BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »
Tampilkan postingan dengan label Resta S.Setiadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resta S.Setiadi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2012

Ku Relakan Bahagia ku, demi Sahabat q

Oleh : Resta S.Setiadi

Pagi itu, aku terbangun dengan mata yang sembab dan membengkak. Semalam aku menangis di kamar sampai ketiduran. Entah berapa lama aku berderai air mata. Yah, aku baru saja mengalami kejadian yang membuat aku begitu sakit. Seorang cowok yang tanpa sengaja masuk dalam kehidupanku kini malah menghancurkan semuanya......

Aku mengenal Dimas dari Santi,teman dekatku. Kebetulan tiap malem Dimas latihan silat di samping ponpes tempat ku mengaji kala malam hari. Awalnya aku biasa aja dengan kehadirannya. Ga ngefek sama sekali. Tapi hari-hari berikutnya Dimas memulai kedekatan kami dengan sekedar menitip salam padaku. Ga ada yang spesial memang. Tapi hari-hari ku kini mulai terasa indah dengan keberadaanya.

Hanya saja kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Disaat aku mulai menyukainya, tak ku sangka Dimas malah mengatakan cinta kepada Santi. Aku bener-bener ga tau harus berbuat apa. Tentu saja aku tak bisa menyalahkannya karna ini memang hak mereka. Aku mencoba  ikhlas dengan hubungan mereka. Aku berusaha tegar dan mendukung hubungan mereka meski sebenarnya hati ku begitu sakit. Itu semua aku lakukan karna aku masih menghargai Santi sebagai sahabat ku. Aku memilih mengalah daripada harus kehilangan sahabat ku hanya karna seorang cowok. Meski hati kecil ku masih tetap mengharapkan Dimas.

Meski pacaran sama Santi,tapi nyatanya tetep aja Dimas ga pernah absent menghubungi ku. Entah sms atau pun telpon. Aku bingung harus bersikap gimana. Karna rasa ikhlas ku lah yang kini menuntunku untuk tetap berhubungan dengan dimas. Jujur saat itu aku benar-benar  telah merelakan Dimas.

Jadi apa salahnya jika aku menerima telpon dan smsnya. Sayangnya pikiranku masih terlalu cetek untuk menyikapi hal itu.  Tentu saja kedekatanku dengan Dimas yang telah ku anggap “teman” itu membuat Santi cemburu. Ia mengira Dimas selingkuh. Dan aku lah selingkuhannya! Kini antara Aku dan Santi serasa ada pemisah yang membuat kami tak lagi bisa seakrab dulu. Ada rasa canggung saat kami ngobrol,seperti orang yang baru kenal.

Hampir  2 tahun lamanya aku tak pernah bertemu lagi dengan Dimas sejak saat itu. Ia tak pernah lagi menghubungiku,atapun Santi. Dimas seperti menghilang di telan bumi. Akupun perlahan bisa menghapusnya dari ingatan ku dan Santi juga telah kembali seperti sedia kala,meski sekarang ia agak tertutup soal cowok.

Kini hari-hari ku semakin berwarna setelah berhasil lolos seleksi dan masuk di SMA favorit di kota ku. Yah,menjadi anak baru tentunya bukan hal yang gampang. Karna aku termasuk anak yang sulit beradaptasi. Aku terlalu cuek dengan apa yang ada di sekitar ku. Namun kini aku telah memiliki beberapa teman akrab.

Tapi hanya satu yang kurasa telah benar-benar akrab. Namanya Putri. Dia temen sebangku ku. Anak nya cukup asyik, meski terkadang ada saat-saat dimana  aku merasa muak padannya. Ada bberapa sifatnya yang tak ku suka. Dia terlalu pede dan kalo ngomong ato ngpapa’’in asal jeplak aja!uukh..yang paling bikin aku sebel saat bersamanya, ngeliat cowok ganteng dikit aja langsung dah tuh kaya ikan kena pancingan. Klepek-klepek ga jelas! Mending kalo di niatinama satu cowok. Nah ini.. tiap ada cowok selaluu aja tingkahnya gtu. Bikin aku tambah mual. Tapi mo diapain juga dia tetep temen terbaik ku(untuk saat ini).

Entah mimpi apa yang ku dapat semalem, pagi itu aku shock setengah mati denger cerita putri soal cowok barunya. Cowok itu... Dimas!! Dimas yang ku kenal bberpa tahun lalu. Yang telah hilang dari kehidupanku setelah menorehkan luka di hati ku. Aku tak habis pikir! Aku memang telah mengenalkan putri pada temen ku yang posisinya juga sebagai temen deketnya Dimas.  Tapi aku ga pernah mikir semua ini bakal salah alamat.

Justru Dimas lah yang kini berpacaran dengan putri. Oh god!! Semoga waktu sedang bercanda..! aku ga mau kejadian itu terulang kembali. Aku takkan sanggup jika harus mengulangnya. Berpura-pura tegar seperti dulu. Aku muak!! Tapi kenyataanya kini,mereka memang pacaran. Tak ada yang bisa ku lakukan selain merelakan mereka. Sama seperti yang ku lakukan dulu. DEMI SAHABAT,!!  T,T

Ibu,, Aku mencintaimu

Oleh : Resta S.Setiadi

Ku ambil sedikit cahaya yang kau beri padaku,cahaya itupun menjelma menjadi lembaran do’a dan lembaran do’a itu akan ku isi kata-kata indah seperti semuanya yang kau beri kepadaku  sosok mu sangat berarti untukku.

Saat jeritan tangisku pertama kali terucap saat itu tangisan bahagia berjatuhan dari matamu,kau mencium pipi mungilku dengan bibir merahmu,kau menyusuiku dengan rasa bahagia,seiring berjalannya waktu aku tumbuh besar sampai sekarang ini.

Banyak pengalaman sedih yang ku alami saat bersamamu,ketika ku sakit hati gelisah menyelubungimu,tapi ketika kau sakit apa dayaku atas semua ini hanya air mata yang bisa ku keluarkan tapi apa?air mata itu malah menjadi beban bagimu.aku mendengar namaku disebutnya LAGI dalam maghribNya kali ini..

seketika darahku mengalir begitu cepat..Ya Allah..ternyata  ibuku benar2 menyebut namaku dalam doanya..dalam tangisnya, hatiku membiru..IBU.. aku tak mampu mengucapkannya langsung kehadapanmu lewat ini.. izinkan aku mengungkapkan perasaanku saat ini UNTUK MU YANG TERINDAH.

Ya Allah..
Wahai Tuhanku..
Berikanlah kebahagiaan pada ibuku hingga akhir waktu.
Karena aku akan membahagiakannya,
sebagai bukti bahwa aku cinta padanya.

Setulus kasih sayangku sebagai seorang anak.
Aku akan bersujud dan merebahkan lututku ditelapak kakinya.
Ia pasti kecewa jika kejamnya kehidupan membuatku terjungkal.

telah habis kata-kataku untuk mengagumi kebaradaanmu,tak bisa ku bayangkan kalau aku harus berpisah denganmu,betapa sedihnya hati ku ini,dulu pernah ibuku terkena penyakit yang sangat menyeramkan,tapi aku tidak berdaya di dekatnya,aku hanya merepotkan bagi keluargaku yang juga berada didekat ibuku saat ini.

25 Oktober 2011,yahh saat itu ibuku telah bertambah usia,ku tatap wajahnya yang sudah bergariskan keriput-keriput,ku tatap kakinya betisnya sangat besar dan ku tatap tubuhnya yang sering kali mengalami kesakitan.

Ku bangun dari tidurku,ku lihat ibu sudah bangun dan menyiapkan makan pagiku padahal ku menyetahui bahwa ibuku masih sangat ngantuk ‘’happy birtday ya bu’’ ku ucapkan kalimat itu didepan ibuku.

Sekejap tetesan air mata keluar dari mata ibuku,ibupun memelukku sampai aku tak saggup menahan airmata yang telah membendung di mataku ‘’makasih ya sayang ‘’balas nya kalimatku ibupun menyecup keningku.

Akupun  makan dengan makanan yang dimasak dengan tangan ibuku sendiri ‘’kasih ibu..kepada beta tak terhingga sepanjang masa hanya memberi tak harap memberi bagai sang surya menyinari dunia’’ lagu  itu terdengar dari salah satu stasiun televisi,akupun menangis ‘’aku sayang ibu’’kataku sambil memeluk tubuh ibuku.
 
Aku punya kado istimewa untuk ibuku,huft...tapi kado yang aku berikan tidak sebanding dengan apa yang telah ibu ku berikan kepadaku,aku sangat malu memberi kado yang hanya kotak kecil dan menurutku kado ini tidak berarti apa-apa baginya.

Terpaksa aku menunda kado yang akan ku berikan dan rencananya ku akan memberikannya nanti malam,akupun berangkat sekolah diantar oleh supirku,sampai disekolah aku disambut ria teman-temanku,aku hanya tersenyum kecil.

Dikelas keadaan ku saat itu adalah bingung,apakah pantas aku memberi kado kecil ini kepada ibuku? itulah pertanyaan yang menghantuiku saat ini ‘’vira,menurut kamu gimana? Hari ini ibuku akan ulang tahun aku punya kado untuk ibuku,tapi aku malu
mengasihnya’’kataku ‘’malu?emang kenapa?’’ tanyanya ‘’isi kado yang akan ku beriakan
tak sebanding dengan apa yang ibu ku telah berikan?’’kataku ‘’enggak apa-apa kali,kamukan masih kecil,siapa tahu kalau sudah besar kamu bisa balas budi kepada ibumu’’kata vira ‘’tapi menurut aku bales budi dengan orang tua kita tidak seutuhnya dengan materi’’kata enzel

‘’terus dengan apa?’tanya vira ‘’menurut aku dengan berbakti kepada orang tua kitapun bisa membalas budi kepada ibu kita’’jawab enzell ‘’iya ya benar juga,jadi kamu kasih aja kado itu kepada ibumu ‘’usul vira.

‘’emm oke deh makasih teman-teman telah membantuku’’kataku ,pulang sekolah tiba,akupun masuk kekamarku kebetulan ibuku sedang pergi tapi tak tahu kemana,aku menggengam  kado ku ini di depan dadaku ,kado itupun ku letakkan di kamarku.
‘’kring-kring’’ telepon rumahku berbunyi ‘’hallo selamat siang’’kata seseorang yang tak ku kenali suaranya ‘’iya,ada apa?’’tanya ku ‘’betul ini Cinta’’tayanya ‘’iya memang kenapa?’’tanyaku ‘’dengan sangat berduka saya menyampaikan bahwa ibumu kecelakaan lalu lintas ‘’mendenga perkataan itu perasaaanku bercampur aduk.
‘’apa?dirumah sakit  mana?’’tanyaku dengan sangat sedih,akupun lalu menuju rumah sakit yang telah diberitahu tahu orang seorang wanita yang menelopon tadi.
Sampai dirumah sakit aku bertanya kepada resepsionis,lalu resepsionisnya pun menunjukan kamar ibuku,akupun berlari menuju kamar ibuku sambil memegang erat kado yang akan ku berikan kepada ibuku.
‘’ibu’’sepatah kataku ketika ku membuka pintu,aku kembali masuk dan membuka hordeng yang menutupi  tempat tidur ibuku..’’iiibbbbuuuuuuuuuuu’’teriakku melihat ibuku sedang jatuh pingsan di kamar tidur rumah sakit itu.
Aku duduk disamping ibuku sampai akhirnya ibuku terbangun ‘’Cinta’’kata ibuku dengan suara kecil,akupun kaget melihat ibuku telah bangun dari pingsan,’’ibu..ibu sudah sadar,Cinta mau kasih kado ini untuk ibu’’kataku
‘’nak,kamu anak yang baik sekali’’kata ibuku dengan suara yang sangat lembut ‘’aku yang harus berterima kasih pada ibu,ibu yang telah membesarkan aku sampai aku besar seperti ini’’kataku.
Ibuku tersenyum dan kamipun saling berpelukan satu sama lain.

Pengorbanan Sahabat

Oleh : Resta S. Setiadi

Sahabat adalah teman bermain dan bergembira. Aku juga sering berdebat saat berbeda pendapat. Anehnya, semakin besar perbedaan itu, aku semakin suka. Aku belajar bnyak hal. tapi ada suatu kisah yang telah membuat aku berpendapat berbeda tentang arti persahabatan. Saat itu, papa mamaku pergi ke Jogja untuk menengok kakek yang sedang sakit dan aku sendirian menjaga rumah.

“Hahahahaha!” aku tertawa sambil membaca.

“Desta! Katanya mau cari referensi tugas kimia, malah baca komik. Ini aku menemukan buku dari rak sebelah, mau pinjam atau tidak? Kamu bawa kartu kan? Pokoknya besok kamis, semua tugas kelompok pasti selesai. Asal kita kerjakan malam ini. Yuhuuuu... setelah itu bebas tugas. PlayStation!” jelas Judi dengan nada nyaring.

Judi orang yang simpel, punya banyak akal, tapi banyak juga yang gagal, hehehe.. Dari kelas 1 SMA sampai sekarang duduk di kelas 2 - aku sering sekelompok, beda lagi kalau masalah bermain PlayStation – Judi jagoannya. Rasanya seperti dia sudah tau apa yang bakal terjadi di permainan itu. Tapi entah kenapa, sekalipun sebenarnya aku kurang suka main PlayStation, gara-gara Judi, aku jadi ikut-ikutan suka main game.

Sahabatku yang kedua adalah
bangke, nama sebenarnya Kelly / bang Kelly. Bang Kelly pemberani, badannya besar karena sehari bisa makan lima sampai enam kali. Sebentar lagi dia pasti datang - nah, sudah kuduga dia dateng kesini.

“Kamu gak malu pakai kacamata hitam itu?” Tanyaku pada
bangke yang baru masuk ke perpustakaan. Sudah empat hari ini dia sakit mata, tapi tadi pagi rasanya dia sudah sembuh. Tapi kacamata hitamnya masih dipakai. Aku heran, orang ini benar-benar kelewat pede. Aku semakin merasa unik dikelilingi dua sahabat yang over dosis pada berbagai hal yang dialami dia.

Kami pulang bersama berjalan kaki, rumah kami dekat dengan sekolah,
bangke dan Judi juga teman satu kompleks perumahan. Saat pulang dari sekolah terjadi sesuatu.
Kataku dalam hati sambil lihat dari kejauhan “( Eh, itu... )”.
“Aku sangat kenal dengan rumahku sendiri...” aku mulai ketakutan saat seseorang asing bermobil terlihat masuk rumahku diam-diam. Karna semakin ketakutannya, aku tidak berani pulang kerumah.

“Ohh iya itu!” Judi dan Bangke setuju dengan ku. Judi melihatku seksama, ia tahu kalau aku takut berkelahi. Aku melihat Judi seperti sedang berpikir tentangku dan merencanakan sesuatu.
“Oke, Desta – kamu pergi segera beritahu satpam sekarang, Aku dan Bangke akan pergoki mereka lewat depan dan teriak .. maling... pasti tetangga keluar semua” bisikan Judi terdengar membuatku semakin ketakutan tak berbentuk.

Karena semakin ketakutan, terasa seperti sesak sekali bernafas, tidak bisa terucapkan kata apapun dari mulut. “...Desta, ayo...satpam” Judi membisiku sekali lagi.
Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura - tidak terpikirkan lagi dengan apa yang terjadi dengan dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku – ia segera memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menangkap maling dirumahku. Aku kembali kerumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar 4 menit lamanya saat aku pergi ke pos satpam dan kembali ke rumahku.

“Ya Tuhan!” kaget sekali melihat seorang petugas satpam lain yang datang lebih awal dari pada aku saat itu sedang mengolesi tisu ke hidung Bangke yang berdarah. Terlihat juga tangan Judi yang luka seperti kena pukul. Satpam langsung menelpon polisi akibat kasus pencurian ini.

“Jangan kawatir... hehehe... Kita bertiga berhasil menggagalkan mereka. Tadi saat kami teriak maling! Ternyata tidak ada tetangga yang keluar rumah. Alhasil, maling itu terbirit-birit keluar dan berpas-pasan dengan ku. Ya akhirnya kena pukul deh... Judi juga kena serempet mobil mereka yang terburu-buru pergi” jawab Bangke dengan tenang dan pedenya.
Kemudian Judi membalas perkataan Bangke “Rumahmu aman - kita memergoki mereka saat awal-awal, jadi tidak sempat ambil barang rumahmu.”

Singkat cerita, aku meng
obati mereka berdua. mama judi dan banke datang kerumahku dan kami menjelaskan apa yang tadi terjadi. Anehnya, peristiwa adanya maling ini seperti tidak pernah terjadi.“Hahahahaha... “ Judi malah tertawa dan melanjutkan bercerita tentang tokoh kesayangannya saat main PS. Sedangkan bangke bercerita kalau dia masih sempet-sempetnya menyelamatkan kacamata hitamnya sesaat sebelum hidungnya kena pukulan. Bagaimana caranya? aku juga kurang memahami. bangke kurang jelas saat bercerita pengalamannya itu.

“( Hahahahaha... )” Aku tertawa dalam hati karena mereka berdua memberikan pelajaran berarti bagiku. Aku tidak mungkin menangisi m
areka, malu dong sama bangke dan judi. Tapi ada pelajaran yang kuambil dari dua sahabatku ini.
Arti persahabatan bukan cuma
n teman bermain dan bersenang-senang. Mereka lebih mengerti ketakutan dan kelemahan diriku. judi dan bangke adalah sahabat terbaikku. Pikirku, tidak ada orang rela mengorbankan nyawanya jika bukan karna untuk sahabatnya ( judi dan bangke salah satunya).