dan ia dapat menilai kelakuan mereka.
Ali suka memperhatikan kelakuan orang-orang di pasar. Ada pedagang yang jujur dan ada juga yang curang. Ia juga melihat kelakuan pengemis-pengemis malas bekerja dan hanya ingin meminta-minta kepada orang. Di sana juga ada preman-preman yang suka meminta jatah uang secara paksa. “Apakah aku seperti preman itu yang suka mengambil milik orang dengan paksa?”, gumam Ali dalam hati.
Pagi itu Ali melihat seorang anak kecil bersama lelaki tua sedang duduk di pinggir toko yang sedang tutup. Anak itu sedang menyuapi nasi bungkus kepada lelaki tua itu. Setelah menyuapi lelaki tua itu, si anak berjalan menuju tengah pasar dan mencari pembeli yang ingin dibawakan barang dagangannya. Melihat anak itu Ali teringat kepada orang tuanya. Padahal anak kecil itu baru berumur sekitar tujuh tahun, tetapi ia sudah dapat membantu orangtuanya. Sedangkan Ali yang jauhlebih besar hanya bisa membuat repot orangtuanya.
Akhirnya Ali pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah dan ingin berbuat baik kepada ke dua orangtuanya.
Saatsampai dirumah Ali langsung berteriak memanggil orangtuanya. “Ayah, ibu aku pulang”. Tetapi tidak ada jawaban dari dalam rumah, dan Ali pun menanyakan di mana keberadaan orangtuanya kepada para tetangga.
Tetangganya pun menceritakan semua yang telah terjadi sejak kepergian Ali. Dan memberitahu bahwa ayahnya telah meninggal satu minggu yang lalu. Tetangganya pun memberitahu di mana jenazah ayahnya di makamkan.
Ali pun langsung berlari berlari menuju tempat ayahnya di makamkan, ia melihat ibunya sedang termenung di depan sebuah makam yang mungkin itu makam ayahnya. Ali pun langsung mendekati ibunya dan langsung memeluknya. Ibunya pun kaget dan merasa senang melihat anaknya telah kembali.
Ali menceritakan kehidupannya sejak pergi dari rumah, dan ia berjanji akan berubah. Sekarang Ali menjadi anak yang baik dan selalu menolong ibunya.
Nama ku Raja Saputra, kata ayah ia memberi nama ini karena ia ingin suatu hari nanti aku menjadi pemimpin. Ayahku seorangpengusaha swasta di bidang peternakan, aku anak putra pertama dan anak terakhir dari tiga bersaudara. Orang bilang aku ini anak kesayangan ayah, sebab aku anak lelaki yang sangat di inginkan.
Aku hanya lulusan SMP saja, saat kelas 1 SMA aku sudah di keluarkan tiga kali dari sekolah yang berbeda. Mereka mengeluarkan aku dari sekolah dengan alasan aku sering bolos sekolah, jarang masuk kelas dan bercanda di dalam kelas, tidak mematuhi peraturan, aku juga tidak mendengarkan apa kata guru, dan masih banyak lagi alasan-alasan mereka tidak menerimaku lagi di sekolah.
Akibat tingkahku yang sangat nakal ini, akhirnya ayah pun lelah dan membebasaskanku. Ia membiarka apa pun yang ingin ku lakukan, termasuk aku yang tidak ingin sekolah.
Hari itu ada seorang gadis pidahan tinggal di desa sebelah. Namanya indah, kata orang ia gadis yang cantik, baik hati dan ramah pada orang. Akhirnya aku pun penasaran dengan gadis itu, masa iya gadis itu sangat sempurna, sehingga banyak teman-temanku yang suka padanya.
Saatku datang ke rumah Rino yang letak rumahnya tidak jauh dari gadis itu, bahkan rumahnya bisa terlihat dari depan rumah Rino. Aku melihat gadis itu biasa saja, tidak secantik yang teman-temanku bilang.
Sampai usia Sembilan belas tahun ini aku belum pernah merasakan benar-benar jatuh cinta pada seorang gadis. Aku lebih mementingkan bermain dan berkumpul dengan teman-teman lelakiku saja.
Temanku Rino itu sangat menyukai gadis itu, hampir setiap hari ia menceritakan tentangnya. Tetapi temanku yang lain bilang gadis itu tidak menyukai Rino, karena ia bilang Rino itu lelaki yang pendiam dan membosankan. Saat datang kerumah gadis itupun, Rino lebih banyak diam.
Suatu malam aku diajak Rino ke rumah gadis itu, karena Rino tidak berani datang sendiri kerumah gadis itu. Saat bertemu gadis itupun Rino tidak banyak bicara sambil tersenyum malu. Sedangkan aku yang baru pertama kali bertemu dengan gadis itu selalu menggodanya dengan candaan.
Karena aku ini mudah sekali bergaul dengan siapa saja, dan aku juga bisa langsung akrab dengan orang. Sedangkan Rino, ia masih dengan gayanya yang malu-malu.
Dari situ kami berdua mulai merasa cocok berteman, kami pun saling bertukar nomor handphone. Hampir setiap hari kami telpon dan sms, kami menceritakan kepribadian kami masing-masing, tapi itu semua hanya sebagai teman. Karena aku tahu temanku suka padanya.
Awalnya perasann ini hanya sebagai teman saja, tapi lama kelamaan perasaan yang awalnya hanya sebagai teman, kini berubah menjadi cinta. Perasaan ini timbul dari banyak kesamaan yang kami miliki, dan aku pun merasa nyaman dengan gadis itu. Rasa ini rasa yang belum pernah aku alami sebelumnya.
Setelah kami mulai sering bertemu dan jalan bersama, perasaan cinta ini semakin mendalam. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menyatakan cintaku padanya. Walau sebenarnya aku takut kalau Rino tahu ia bisa marah, sebab Rino juga sangat menyukai gadis ini.
Akhirnya Indah pun menerima cintaku, karena ia juga merasakan hal yang sama padaku. Kami merajut cinta dengan diam-diam, karena kami tidak ingi Rino mengetahui hubungan kami.
Akhirnya suatu hari Rino mengetahui hubungan kami, dan ia marah sekali padaku. Tapi setelah aku dan indah menjelaskan perasaan kami yang saling mencintai, Rino pun merelakan aku berpacaran dengan indah.
Masalah tidak berhenti sampai di situ, setelah Rino merestui hubungan kami. Sekarang orang tua indah yang tidak merestui hubungan kami.
Orangtua indah tidak merestui hubungan kami dengan alasan aku ini tidak baik untuk indah. Ayahnya banyak mendengar dari tetangga bahwa aku ini anak yang nakal, sekolah SMA saja tidak lulus. Aku ini hanya anak yang bisanya merepotkan orang tua saja. Bagaimana bisa aku berani mencintai anak gadisnya.
Karena kami saling mencintai akhirnya kami menjalani cinta diam-diam lagi agar orangtua indah tidak mengetahui hubungan kami. Walau kami sudah menjalani ini diam-diam tetapi orang tua indah tetap saja bisa tahu. Indah selalu dimarahi saat habis bertemu denganku. Sebenarnya aku tidak tega bila tahu indah dimarahi orang tuanya.
Akhirnya aku memutuskan untuk menjauh dari indah untuk sementara waktu. Dan harus menahan rasa rindu untuk bertemu dengannya.
Aku pun pergi merantau ke tempat teman yang ada di daerah citayam. Di daerah sana lumayan dekat dari kota Depok. Aku ikut membantu teman yang membuka usaha warung bakso dan mie ayam.
Awalnya aku merasa lelah bekerja seperti ini, karena dari kecil aku tidak pernah merasakan bekerja, apalagi pekerjaan di tempat ini rasanya aku seperti pembantu. Aku harus melayani orang makan, dan mencuci piring bekas makan orang. Padahal waktu dirumah aku tidak pernah mencuci piring bekas makanku sendiri.
Lama-kelamaan aku pun melai mahir dalam usaha ini, aku sudah bisa membuat bakso dan menyiapkan mie ayam sendiri. Uang dari gajiku mulai ku tabung, dalam dua tahun akhirnya aku sudah bisa membuka warung bakso sendiri.
Awalnya usahaku tidak terlalu maju, mungkin karena belum banyak orang yang tahu tempatku ini. Akhirnya satu tahun belakangan warungku sudah sangat ramai. Aku pun bisa membayar dua orang karyawan untuk membantuku di warung.
Tidak sampai waktu tiga tahunaku sudah memiliki cabang warung bakso yang baru. Bisa di bilang sekarang aku lumayan sukses.
Merasa sudah cukup mapan, akhirnya aku datang kembali ke rumah indah untuk menemui orangtuanya. Aku ingin melamar indah dan membuktikan bahwa sekarang aku sudah bisa bertanggung jawab dan pantas untukindah.
Saat bertemu kembali dengan ku ayah indah tidak langsung menerima lamaranku ini. Ia belum percaya bahwa aku telah berubah dan bisa menghidupi anak gadisnya.
Lama-kelamaan akhirnya ayah indah menyadari bahwa sekarang aku bukan Raja yang dulu, yang sering dibicarakan orang banyak. Aku bukan anak yang suka mabuk-mabukan, aku juga bukan anak yang bisanya hanya meminta kepada orangtua saja. Tapi sekarang aku Raja yang mandiri dan memiliki usaha sendiri.
Setiap hari di pekampungan ku terdengar suara yang sangat ramai, begitu juga pagi ini. Bremmm.. bremmm.. brakkk ! Suara mobil sampah itu datang untuk menurunkan sampah-sampah yang di ambil dari tempat sampah perumahan yang ada di Jakarta.
Aku dan masyarakat sekitar kampung ini langsung berkumpul seperti biasa untuk mencari barang-barang bekas yang masih dapat digunakan dan dapat dijual. Seperti sampah plastik, botol-botol bekas dan barang-barang yang sudah dibuang dan tidak terpakai oleh pemiliknya. Bagi kami sampah-sampah ini adalah barang yang sangat berharga, karena dari sampah ini kami dapat makan dan tetap bisa hidup.
Sekitar sepuluh tahun yang lalu, kata ibu sebenarnya kehidupan kami tidak seperti ini. Keluarga kami tinggal di sekitar pasar dekat pinggir kota. Kami memiliki toko sembako, mulai dari beras, minyak goreng, susu, dan berbagai macam barang pangan untuk kebutuhan dapur. Dan ayah pun bekerja di sebuah kantor swasta.
Dari gaji ayah bekerja dan keuntungan toko keluarga kami dapat hidup dengan sangat layak dan berkecukupan. Tetapi bumi ini memang berputar, malam ini keluarga kami terkena musibah. Toko dan rumah kami habis dilalap si jago merah.
Saat ayah ingin menyelamatkan barang-barang berharga dari dalam rumah, tubuh ayah tertimpa kayu yang diselimuti oleh api. Tangan ayah pun terluka dan barang-barang kami pun tak dapat diselamatkan.
Akibat kebakaran yang menimpa keluaraga kami semua barang dagangan dan rumah kami habis terbakar, dan tangan kanan ayah pun cacat akibat luka bakar. Dengan kondisi ayah yang seperti itu, perusahaan pun memberhentikan ayah dari kantor. Dan memberikan pesangon yang tidak seberapa.
Akhirnya kami menjual tanah bekas rumah kami, karena di daerah ini kami merasa masih ada luka hati dan trauma yang masih membekas.
Uang dari penjualan tanah dan pesangon dari perusahaan ayah kami gunakan untuk membangun rumah kembali dan membuka usaha toko baru. Tapi usaha kami di sini tidak terlalu bagus, akhirnya ayah meminjam uang untuk modal pada bank. Tetapi usaha kami semakin lama semakin merugi. Bunga uangpada bank pun semakin besar, karena kami tidak sanggup membayarnya akhirnya rumah kami pun di sita.
Sekarang keluarga kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi, dan kondisi fisik ayah juga tak sempurna seperti dulu, tak ada perusahaan satu pun yang mau menerima ayah sebagai pegawai di kantor mereka, dengan alasan mereka membutuhkan karyawan yang cepat. Dengan kondisi ayah seperti ini mereka menganggap kerja ayah pasti tidak optimal dan hanya membuang-buang waktu saja.
Sedangkan ibu tidak dapat berbuat apa-apa, sebab ibu hanya lulusan SMA saja, dan ibu tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali. Ayah tidak mau meminta pertolongan dari saudara-saudaranya, sebab saudara mereka juga hanya hidup sederhana dan ayah tidak mau merepotkan dan membebankan masalah ini pada saudaranya.
Tidak ada pilihan lain dan akhirnya keluarga kami pindah ke daerah kumuh ini, sebenarnya ayah juga tidak tega membawaisteri dan anak-anak untuk tinggal di daerah kumuh ini. Tapi semua ini harus tetap kami jalani dengan sabar dan ikhlas.
Setiap hari ayah mencari barang-barang bekas di tempat ini, kadang-kadang ayah juga mencari sampah di sekeliling kampung sebelah. Sedangkan ibu di rumah hanya menjaga adik yang baru berumur lima tahun.
Saat duduk di bangku sekolah kelas 3 SD, aku berhenti dari sekolah. Karena kondisi ayah sekarang kurang baik dan ayah juga sering sakit-sakitan. Aku pun tidak tega melihat ayah yang seperti itu, dengan kondisi fisik yang kurang sempurna ia harus banting tulang untuk menafkahi kami sekeluarga hanya seorang diri.
Hari demi hari ku lewati ini dengan sabar dan semangat, terkadang aku malu pada teman-teman sebayaku. Aku yang saat itu baru berumur sembilan tahun, aku harus berhenti sekolah dan harus bekerja mencari barang-barang bekas agar tetap hidup dan tidak kelaparan.
Satu minggu lagi umurku sebelas tahun, sejak berusia satu tahun aku sudah merasakan kesusahan. Sejak musibah itu terjadi aku tidak pernah mendapatkan barang-barang bagus dan mahal. Bahkan aku juga tidak pernah mendapatkan kue dan kado saat ulang tahun.
Tapi tahun ini tidak seperti biasanya, ayah bilang saat ulang tahun nanti ia akan membelikan aku sepeda. Betapa terkejut dan senangnya saat ayah berkata seperti itu. Aku tidak pernah berpikir untuk meminta hadiah pada ayah, karena aku sadar dengan kondisi keluargaku saat ini.
Hari ini Rabu 9 November 2009, tepat umurku Sembilan tahun. Ayah mengajakku pergi ke toko sepeda bekas yang ada di pinggir pasar, walau aku tahu ayah hanya dapat membelikan sepeda bekas, tetapi hatiku tetap sangat senang sekali. Karena ini akan menjadi kado pertamaku sejak pindah ke kampung ini.
Saat sampai di toko sepeda aku dipersilahkan oleh ayah untuk memilih sepeda mana yang aku suka. Aku pun melihat-lihat semua sepeda yang ada di sini. Walau sepeda di sini tidak baru, tetapi masih cukup bagus dan yang paling penting dapat di gunakan.
Setelah memilih sepeda ayah pun langsung membayar sepeda ini. Lalu ayah berkata “kamu tunggu di sini sebentar ya, ayah mau membeli rokok di warung di seberang jalan”, aku pun hanyan mengangguk dan tersenyum.
Saat aku sedang memperhatikan satu persatu sepeda milikku. Mulai dari ban, sampai rem ku perhatikan dengan teliti semua. Ku usap badan sepada yang berwarna hijau muda ini sambil tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara ” jegerrrrr…..! ”, terdengar suara tabrakan. Aku pun langsung menengok ke belakang. “Ayah.. “, aku langsung berlari menuju tempat tabrakan itu terjadi, dan aku tak menghiraukan sepeda yang tadi sedang ku perhatikan.
Ternyata benar ayah ku yang terkena musih itu, ia tertabrak truk yang sedang melaju cepat, ia tidak melihat truk itu saat ingin menyebrang jalan. Nyawa ayah pun tidak dapat di selamatkan, ia langsung meninggal di tempat.
Dua hari setelah ayah meninggal paman pemilik sepeda datang ke rumah, ia datang untuk mengantarkan sepeda yang ku tinggalkan di tepi jalan. Melihat sepeda itu aku merasa senang, tetapi aku juga benci. Karena dari sepeda itu aku kehilangan ayah yang sangat ku cintai. Tapi ini adalah barang pembelian ayah ku yang terakhir, jadi aku harus menjaganya.
Sekarang aku menjadi tulang punggung keluarga, Karena setelah kepergian ayah, tidak ada lagi yang mencari nafkah di rumah ini. Dan aku pun menggantikan pekerjaan ayah sebagai pemulung !
Sekarang bulan Agustus, bulan depan sahabat yang sangatku sayangi akan menikah dengan kekasih yang telah dipacarinya selama 4 tahun. Yuli itu nama sahabatku, ia gadis yang sangat baik dan sangat mencintai kekasihnya. Sedangkan Yoga adalah nama kekasihya, laki-laki yang sangat sempurna dimatanya, “ia tampan, baik, sopan, penuh kasih sayang dan setia” begitu katanya.
Aku teringat pada 7 tahun lalu, saatku duduk di bangku SMA aku sangat mencintai seorang pria bernama Prayoga Saputra atau Aku memanggilnya putra. Ia kakak kelasku, kami mulai dekat saat Aku mulai masuk sekolah. Ia sebagai ketua OSIS di sekolahku, ia sangat baik kepadaku dan dari situ kami mulai dekat. Setelah jadian, kemana-mana kami selalu bersama-sama, bahkan teman-teman suka meledek kami seperti perangko. Sebab setiap di luar kelas kami selalu berdua.
Tetapi sikap Putra mulai berubah semenjak ia masuk bangku Kuliah, kami jadi jarang bertemu dan komunikasi kamipun mulai jarang. Sebab Putra bilang jarak tempat kuliah dengan sekolahku jauh, dan di kampusnyapun ia mulai sibuk dengan kegiatan-kegiatan barunya. Ia itu sangat senang berorganisasi dan bergaul, makanya sewaktu SMA dia bisa menjadi ketua OSIS.
Dua Minggu sebelum Aku ujian Sekolah Putra terakhir menelponku, ia berkata untuk saat ini ia tidak mau mengganggu konsentrasi belajarku sehingga sampai ujian selesai Aku harus rajin belajar dan tidak usah memikirkan dirinya dulu. Akupun menuruti kemaunnya untuk tidak bertemu dulu dengannya, karena Aku fikir ini juga untuk kebaikanku.
Setelah Ujian selesai Akupun menghubunginya, tetapi No-nya tidak aktif. Akupun menunggu sampai ia menghubungiku kembali. Tetapi sampai satu bulan lebih ia tetap tidak menghubungiku. Akupun mulai gelisah dan bertanya-tanya, apa yang terjadi padanya sehingga ia menjauhiku dan meninggalkanku begitu saja. Akupun bertanya pada teman-temannya, tetapi temannyan menjawab tidak tahu apa-apa tentang Putra, dan berkata ia sedang dekat dengan gadis satu kampusnya. Hatiku sangat hancur mendengar berita itu, dan Aku mulai berusaha malupakannya. Kamipun berpisah tanpa ada kata putus dan tak bertemu lagi.
Suatu hari keluargaku mengajak pindah ke Bogor karena ayahku membuka usaha baru di sana, Akupun langsung menyetujuinya karena Aku ingin kuliah di sana dan melupakan semua kenangan yang ada di sini bersama Putra.
Setelah lulus kuliah Akupun memutuskan ke Jakarta untuk mencari pekerjaan di sana, sebab di sana aku bisa lebih gampang mencari pekerjaan yang sesuai bidangku. Setelah satu bulan Aku berkeliling mencari pekerjaan akhirnya aku diterima bekerja di sebuah Bank swasta yang cukup ternama.
Di tempat kerja Aku bertemu dengan seorang gadis yang sangat baik padaku, ia bernama Yuli. Walaupun ia seorang senior tetapi ia sangat ramah dan ia banyak mengajariku tentang segala hal mengenai kantor. Iapun mengajakku untuk tinggal satu Kos bersamanya ia bilang ia di sini tinggal sendiri, tidak bersama ke dua orang tuanya, sebab tempat Kosnya lebih dekat dengan jarak kantor.
Kamipun menjadi sangat akrab dan menjadi sahabat, hampir setiap malam sebelum tidur kami selalu bercerita tentang hal-hal mengenai hidup kami masing-masing bukan hanya masalah kantor yang kami bicarakan, tetapi kami juga bercerita tentang masa lalu, keluarga, bahkan tentang pacar.
Yuli bercerita bahwa ia mempunyai seorang pacar yang sangat dicitainya namanya Yoga. Katanya priaitu sangat tampan, baik hati, sopan, penyanyang dan paling penting adalah setia. Ia menganggap dirinya sangat beruntung karena memiliki pacar seperti itu. Akupun menjadi sangat penasaran dengan sosok laki-laki yang sangat di kagumi sahabatku ini.
Besok malam Aku akan di ajak menemui Yoga, sebab Yuli ingin pacar dan sahabatnya bisa dekat seperti sahabat sendiri. Malampun tiba Aku dan Yuli pergi menuju Kafe dimana kami akan bertemu dengan Yoga. Setelah sampai kami pun masuk dan menuju meja No.17 di sana sudah ada seorang laki-laki berkemeja hitam seperti menunggu orang, Mungkin itu Yoga. Ternyata benar, lelaki itu memang Yoga. Setelah duduk Aku mulai melihat sosok laki-laki itu tidak asing, dan pernah ku kenal.
Yulipun mulai memperkenalkan Aku, dan memulai pembicaraan di antara kami. Ia berkata, “apa kamu gak kenal sama Yoga Lis, kalau tidak salah waktu SMA dia satu sekolah denganmu” sebenarnya siapa lelaki itu aku, apa dia benar satu sekolah denganku tetapi aku tidak mengenal nama Yoga sewaktu sekolah. Nama panjang Yoga itu Prayoga Saputra, Akupun terkejut mendengar itu. Apa benar lelaki itu adalah lelaki yang pernah kucintai??
Wajah Yoga dan Putra sangat berbeda walau sekilas terlihat sedikit mirip, Yoga memiliki kulit yang putih dan terlihat pendiam. Sedangkan Putra yang dulu pernah ku kenal memiliki kulit yang hitam dan sangat suka berbicara. Aku masih belum yakin dengan semua ini. Masa iya mantan kekasihku sekarang bisa jadian dengan sahabatku.
Yogapun mulai berbicara dan bercerita tentang masa-masanya sewaktu SMA. Ternyata dia benar Putra yang dulu pernah ku cintai. Akupun hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka dan Aku berpura-pura tidak mengenal Yoga.
Malam itu Hp Yulin berbunyi sedangkan ia sedang berada di kamar mandi, iapun memintaku untuk mengangkatkan telponnya. Saat ku lihat nama Yoga Aku ragu untuk mengangkatnya, karena aku tidak sanggup mendengar suaranya. “Hallo sayang lagi apa?” suara laki-laki itu langsung berkata, Aku terdiam mendengar perkataan itu dan semakin teringat masa lalu. Aku langsung sadar dan langsung menjelaskan bahwa Yuli sedang di kamar mandi sehingga telponnya Aku yang mengangkatnya. Yogapun meminta maaf dan menanyakan kabarku, tak lama kami berbicara Yulipun datang dan Akupun Langsung cepat-cepat memberikan telponnya kepada Yuli.
Pagi ini Aku berangkat kerja sendiri, sebab Yuli sedang tidak enak badan. Sewaktu makan siang Aku bertemu dengan Yoga, awalnya ia menanyakan kabar Yuli lama-lama ia mulai menanyakan keadaanku dan kami banyak membicarakan masa lalu dan yoga menjelaskan semua kejadian yang membuatnya mulai menjauh dariku. Akupun langsung percaya dengan semua yang di ucapkannya, karena aku masih sangat mencintainya kamipun bertukar No Hp.
Setelah pertemuan itu kami masih terus sering bertemu diam-diam di belakang Yuli !
Hari ini Aku menemui Yoga lagi, ia berkata padaku ia akan meninggalkan Yuli kalau Aku mau kembali kepadanya, tetapi Aku langsung menolaknya. Sebab Aku tidak mau menyakiti perasaan sahabatku, walau sebenarnya hatiku berkata masih sangat menyanyangi Yoga dan tidak rela ia dimiliki orang lain. Tetapi Aku tidak boleh egois, Aku yang telah hadir kembali di antara Yuli dan Yoga jadi Aku yang harus mengalah.
Karena Yulidan Yoga orang Betawi, Yogapun melamar Yuli dengan adat Betawi. Bagi orang Betawi ngelamar adalah pernyataan dan permintaan resmi dari pihak keluarga laki-laki (calon tuan mantu) untuk melamar wanita (calon none mantu) kepada pihak keluarga wanita. Ketika itu juga keluarga pihak laki-laki mendapat jawaban persetujuan atau penolakan atas maksud tersebut. Pada saat melamar itu, ditentukan pula persyaratan untuk menikah, di antaranya mempelai wanita harus sudah tamat membaca Al Quran. Yang harus dipersiapkan dalam ngelamar ini adalah:
1.Sirih lamaran
2. Pisang raja
3. Roti tawar
4. Hadiah Pelengkap
5. Para utusan yang tediri atas: Mak Comblang, Dua pasang wakil orang tua dari calon tuan mantu terdiri dari sepasang wakil keluarga ibu dan bapak.
# Bawa tande putus
Tanda putus bisa berupa apa saja. Tetapi biasanya pelamar dalam adat betawi memberikan bentuk cincin belah rotan sebagai tanda putus. Tande putus artinya bahwa none calon mantu telah terikat dan tidak lagi dapat diganggu gugat oleh pihak lain walaupun pelaksanaan tande putus dilakukan jauh sebelum pelaksanaan acara akad nikah.
Masyarakat Betawi biasanya melaksanakan acara ngelamar pada hari Rabu dan acara bawa tande putus dilakukan hari yang sama seminggu sesudahnya. Pada acara ini utusan yang datang menemui keluarga calon none mantu adalah orang-orang dari keluarga yang sudah ditunjuk dan diberi kepercayaan. Pada acara ini dibicarakan:
1. apa cingkrem (mahar) yang diminta
2. nilai uang yang diperlukan untuk resepsi pernikahan
3. apa kekudang yang diminta
4. pelangke atau pelangkah kalau ada abang atau empok yanng dilangkahi
5. berapa lama pesta dilaksanakan
6. berapa perangkat pakaian upacara perkawinan yang digunakan calon none mantu pada acara resepsi
7. siapa dan berapa banyak undangan.
# Akad Nikah
Sebelum diadakan akad nikah secara adat, terlebih dahulu harus dilakukan rangkaian pra-akad nikah yang terdiri dari:
1. Masa dipiare, yaitu masa calon none mantu dipelihara oleh tukang piara atau tukang rias. Masa piara ini dimaksudkan untuk mengontrol kegiatan, kesehatan, dan memelihara kecantikan calon none mantu untuk menghadapi hari akad nikah nanti.
2. Acara mandiin calon pengatin wanita yang dilakukan sehari sebelum akad nikah. Biasanya, sebelum acara siraman dimulai, mempelai wanita dipingit dulu selama sebulan oleh dukun manten atau tukang kembang. Pada masa pingitan itu, mempelai wanita akan dilulur dan berpuasa selama seminggu agar pernikahannya kelak berjalan lancar.
3. Acara tangas atau acara kum. Acara ini identik dengan mandi uap yang tujuanya untuk membersihkan bekas-bekas atau sisa-sisa lulur yang masih tertinggal. Pada prosesi itu, mempelai wanita duduk di atas bangku yang di bawahnya terdapat air godokan rempah-rempah atau akar pohon Betawi. Hal tersebut dilakukan selama 30 menit sampai mempelai wanita mengeluarkan keringat yang memiliki wangi rempah, dan wajahnya pun menjadi lebih cantik dari biasanya.
4. Acara ngerik atau malem pacar. Dilakukan prosesi potong cantung atau ngerik bulu kalong dengan menggunakan uang logam yang diapit lalu digunting. Selanjutnya melakukan malam pacar, di mana mempelai memerahkan kuku kaki dan kuku tangannya dengan pacar.
Setelah rangkaian tersebut dilaksanakan, masuklah pada pelaksanaan akad nikah. Pada saat ini, calon tuan mantu berangkat menunju rumah calon none mantu dengan membawa rombongannya yang disebut rudat. Pada prosesi akad nikah, mempelai pria dan keluarganya mendatangi kediaman mempelai wanita dengan menggunakan andong atau delman hias. Kedatangan mempelai pria dan keluarganya tersebut ditandai dengan petasan sebagai sambutan atas kedatangan mereka. Barang yang dibawa pada akad nikah tersebut antara lain: Sirih nanas lamaran, sirih nanas hiasan, mas kawin, miniatur masjid yang berisi uang belanja, sepasang roti buaya, sie atau kotak berornamen Cina untuk tempat sayur dan telor asin, jung atau perahu cina yang menggambarkan arungan bahtera rumah tangga, hadiah pelengkap, kue penganten, kekudang artinya suatu barang atau makanan atau apa saja yang sangat disenangi oleh none calon mantu sejak kecil sampai dewasa
Pada prosesi ini mempelai pria betawi tidak boleh sembarangan memasuki kediaman mempelai wanita. Maka, kedua belah pihak memiliki jagoan-jagoan untuk bertanding, yang dalam upacara adat dinamakan “Buka Palang Pintu”. Pada prosesi tersebut, terjadi dialog antara jagoan pria dan jagoan wanita, kemudian ditandai pertandingan silat serta dilantunkan tembang Zike atau lantunan ayat-ayat Al Quran. Semua itu merupakan syarat di mana akhirnya mempelai pria diperbolehkan masuk untuk menemui orang tua mempelai wanita.
Pada saat akad nikah, mempelai wanita Betawi memakai baju kurung dengan teratai dan selendang sarung songket. Kepala mempelai wanita dihias sanggul sawi asing serta kembang goyang sebanyak 5 buah, serta hiasan sepasang burung Hong. Kemudian pada dahi mempelai wanita diberi tanda merah berupa bulan sabit yang menandakan bahwa ia masih gadis saat menikah.
Sementara itu, mempelai pria memakai jas Rebet, kain sarung plakat, hem, jas, serta kopiah, ditambah baju gamis berupa jubah Arab yang dipakai saat resepsi dimulai. Jubah, baju gamis, dan selendang yang memanjang dari kiri ke kanan serta topi model Alpie menjadi tanda haraan agar rumah tangga selalu rukun dan damai.
Setelah upacara pemberian seserahan dan akad nikah, mempelai pria membuka cadar yang menutupi wajah pengantin wanita untuk memastikan apakah benar pengantin tersebut adalah dambaan hatinya atau wanita pilihannya. Kemudian mempelai wanita mencium tangan mempelai pria. Selanjutnya, keduanya diperbolehkan duduk bersanding di pelaminan (puade). Pada saat inilah dimulai rangkaian acara yang dkenal dengan acara kebesaran. Adapun upacara tersebut ditandai dengan tarian kembang Jakarta untuk menghibur kedua mempelai, lalu disusul dengan pembacaan doa yang berisi wejangan untuk kedua mempelai dan keluarga kedua belah pihak yang tengah berbahagia.
Setelah acara pernikahan selesai Akupun memutuskan untuk kembali ke Bogor, dan meninggalkan semua kisahku di sini, memberikan cinta dan kebahagiaanku untuk sahabatku walau ia tidak pernah tahu apa yang telah terjadi.