BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »
Tampilkan postingan dengan label Senandu Zanuar Biru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senandu Zanuar Biru. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2012

KURELAKAN KAU UNTUKNYA

Oleh : Senandu Zanuar Biru

Pagi ini Kiki sudah bangun pagi untuk membangunkan sang pacar untuk, segera Kiki mengambil ponsel dan mengetik pesan untuk pacarnya yaitu Adit. “Hallo sayang, bangun dong, ini kan sudah pagi.” Pesan singkat untuk Adit. “iya sayang aku sudah bangun, aku baru mau berangkat antar bos ke kantor.” Balasan pesan dari Adit. “Ok sayang jangan lupa sarapan pagi ya, semangat kerjanya ya sayang.” Balasan pesan Kiki.
Kiki Amelia namanya, Kiki masih kuliah semester tiga di Bina Sarana Informatika yang letaknya berada di Bumi Serpong Damai. Kiki sudah mempunyai pacar yang bernama Adit, Kiki pun sudah menjalani hubungan bersamanya selama empat tahun. Mereka sudah saling mengetahui kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Pacar Kiki yaitu Adit bekerja sebagai supir pribadi di Perumahan Pondok Indah, dia tinggal di rumah Bos tempat ia bekerja. Saat itu Kiki hanya bisa bertemu Adit dihari minggu saja, karena hari itulah Adit dapat libur dari pekerjaannya dan meluangkan waktu untuk Kiki. Mereka pun sangat mengerti kesibukan yang dilakukannya. Karena itulah hubungan mereka selalu baik-baik saja.
Siang ini matahari memberikan sinar yang begitu panas. Adit sudah selesai menyelesaikan tugasnya mengantar Bos, lalu Adit pun keluar untuk mencari warung yang tidak jauh dari kantor Bosnya itu. sesampainya di warung, Adit mengambil sebotol minuman teh dingin. Kemudian Adit duduk dan menikmati minuman yang dia ambil. Ternyata di warung itu sangat ramai anak-anak muda yang sebaya dengan Adit. Ternyata mereka memang sering berkumpul sekedar untuk bercengkrama dengan teman-temannya.
Suasana warung ini pun semakin ramai, tiba-tiba ada seorang wanita lewat untuk membeli sesuatu. Tak tahu kenapa Adit pun memperhatikan wanita itu, ketika Adit sedang melihat ke arah wanita itu, ada seorang lelaki yang ingin berbuat kurang ajar terhadap wanita itu. wanita itupun menampar laki-laki itu. Adit pun tidak suka dengan perlakuan laki-laki itu terhadap wanita itu, tanpa pikir panjang Adit pun menghampiri laki-laki itu dan memberinya pelajaran. Adit merasa kesal dengan tingkah laku laki-laki itu, lalu Adit menonjoknya dan memukul laki-laki itu hingga terluka sampai berceceran darah. Laki-laki itu pun merasa tidak senang, tanpa pikir panjang, laki-laki itu memberi pukulan juga untuk Adit, Adit pun terluka di bagian pelipis matanya.
Kemudian laki-laki itu menyuruh temannya untuk mengkroyok Adit. Melihat Adit ingin dikeroyok oleh teman-teman lelaki itu, wanita itupun tiba-tiba langsung memeluk Adit. Mungkin wanita itu tidak ingin Adit babak belur karena lelaki itu. “Hai Den, Kamu jangan sampai melukai dia. Karena dia tidak salah.” Kata wanita itu dengan nada marah-marah. “Kamu berani ya, gentak-gentak aku. Aku adukan kamu sama kakakku, biar kamu dipecat.” Jawab lelaki itu mengancam. “Aku tidak takut, kamu adukan saja. Toh ini semua salah kamu, kamu yang mau berbuat kurang ajar sama aku.” Ujar wanita itu. “Oh, kamu nantangin aku ya. Ok, aku akan adukan kamu!” Ancaman kembali lelaki itu. Wanita itu pun lalu pergi sambil menarik tangan Adit dan membawa Adit ke taman dekat kantor Bosnya Adit.
“Maaf ya, gara-gara masalah aku tadi kamu jadi terluka.” Ujar wanita itu sambil membersihkan luka Adit. “Iya, engga apa-apa kok. Aku memang tidak  suka melihat wanita diperlakukan kurang ajar, makanya aku langsung memberi dia pelajaran.” Jawab Adit sambil meringis kesakitan. “Oh ya, kita belum kenalan. Nama aku Ayu, kamu siapa ?” Ucap Wanita itu sambil mengulurkan tangannya ke Adit. “Oh, kamu Ayu. Aku Adit.” Jawab Adit dan menggapai tangan Ayu.
Mereka pun terlibat percakapan panjang dan bertukar nomor ponsel. “Aku boleh tanya sama kamu?” Tanya Adit. “Kamu mau tanya apa Dit ?” Ucap Ayu. “Apa kamu kenal sama laki-laki yang ingin kurang ajar terhadap kamu tadi Yu ?” Tanya Adit penasaran. “Oh itu, iya Dit aku sangat kenal. Dia Deni, adik Bosnya aku.” Jawab Ayu. “Jadi dia adik Bosnya kamu, tapi kok dia bisa bersikap seperti itu ?” Tanya Adit. “Dia memang suka gitu Dit, aku saja sudah tidak betah sebenarnya. Tetapi aku butuh pekerjaan ini, untuk membantu Ibuku di kampung Dit.” Jawab Ayu sedih. “Memangnya kamu kerja sebagai apa ?” Tanya Adit. “Aku bekerja sebagai pengasuh anak Bos aku Dit.” Jawab Ayu.
Saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba ponsel Adit berdering. Ternyata ada telepon dari Kiki, Adit pun langsung mengangkat telepon itu. “Hallo A, kamu sudah makan ?” Tanya Kiki lewat ponsel. “Iya De, aku sudah makan. Teleponnya nanti lagi ya, aku sedang ngobrol sama teman.” Jawab Adit. Mengetahui itu Kiki pun memakluminya dan langsung memutuskan teleponnya.
“Siapa Dit yang telepon kamu ?” Tanya Ayu. “Oh, itu pacar aku Yu.” Jawab Adit. “Oh, Kamu sudah punya pacar Dit ?” Tanya Ayu. “Iya Yu, ya sudah. Makasih ya Yu, kamu sudah mengobati lukaku. Senang sekali aku bisa berkenalan dengan kamu.” Ucap Adit. “Iya Dit, seharusnya aku yang berterima kasih. Karena kamu sudah mau menolong aku.” Ucap Ayu. “Ok Yu, sama-sama kalau begitu. Oh iya aku harus balik ke kantor, karena aku mau mengantar Bos aku.” Ucap Adit. “Iya Dit, Aku juga harus kembali ke rumah. Pasti Bos aku juga sudah menunggu aku.”Kata Ayu. “Ok, kapan-kapan kita bertemu lagi ya.” Ucap Adit. “Ok dit.”Kata  Ayu sambil berjalan kembali pulang. Mereka pun berpisah dan menuju tempat yang mereka tuju. Ayu kembali kerumah majikannya dan Adit pun kembali ke kantor Bosnya. Pak Yosi adalah nama bos Adit.
Sesampainya Ayu di rumah majikannya, ternyata majikannya sudah menunggu Ayu di ruang tamu bersama Deni. Hal yang tak Ayu duga, ternyata Deni memberitahukan kepada kakaknya bahwa Ayu mencari masalah terhadap Deni. “Ayu, kesini kamu !” Panggil majikan Ayu. “Iya Pak, ada apa ?” Tanya Ayu. “Kamu sudah mencari masalah apa sama adik saya, sampai ia terluka seperti itu ?” Tanya majikan Ayu. “Saya engga berbuat apa-apa pak, Adik Bapak saja yang mau berbuat kurang ajar terhadap saya.” Kata Ayu membela diri. “Ah, bohong itu kak, Ayu sama cowok yang sok jadi pahlawan itu yang membuat aku seperti ini.” Kata Deni yang berbohong. “Sudah-sudah, Ayu kamu sudah membuat adik saya seperti itu, hari ini terakhir kamu kerja di sini.” Kata majikan Ayu. “Hah, maksud Bapak saya dipecat ?” Tanya Ayu kaget. “Hahahaa, mampus loh. Makanya jangan macam-macam sama aku.” Kata Deni dalam hati.
Mendengar perkataan dari majikan Ayu, Ayu pun sangat sedih. Padahal bukan kesalahan ia, melainkan Deni. Deni  sangat licik, ia bisa memutar balikan fakta. Ayu pun langsung bergegas ke kamar dan merapikan baju-bajunya. Ayu bingung harus kemana, sedangkan Ayu tidak tahu alamat saudaranya yang di Jakarta. Ayu pun keluar dari rumah majikannya dan pergi entah kemana.
Sore ini Adit menjemput Bosnya untuk pulang ke rumah, Adit sudah sangat dekat dengan Bosnya. Sampai-sampai Adit sudah dianggap seperti keluarga bosnya. Dalam perjalanan pulang Adit menceritakan kepada Bosnya tentang kejadian tadi. Bosnya pun sangat bangga terhadap Adit, karena Adit sangat perduli terhadap wanita yang ingin diperlakukan tidak wajar. Tidak terasa dalam percakapan yang singkat itu, Adit sudah sampai di rumah bosnya. Lalu Adit pun membuka pintu mobil untuk bosnya. “Makasih ya Dit. Kamu habis ini jangan lupa makan.” Kata Bos Adit. “Iya Pak.” Jawab Adit. Setelah itu Adit lalu bergegas kekamarnya untuk mandi dan ganti pakaian, selesai itu Adit pun kembali kekamarnya dan merebakan badannya ditempat tidur.
Sore ini pun Deni menuju kantor Polisi, Deni ingin melaporkan Adit dengan alasan penganiayaan terhadap Deni. Laporan Deni pun diproses oleh pihak polisi. Ternyata dari sejak masalah tadi siang Deni telah mengikuti Adit hingga sampai ke rumah Bosnya. Sehingga Deni mengetahui tempat yang Adit tinggali. Sampai Proses laporan itu diproses Deni bersama Polisi pun pergi untuk ke rumah Adit.
“Tinong..tinong..” Bunyi bell rumah majikan Adit berbunyi. Lalu pak Yos pun membuka pintu, ternyata yang datang adalah Polisi bersama Deni adik Bosnya Ayu. Mereka datang untuk menangkap Adit yang sudah membuat Deni terluka. Dengan laporan penganiayaan, pak Yos pun kaget mendengarnya. Tetapi pak Yos sudah tahu kejadian yang sebenarnya, lalu pak Yos pun tidak percaya dengan tuduhan ini. tetapi Polisi itu tetap ingin bertemu Adit. Pak Yos memberitahukan kepada polisi itu, bahwa Adit belum pulang, padahal Adit sedang tidur dikamarnya. Dalam percakapan panjang pak Yos dan Polisi pun berakhir, untungnya Polisi itu percaya bahwa Adit tidak berada di rumah.
Setelah polisi sudah pergi, pak Yos pun menghampiri Adit. “Dit..Adit..” Panggil pak Yos. “Iya Pak.” Jawab Adit sambil membuka pintu kamarnya. “Ada apa Pak ?” Tanya Adit. “Tadi ada polisi datang kesini cari kamu dengan tuduhan kamu sudah menganiaya yang bernama Deni, itu loh yang tadi kamu ceritakan ke saya.” Kata Pak Yos. “Hah, Deni melaporkan saya ke polisi Pak! Kok permasalahannya jadi panjang ya pak.” Kata Adit heran. “Iya sudah kalau begitu, saya yang akan urus masalah kamu ini. Sekarang kamu pulang kerumahmu saja, saya memberikan kamu cuti selama seminggu. Untuk menghindar dari masalah ini, kamu tidak usah khawatir. Semua masalah ini akan saya selesaikan dengan memberikan jaminan untuk polisi.” Kata Pak Yos bijaksana. “Iya Pak, sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak. Karena Bapak sudah sangat baik sekali sama saya.” Ucap Adit. “Iya Dit, saya juga sudah menganggap kamu sebagai keluarga saya. Jadi kamu tidak usah sungkan-sungkan lagi sama saya. Ya sudah sekarang kamu cepat bergegas rapikan baju.” Kata pak Yos. “Iya Pak.” Ucap Adit sambil merapikan baju-bajunya.
Sehabis Adit merapikan baju, Adit pun pamit dengan Pak Yos. Setelah itu  Adit pun pergi, saat dalam perjalanan pulang tiba-tiba ponsel Adit berdering, saat Adit melihat ponsel ternyata yang menelpon yaitu Ayu. Adit pun langsung mengangkat telepon Ayu. “Ada apa Yu ?” Tanya Adit. “Hai Dit, bisa kita ketemuan sekarang. Aku ingin bicara sama kamu.” Kata Ayu sambil menangis. “Ok, kita ketemu di taman tadi ya.” Kata Adit. “Iya Dit.” Ucap Ayu. Telepon pun terputus.
Adit pun sudah sampai di taman tempat mereka berkenalan tadi, tak lama Ayu pun datang. “Kamu ada apa Yu mengajak ketemuan ?” Tanya Adit. “Aku dipecat Dit dari pekerjaanku.” Jawab Ayu sedih. “Hah, beneran Yu ?” Tanya Adit. “Iya Dit, Deni memberitahukan masalah tadi sama bos aku, lalu bos aku memecat aku dengan alasan karena aku sudah membuat masalah sama Deni. Aku juga mendengar percakapan Deni dengan bos aku, sepertinya kamu akan dilaporkan ke kantor polisi.” Ucap Ayu sedih. “Iya Yu, tadi juga polisi datang ke rumah bos aku, dan mencari aku. Tetapi Bos menyuruh aku untuk cuti dan menghindar dari masalah ini, karena bos aku yang akan membereskan masalah ini dan memberikan jaminan kepada Polisi.” Ucap Adit. “Maafkan aku ya Dit, gara-gara aku, masalah ini jadi runyam. Ini gaji aku untuk kamu.” Kata Ayu. “Engga apa-apa Yu, aku ikhlas ko menolong kamu. Untuk apa kamu memberikan gaji kamu untuk aku ?” Tanya Adit. “Untuk membantu memberikan jaminan.” Kata Ayu. “Ya ampun Yu, engga perlu. Sebaiknya uang itu kamu simpan untuk kamu. Oh iya, kamu tinggal dimana sekarang Yu ?” Tanya Adit. “Aku juga engga tahu Dit mau kemana, Aku juga engga tahu alamat saudara aku yang di sini.” Kata Ayu.
Melihat Ayu yang sedang bingung, Adit pun merasa kasihan dengannya. Lalu adit pun mengajak Ayu tinggal di rumah Adit untuk sementara. Sesampainya di rumah Adit pun memberitahukan kepada  orang tuanya tentang masalah yang ia hadapi. Untung lah ibunya Adit mengerti dan mengizinkan Ayu untuk tinggal sementara dirumahnya. Ayu pun dipersilahkan untuk istirahat di kamar adiknya Adit yaitu Anggun. “Gun, tolong ajak Ayu istirahat di kamar kamu.” Kata Adit. “Iya kak.” Ucap Anggun.
Setelah menyuruh Anggun mengajak Ayu, Adit pun menuju ke kamarnya. Ia ingat Kiki, lalu Adit pun mengirim pesan untuk Kiki. “Ki, Aa pulang ke rumah, karena Aa ada masalah. Terserah kamu mau ke rumah atau engga.” Pesan untuk Kiki. Tetapi Kiki saat itu sudah tidur.
Pagi ini Kiki bangun lebih awal dari biasanya. Kiki senang hari ini ia dapat bersantai-santai, karena hari ini ia libur kuliah. Kiki pun langsung mengambil ponselnya, ternyata diponsel Kiki sudah ada pesan dari Adit. Kiki pun langsung membacanya, entah mengapa Kiki merasakan ada yang aneh dari pesan Adit. Kiki pun langsung bergegas merapikan rumahnya sebelum pergi ke rumah Adit, setelah merapikan rumah, Kiki mandi dan bersiap-siap untuk kerumah Adit.
Pukul 12.15 Kiki sudah berada di rumah Adit, Kiki pun dipersilahkan masuk oleh ibunya Adit. Kiki pun melihat seorang wanita yang sedang sholat di kamar Anggun. Dengan penasaran pun Kiki menanyakan wanita itu kepada ibunya Adit. “Bu, itu siapa yang ada di kamar Anggun ?” Tanya Kiki. “Katanya teman kerja Adit.” Jawab Ibunya Adit. Setelah menanyakan itu Kiki pun menghampiri Adit yang sedang duduk di luar. “A, itu siapa yang ada di kamar Anggun ?” Tanya Kiki penasaran. “Itu wanita yang Aa tolongin kemarin.” Jawab Adit singkat. “Kok bisa ada dirumah ini ?” Tanya Kiki kembali. “Aa sudah bilang kemarin, Aa ada masalah....” jawab Adit dan menceritakan maslah kemarin yang sedang Adit hadapi.
Tak lama kemudian ketika Adit menceritakan masalahnya kepada Kiki, Ayah Adit pulang membawa makanan. Dan menyuruh Kiki membawakan makanan untuk Ayu. Kiki pun mengambil makanan itu dan menghampiri Ayu, disitulah mereka berkenalan. “Kamu siapa namanya ?” Tanya Kiki. “Aku Ayu, kamu sendiri pacarnya Adit ya ?” Ucap Ayu. Mereka pun berbincang-bincang. Beberapa lama ketika Kiki sedang berbincang-bincang, tiba-tiba ada pesan diponsel Kiki, ternyata itu pesan dari Adit. Adit tidak suka Kiki selalu bertanya-tanya kepada Ayu, mungkin Adit mengira Kiki menanyakan hal yang tidak pantas. Padahal Kiki hanya ingin mengajak Ayu berbicara.
Kiki pun terdiam sejenak. “Mengapa sikap Adit jadi berubah saat ada wanita itu.” Ucap Kiki dalam hati. Saat Kiki sedang termenung, Adit pergi bersama Ayu. “Mau kemana A ?” Tanya Kiki. “Aku mau cari kontrakkan untuK Ayu.” Jawab Adit sinis dan langsung pergi bersama Ayu meninggalkan Kiki. Melihat itu tiba-tiba air mata Kiki terjatuh, Kiki sangat sedih, mengapa Adit seperti itu. Melihat Kiki sedang menangis Anggun menghampiri Kiki. Kiki pun meneritakan kepada Anggun tentang apa yang terjadi. Anggun hanya bisa menenangkan hati Kiki yang sedang kalut.
Sudah pukul 15.20, Adit pun pulang. Tetapi ia pulang sendiri tanpa Ayu, ternyata Ayu menginap di rumah temannya Adit. Tiba-tiba Adit memanggil Kiki, sepertinya Adit ingin bicara penting kepada Kiki. Hal yang sangat membuat Kiki terkejut, Adit meminta cincin darinya untuk dijual. Dan uang itu untuk membantu Ayu pulang ke kampungnya, Kiki pun merasa sedih, sampai segitunya sekali Adit kasihan terhadap Ayu. “Apakah ini sikap kasihan atau sikap perhatian ?” Tanya Kiki sedih dalam hati. Adit pun meminta maaf kepada Kiki, karena sudah meminta cincin yang diberikan Adit. Akhirnya Kiki pun merelakan cincinnya, untuk dijual. Kiki pun sangat sedih sekali, melihat Adit yang sangat perhatian kepada Ayu. Sampai-sampai Adit rela menjual cincin mereka berdua, hanya untuk wanita yang baru Adit kenal.
Malam ini Adit berpamitan kepada Kiki, karena Adit ingin mengantarkan Ayu pulang kampung sampai terminal saja. Dengan berat hati, Kiki pun mengizinkan Adit mengantar Ayu. Tetapi lama kemudian, tiba-tiba Adit mengirim pesan kepada Kiki dan memberitahukan bahwa Adit tidak tega melihat Ayu pulang sendiri. Ternyata Adit mengantarkan Ayu sampai rumah Ayu yaitu di Cilacap. Mengetahui itu Kiki sangat kecewa campur sedih, tapi itu semua sudah terlambat Adit sudah berada di Cilacap.
Pagi ini Adit dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Adit pun sudah memberitahukan kepada Kiki, bahwa ia tak lama lagi akan sampai di rumah. Kiki pun langsung pergi ke rumah Adit. Sesampainya Adit di rumah, ternyata sudah ada Kiki yang menunggu Adit. Adit pun beristirahat sejenak di ruang tamu, Kiki pun menghampiri Adit yang terlihat bersedih. Kiki pun menanyakan kepada Adit, ternyata adit bingung dengan perasaannya sendiri terhadap Ayu. Kiki pun merasakan hal yang aneh, apakah Adit menjadi suka kepada Ayu ?
 Ternyata benar sekali, perasaan Adit yang awalnya hanya kasihan berubah menjadi rasa sayang. Kiki pun menanyakan sesuatu. “Apakah benar Aa menyukai Ayu ? Jika itu benar Aa harus memilih diantara aku dan Ayu.” Ucap Kiki sedih. Adit pun terdiam, saat Kiki bertanya seperti itu.
Tiba-tiba tanpa sepengetahuan Adit, Kiki berinisiatif untuk menelpon Ayu dan menceritakan Adit yang sedang bersedih. Tak lama Kiki mengloudspeakerkan teleponnya, Adit terkejut mendengar suara telepon yang memanggil namanya. Ternyata suara itu adalah Ayu, Mereka bertiga terlibat pembicaraan yang serius. Tiba-tiba Ayu berbicara. “A, Kiki udah menceritakan semuanya. Bahwa Aa mempunyai perasaan sama Ayu. Ayu pun juga mempunyai perasaan yang sama, tapi bagaimana pun Aa sudah menjadi miliknya Kiki dan Ayu pun harus merelakannya. Karena Ayu engga mau menjadi perusak dalam hubungan Aa sama Kiki, mungkin perasaan Aa sekarang hanya sesaat saja. Karena Aa sudah menolong Ayu dan perasaan itu hanya sekedar kasihan.” Kata Ayu berbicara lewat telepon. Adit dan Kiki menangis mendengar Ayu berbicara seperti itu. “Kamu sangat bijaksana Yu, mungkin benar perkataanmu. Perasaan yang timbul ini hanya sesaat saja.” Ucap Adit. “Ayu merelakan perasaan ini, demi kebahagiaan Aa dan Kiki, mungkin cukup sampai disini perkenalan kita. Ayu bahagia pernah kenal dengan Aa.” Ucap Ayu sambil memutuskan teleponnya.
Akhirnya Adit pun merelakan perasaannya juga terhadap Ayu, karena mengingat sudah begitu lama hubungan Adit dengan Kiki. Adit pun tersadar bahwa ini hanya perasaan sesaat saja. Adit meminta maaf kepada Kiki, karena selama ini sudah membuat sakit hati dan sedih. Kiki pun memaafkan Adit, Kemudian Adit pun membelikan kembali sepasang cincin untuk Kiki.  

Minggu, 15 Januari 2012

DONI, ANAK YANG TAK TAHU DIRI

Oleh : Senandu Zanuar Biru

Pagi hari yang cerah ini, kutelusuri persawahan. Aku adalah Ilham berumur 12 tahun, Ilham anak dari pemilik sawah ini. Ketika Ilham berjalan melewati jalan setapak disawah, Ilham mendengar ada suara yang minta tolong. Suaranya begitu keras. Tolong...tolong  !!!!!. Ilham pun melihat kekanan dan kekiri. Tapi Ilham tak temukan juga suara yang meminta tolong tersebut. Lalu Ilham terus berjalan dan mecari dimana suara itu berasal.

Tak lama dalam pencariannya, Ilham melihat sosok anak yang sebaya dengannya, terpendam dalam lumpur yang berada disawah. Ilham pun terkejut melihatnya, ternyata dia adalah Doni. Ia anak yang sangat terkenal dengan nakalnya. Ia selalu membuat kegaduhan saat bermain. Karena kenakalannya itu, tak satupun teman-teman yang suka padanya. Mereka selalu menghindar jika Doni menghampirinya dan selalu menyudahi permainan mereka.

Ya, begitulah anak yang nakal dan sombong pasti selalu disegani oleh teman-temannya. Saat Ilham terdiam mengingat kenakalan Doni. Tiba-tiba Doni memanggilnya dengan lantang. “Ilham..Ilham..Tolong aku !” Seru Doni yang keras. Lalu Ilham merasa kaget dengar suara yang keras itu. Ilham  ingin menolong  Doni. Tapi jika Ilham mengingat kenakalannya, Ilham sangat segan untuk menolongnya. “Tetapi aku tidak boleh begitu, walaupun dia sangat nakal, harus tetap menolongnya.” Seru Ilham.

Ilham pun menghampiri Doni yang terpendam dalam lumpur. “Don, kok kamu bisa terpendam dalam lumpur itu ?” Tanya Ilham penasaran. “Ah, kamu malah tanya itu. Tolongin aku dulu dong. Aku sudah lemas dan tidak bisa bergerak.” Jawab Doni galak. “Aku kan hanya tanya saja Don.” Seru Ilham. “ Ya sudah bantu aku keluar dari lumpur ini.” Seru Doni.

Lalu Ilham pun berfikir, bagaimana caranya untuk mengeluarkan Doni dari lumpur itu. Tetapi Doni hanya bisa marah-marah untuk segera membantunya keluar. Sebenarnya Ilham sedikit agak kesal, karena Doni tidak sabar untuk menunggu. Akhirnya Ilham pun tahu bagaimana mengeluarkan Doni dari lumpur. Ilham pun berlari pergi meninggalkan Doni. Tetapi Doni berteriak memanggilnya,  mungkin menurut Doni, Ilham tidak akan membantunya. Padahal Ilham sedang mencari tongkat kayu yang panjang untuk menarik Doni keluar dari lumpur itu.

Beberapa menit kemudian Ilham kembali ketempat Doni terpendam dilumpur itu dengan membawa tongkat kayu yang panjang. “Aku kira kamu tidak akan menolongku.” Kata Doni. “Aku tidak mungkin seperti itu, memangnya kamu. Pasti jika aku terpendam disitu, belum tentu kamu akan membantuku” Seru Ilham dengan sinis. Tetapi Doni hanya tersenyum saja mendengar perkataan Ilham  seperti itu. Lalu  Ilham  menyodorkan tongkat kayu itu kepada Doni, Ilham pun menyuruh Doni untuk memegang erat tongkat ini. Saat Doni memegang tongkat kayu, Ilham pun perlahan-lahan menariknya dengan sekuat tenaga. Sedikit demi sedikit badan Doni terangkat dari lumpur.

Akhirnya Ilham pun dapat mengeluarkan Doni dari lumpur. Doni pun terlihat lemas saat badannya terbaring dijalan setapak sawah. “Ilham apakah kamu mau menggendongku, aku sangat lemas dan tidak kuat untuk berjalan. Ibu guru pernah berkata jika kita menolong seseorang tidak boleh setengah-setengah.” Kata Doni dengan muka memelas. Ilham pun  tidak tega melihat Doni seperti itu. kemudian Ilham berjongkok agar Doni dapat digendongnya.

“Ilham, kamu sangat baik sekali kepdaku.” Kata Doni. “Itu gunanya teman, jika kita berbuat baik pasti kita akan selalu dapat pertolongan.”Kata Ilham dengan bijaksana. “Tapi aku kan selalu jahat sama kamu. Kenapa kamu mau membantuku ?” Tanya Doni. “Karena aku tidak tega melihat orang yang sedang mendapat musibah.” Seru Ilham.

Tak beberapa lama, Ilham merasa keletihan menggendong Doni. Ilham pun bertanya kepada Doni, apa ia sudah tidak merasa lemas. Tiba-tiba Doni merintih kesakitan. Ia berkata bahwa perutnya sangat sakit sekali. Ilham pun berhenti di rumah bambu yang biasa disebut gubuk. “Perutmu kenapa Don ?” Tanyaku heran. “Perutku sakit sekali, kalau perutku sakit seperti ini, bagaimana aku bisa berjalan.” Kata Doni sambil merintih kesakitan. Ilham pun semakin bingung. Sedangkan Ilham sangat lelah sekali. Cukup lama juga Ilham menggendong Doni. Tetapi Ilham tidak tega melihat Doni kesakitan seperti itu. Akhirnya Ilham putuskan untuk menggendong Doni kembali, dalam perjalanan Doni pun tetap merintih kesakitan.
Ditengah perjalanan Doni merasa lapar ia ingin sekali makan sesuatu. Kaki doni merasakan ada yang menonjol disaku belakang celana Ilham. Dan ia pun bertanya kepada Ilham, “Apa yang berada didalam saku celanamu ?” Tanya Doni.  Ternyata itu roti Ilham, yang sengaja ia simpan untuk cemilannya. Doni pun tanpa pikir panjang meminta roti itu kepada Ilham. Ilham pun membaginya dengan syarat harus membagi dua roti itu dengannya. Doni pun mengambil roti yang berada disaku Ilham. Dengan lahap ia pun memakannya. Tetapi Ilham tidak mengetahui bahwa rotinya telah habis dimakan Doni. Padahal Ilham telah mengingatnya untuk membagi dua roti itu, tetapi Doni tidak menghiraukan ucapan Ilham. Ilham dengan niat baik sudah menggendong Doni yang kesakitan, tetapi Doni tidak tahu diri.

Tanpa sepengetahuan Ilham yang sedang menggedong Doni. Doni tertidur pulas dalam gendongan Ilham. Tanpa sadar sudah cukup jauh ia menelusuri sawah yang luas sekali. Ilham pun mersa keletihan. Dan ia memutuskan untuk beristirahat sebentar. “Don, aku sangat letih apakah kamu sudah merasa enakkan?” Tanya Ilham. Tetapi Doni tidak menjawab pertanyaan Ilham. Ternyata Doni tertidur pulas, Ilham pun mengetahuinya. “Hey Don, kamu malah enak-enakan tidur, sedangkan aku sangat cape menggedongmu sejauh ini.” Teriak Ilham. Akhirnya Doni pun bangun dan kaget mendengar teriakkan Ilham. Ilham pun mersa kesal dan ia menurunkan Doni dari gendongannya. Tetapi Doni tidak meminta maaf, tiba-tiba ia kembali merintih kesakitan. Ilham pun curiga dengan sikap Doni yang terus merintih kesakitan dan berkata bahwa badanya masih terasa lemas.

Ilham pun akhirnya beradu mulut dengan Doni, karena merasa dirinya dimanfaatkan oleh Doni yang berpura-pura sedang sakit. Saat keganduhan antara Ilham dan Doni. Tiba-tiba datang Alex, Alex tidak sengaja melewati jalan itu dan mendengarkan kagaduhan itu. Alex pun menanyakan apa yang sedang Ilham dan Doni lakukan. Ilham pun menceritakan Kejadiannya kepada Alex.

Saat mendengar itu Alex pun mengerti, ternyata Ilham hanya dimanfaatkan oleh Doni. Tetapi Doni tidak mengakuinya, ia selalu membenarkan kata-katanya sendiri. Doni tidak menerima perkataan yang diucapkan Alex, lalu ia berjalan kearah Alex untuk memukulnya. Tetapi Alex bisa menghindarnya.

Tanpa sadar Doni pun sudah terlihat tidak lemas dan bisa berjalan. Melihat itu Ilham langsung berkata, “Don, kamu bilang kamu masih sakit dan lemas, tetapi sekarang kamu bisa berjalan.” Seru Ilham. “Iya tuh benar.” Kata Alex. “Hmmmm..Aku..Aku..” Kata Doni sambil berlari karena ia sudah ketawan bahwa ia hanya memanfaatkan Ilham. Tiba-tiba saat Doni Lari begitu cepat, Doni terpeleset jalan yang licin. Ia pun merintih kesakitan dan meminta tolong kepada Ilham dan alex. Tetapi Ilham dan Alex hanya diam. Ia berkata, “Itulah akibatnya, Jika sudah ditolong tidak tahu diri” seru Ilham. “Betul..betul..betul..”Kata Ilham. Ilham dan Alex akhirnya meninggalkan Doni yang sedang kesakitan. Agar ia bisa berfikir untuk sadar dengan kelakuan yang ia perbuat.

KEKAGUMANKU

Oleh : Senandu Zanuar Biru


Ketikaku buka jendela, ku melihat Pagi yang indah. Dikala terdengarnya kicauan burung, bagaikan nyanyian yang merdu. Pepohonan yang rindang, seakan-akan bergoyang-goyang tertiup angin yang sejuk. Satu hari sudah ku berada di rumah Puun. Puun yaitu sebutan nama untuk pimpinan dari suku Baduy. Ya, aku dan teman-teman sedang berada di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Di sini kami akan berlibur dan ingin mengenal suku Baduy yang lebih dikenal suku Orang Kanekes. Karena suku ini sangat terkenal akan tradisinya.
Teringat kemarin saat perjalanan menuju Suku Baduy ini, badanku terasa remuk.  seharian  ku telusuri jalan setapak melintasi bukit-bukit, sungai, dan beberapa perkampungan.  Tetapi keletihan ku pun memberikan hasil yang cukup puas, karena aku sekarang sudah berada di kampung Cibeo, suku Baduy. Tetapi kemarin sebelum memasuki kampung ini aku dan teman-teman harus mematuhi semua adat atau larangan yang diberlakukan dalam Suku Baduy.
Sebenarnya larangan yang harus dipatuhi ini sangat membuatku kecewa, karena larangan di dalam suku Baduy ini tidak boleh membawa kamera atau pun alat elektronik lainnya dan kami pun tidak diperbolehkan untuk memakai alas kaki seperti sandal atau pun sepatu. Ada hal yang membuatku kaget, dalam suku baduy tidak boleh memakai baju dan celana yang modern seperti sekarang. Hmmm, kami pun harus berganti pakaian dengan mengenakan kain yang berwarna hitam atau putih dan tidak boleh berkerah atau pun berkancing. Untunglah Puun mempunyai persediaan pakaian Baduy, jadi kami bisa meminjamnya saat kami berada disini.
Ternyata dalam hal berpakai pun tetap saja mempunyai aturan. Benar-benar membuatku ingin kembali pulang. Tetapi aku harus turuti peraturan disini, karena semuanya harus serba alami tanpa mengikuti perkembangan jaman seperti sekarang ini. Ya, cukup ketinggalan jaman juga si menurut ku, tetapi inilah kehidupan Suku Baduy, yang masih menggunakan cara tradisional dan harus mengikuti aturan yang sudah ditentukan. Kata Puun Jika salah satu dari kami melanggar aturan, kami akan kena akibatnya yang sering disebut dalam suku baduy adalah kuwalat. Waw, sangat menyeramkan.
Ketika aku sedang mengingat perjalanan kemarin, tiba-tiba Puun memanggilku dan teman-teman yang lainnya. Aku dan teman-teman diajak pak Puun untuk melihat cara menenun. Aku pun mencobanya, dan menanyakan nama alat yang digunakan menenun, kata wanita yang sudah setengah baya itu yang kami panggil ibu Mina, alat ini adalah alat tenun gendong yang disebut pakara. Kami disini diajarkan banyak hal tentang menenun, terutama aku sangat senang bisa belajar menenun di suku Baduy ini.
Matahari sudah mulai tinggi. Perut aku pun sudah memberi isyarat, bahwa aku harus segera makan. Aku pun menyudahi membuat kain tenunku untuk segera makan. Ternyata Puun dan istrinya sudah menyiapkan kami makanan yaitu Buras Baduy. Buras Baduy adalah makanan khas suku Baduy. Dengan rasa penasaran aku pun langsung menanyakan kepada Puun. “Puun Buras Baduy ini terbuat dari apa?” Tanyaku sembari mencicipi makanan khas Baduy ini. “Buras Baduy ini terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan santan kemudian diaron lalu diberi sedikit garam, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang.” Jawab Puun. Untunglah Puun bisa menggunakan bahasa Indonesia, karena sebagian dari kampung ini berbahasa Sunda. Emmm, rasa buras Baduy ini begitu gurih dan pulen. Ternyata seperti ini makanan khas Suku Baduy...
Selesainya kami menyantap makan siang dirumah Puun, kami pun ingin pergi berkeliling kampung Cibeo. Kata Puun di dekat sini ada sungai, kami pun ingin melihat dan bermain air di sungai yang diantarkan dengan anaknya Puun yang bernama Didi. Ternyata kata Didi nama Baduy ini diambil dari nama sungai yang akan kami tuju yaitu sungai Cibaduy. Sesampainya kami di sungai Cibaduy, kami pun bermain air dengan gembira. Aku pun duduk di tepi sungai memandang begitu indah dan sempurna pemandangan ini.
Matahari sudah mulai terbenam, kami pun bergegas untuk kembali ke rumah Puun, karena kami semua menginap di rumah Puun. Kami melewati jembatan yang terbuat dari bambu-bambu yang tersusun rapi memanjang dan diikat dengan tali pengikat dari rotan untuk memperkuat jembatan ini.
Sesampainya kami di rumah Puun, aku melihat sangat ramai di dalam rumah Puun. Ternyata Sore ini akan diadakan Upacara menanam padi yang dilakukan dengan diiringi angklung buhun sebagai penghormatan kepada dewi sri lambing kemakmuran. Aku pun dan teman-teman tidak sabar untuk melihat Upacara ini. Tiba saatnya memulai upacara ini, penduduk kampung Cibeo ini berkumpul. Semua masyarakat berbondong-bondong berbaris masing-masing membawa sesajen dan diiringi alunan musik angklung yang merdu. Kami pun turut berkumpul mengikuti upacara menanam padi. Kata Puun, Upacara ini dilakukan Sebelum mulai menanam padi, penduduk disini mengadakan upacara untuk memuji Dewi Sri, yang dikenal sebagai dewi padi, agar melindungi tanah mereka. Dalam upacara ini, ada mantra-mantra yang diiringi alunan angklung dan kendang kecil. Pemain angklung bertugas membacakan mantra. Upacara ini wajib diadakan di setiap kampung.
Aku sangat terpesona melihat kemakmuran dalam lingkungan suku ini. mereka saling bergotong royong untuk melakukan upacara ini. Kebersamaan yang sangat jarang aku lihat di Kota, seharusnya penduduk Kota mencontoh suku ini, dengan nilai moralnya yang begitu manajubkan.
Suasana membaur menjadi ramai. Kami menari-nari sesuka hati saat upacara telah selesai, semua tertawa gembira melihat salah satu dari teman kami memperlihatkan keahliannya menari. Guntur memperlihatkan kepiaawaiannya dalam dance, dan Guntur pun mengajak penduduk untuk mengikuti gaya yang ia tunjukkan. Kami  semua bergembira, karena kelucuan yang kami lihat dari penduduk suku ini.
Hari sudah semakin gelap kami pun dan penduduk yang lainnya mengakhiri kegiatan dance kami. Semua serempak mennuju rumahnya masing-masing. Aku pun bergegas segera kerumah Puun dan segera mandi, aku baru mengetahui aturan mandi disuku Baduy. Bahwa kita tidak boleh memakai sabun atau pun pasta gigi, itu sudah menjadi aturan.Ya, karena suku ini menggunakan yang alamiah saja. Begitu kata Puun. Aku pun mandi hanya menggunakan air dan tidak memakai sabun. “Hmm, apakah bersih mandi seperti ini ?” Tanya dalam benakku.
Sesudah mandi aku dan kateman-teman kembali berkumpul di ruang tengah rumah Puun. Kami pun dihidangkan makan malam, tak lama Andi langsung bergegas melahap makanan yang sudah di hidangkan oleh istri Puun. Sangat rakus sekali temanku yang satu ini, sangat memalukan di depan Puun. Tetapi kami tertawa melihatnya, saat Andi berkata, “Perutku sudah keroncongan tau!” Dengan nada yang agak sedikit sinis. Kami semua sangat lahap menyantap makanan ini, walaupun hanya sayur dan ikan yang dihidangkan.
Ketika kami sedang menikkmati makan malam, tiba-tiba ada seorang berteriak memanggil Puun. “Puun,,Puun,,Puun,,,”. Segera mungkin Puun pun bangun dari duduknya dan menghampiri teriakkan itu.
“Aya naon ieu ?” Tanya Puun dengan kaget.
“Itu kambing urang aya nu nyokot Puun ?” Jawab Pak Suko dengan cemas.
            Aku dan teman-teman keluar dan ingin mengetahui apa yang terjadi. Kata Guntur yang mengerti bahasa Sunda itu artinya bahwa kambing Pak Suko ada yang curi. “ Haaah !” Kami pun kaget mendengarnya. Ternyata disini juga ada pencuri, aku pun tak percaya. Kemudian Puun pun mengumpulkan penduduk untuk menanyakan apakah ada yang melihat kambing Pak Suko. Tetapi mereka semua tidak melihat. Lalu kami dan para penduduk berkeliling kampung dan mengecek satu persatu rumah penduduk untuk melihat ternak mereka. Saat pencarian berlangsung aku mendengar suara kambing tak jauh dari tempat aku berdiri, kira-kira 8 meter dari semak-semak rerumputan yang berada disudut kanan. Aku pun meminta Guntur menemaniku untuk menhampiri suara kambing itu, aku pun melihat seseorang yang sedang memegang tali. Semakin aku dan Guntur dekati orang itu berlari, aku pun serentak berteriak, “Maling..maling...”. Semua penduduk menhampiri suara teriakkanku, lalu segera mengejar pencuri itu, semua berpencar untuk mengepung pencurinya. Pencuri itu meninggalkan kambing yang ia ambil dari kandang Pak Suko di Semak rumputan. Aku dan Guntur membawa kambing itu ke rumah Puun untuk diijadikan bukti. Beberapa lama kemudian Puun dan penduduk lain berhasil menangkap pencuri. Puun pun mengadili pencuri itu, Kenapa ia bisa sampai mencuri kambing Pak Suko? Padahal suku ini sudah ditentukan aturan bahwa yang melanggar aturan yang ada. Akan mendapat Kuwalat atau hukuman. Pencuri itu pun yang mendapatkan hukuman dan diberi peringatan. Selain itu pencuri mendapat peringatan berat, ia akan dimasukan ke dalam lembaga pemasyarakatan (LP) atau rumah tahanan adat. Tanpa pikir lagi pencuri itu pun diantarkan ke rumah tahanan adat untuk menjalani hukuman yang telah ia langgar.
Aku pun dengan penasaran bertanya kepada Puun. “Puun, untuk berapa lama pencuri itu harus menjalani hukumannya?” Tanyaku. “Ia akan menjalani hukuman selama 40 hari berada dirumah tahanan adat, jika hampir bebas akan ditanya kembali apakah dirinya masih mau berada di Baduy Dalam atau akan keluar dan menjadi warga Baduy Luar.” Jawab Puun dengan teggas. Hukuman yang masih ringan menurutku, tetapi aturan yang sudah ditetapkan sangat berlaku sekali dan tidak bisa ditawar.

Kamis, 22 Desember 2011

KALUNG BIRU DARIMU

Oleh : Senandu Zanuar Biru


Panasnya matahari membuatku malas untuk berangkat sekolah. Ya, hari ini aku masuk siang. Engga tau kenapa hari ini aku malas banget pergi sekolah, ingin di rumah saja. Tapi masa aku engga masuk, aku kan pengen ketemu sama Yudha.
Ya, Ardiansyah, orang yang menurutku ganteng, cool dan bermata sipit. Dia adalah pacarku, aku sudah menjalin hubungan selama 5 bulan. Setiap bulan hari jadi kita, Ardi selalu kasih surprise untukku. Dia selalu memberi aku boneka, bunga dan coklat. Itu hal yang membuatku bahagia jika bersamanya. Tapi aku tidak tahu bulan ini yudha akan kasih aku surprise apa ia ?
Upz, aku malah mengkhayal saja. Lalu aku bergegas siap-siap untuk berangkat sekolah. Walaupun sedikit bermalas-malasan, aku naik angkutan umum untuk sampai ke sekolah. Diangkot pun aku terlihat tidak semangat, lemas seperti orang yang sedang sakit. Padahal aku baik-baik saja, aku tidak tahu kenapa seperti ini.
Hanya sekitar 20 menit aku sudah sampai di depan sekolah. Ya, sekolah ku tidak begitu jauh dari rumah. Kemudian aku masuk ke gerbang sekolah dan menuju ruang koperasi. Ruang koperasi seperti ruang basecamp untuk aku dan teman-teman, karena kita sering kali berkumpul diruang ini. Tak lama sesampainya aku di koperasi, tiba-tiba syifa adik kelas aku menghampiri.
“Kak, nanti sore pulang sekolah pasti kak Yudha mau ngomong sesuatu sama kakak.” Katanya dengan nada yang serius.
“Mau ngomong apa dia sif ?” Tanyaku dengan penasaran.
“Nanti juga kakak tau sendiri” Jawabnya sembari melambaikan tangannya untukku.
“Hey, Syifa mau kemana? Jawab dulu pertanyaanku.” Kataku sambil memanggil Syifa tetapi dia pergi begitu saja.
Aku sejenak terdiam, dan masih memikirkan perkataan Syifa tadi. Aku engga ngerti apa yang dimaksudnya tadi. Tiba-tiba hati ini berdetak kencang, sepertinya hal yang tidak aku inginkan akan terjadi. Selintas aku berfikir, apa mungkin yudha akan ? Ah, mungkin syifa hanya bercanda. Dia kan memang suka jail anaknya sama kakak kelas yang lainnya. Tetapi pikiran negatif itu datang kembali ke otakku, sumpah mumet banget pikiran aku saat ini. aku hanya bisa diam. Tiba-tiba teman aku datang mengagetkanku.

“Dooor” Teriaknya intul dikupingku
“Eh, copot-copot” kagetku
“apa yang copot si Za? Hahahaa.” Tanya intul dengan nada ngeledek.
“Ih apa-apan si loe, kerjaannya Cuma bikin kaget gw aja” Jawabku dengan nada jutek.
“Wih, santai cuy. Lagi kenapa loe ?” Tanya Intul agak sedikit bingung
“Bingung.” Jawabku dengan nada galak
Intul adalah sahabat aku, dia sangat perduli dengan semua masalah yang aku hadapi. Intul pun terus menanyakan hal yang sedang terjadi padaku. Lalu aku menceritakan perkataan syifa adik kelasku kepada intul.
“Mungkin dia cuma ngerjain loe aja kali Za.” Kata intul dengan nada meyakinkan
“Tapi, engga mungkin tul, pasti ini beneran. Gw yakin banget”. Kataku dengan serius.
            “Atau mungkin Yudha mau kasih surprise buat loe.” Kata intul
“Masa si, Ardi kalau kasih surprise ke gw engga gini tau caranya.” Kataku
Aku pun kembali bercerita dengan sahabatku itu. ya, curhat colongan sebelum masuk kelas. Sudah hampir setengah jam aku bercerita dengan intul. Tetap saja perasaan aku tidak enak. Lalu aku pun memutuskan untuk izin dari sekolah. Aku meminta tolong kepada intul untuk absenkan aku hari ini.
“Uuuuhh, kok gue jadi mumet gini ia tul”. Kataku dengan raut wajah yang kusut.
“Ya ampun udah deh, kaya gini aja loe sampai stres gitu. Biasa aja dong, pikirin pelajaran bukan cowok loe pikirin.” Kata intul dengan nada yang agak galak.
“Namanya juga lagi mumet tul, izinin gw ia tul. Malas sekolah ni gw. Please.” Kataku agak sedikit memohon.
“Ah, loe terlalu diambil pusing banget si, terserah loe deh.” Jawab intul
“Intul baik deh makasih ia.” kataku sambil memeluk intul.
Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Ya, dari pada aku engga konsen saat belajar dikelas lebih baik aku pulang saja. Saat perjalanan pulang aku tetap memikirkan hal yang sama. Ya ampun, kenapa si kata-kata adik kelasku masih terngiang ditelinga. Hmmm, membuat aku kesal dan boring.
Ketika aku sampai dirumah, aku langsung membuka pintu rumah. Aku melihat ibu sedang menyetrika baju, ibu kaget melihat aku pulang begitu cepat hari ini.
“Kok kamu sudah pulang jam segini?” Tanya ibu dengan bingung.
“Ia bu, tadi aku sampai sekolah ngerasa engga enak badan. Terus aku memutuskan untuk pulang dan izin sekolah”. Jawabku
Setelah ibu menanyakan itu, lalu aku bergegas ke kamar. Aku pun melempar tas, kemudian aku membanting badanku ke tempat tidur. Hmm, perasaanku kembali tidak tenang seperti dihantui rasa takut. Aku bingung, aku coba ingin melupakan hal itu, tapi tidak bisa. Aku pun mencoba untuk tenang dan memejamkan mata ini sejenak. Tapi tiba-tiba handphone ku berdering, seperti ada sms masuk. Lalu aku pun mengambil handphone ku yang berada di dalam tas. Ku buka tas aku kemudian mengambilnya dan segera aku membaca sms itu. Ternyata itu sms dari Hendra temannya Ardi. Hendra menanyakan kenapa aku hari ini tidak masuk sekolah. Hmm, pikirku kenapa bukan Ardi yang sms. Kenapa harus temannya ! Lalu aku pun membalas sms hendra. Beberapa menit kemudian hendra pun membalas sms aku dan dia bilang.
“Oh, Ya sudah kalau gitu, nanti yudha mau kerumah loe. Katanya dia mau ngomong sama loe.” Sms dari Hendra
Aku pikir benar juga apa yang dikatakan syifa tadi, Ardi mau ngomong sesuatu sama aku. Dia mau ngomong apa ya ? Hari ini perasaan aku benar-benar tidak tenang. setiap yang aku lakukan selalu salah, mondar-mandir engga jelas. Aku hanya bisa melihat jam terus menerus, dan menunggu kedatangan Yudha.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, sepertinya sudah jam bubar sekolah. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang, kupingku pun terasa panas. Kata ibu, Kalau kuping kita panas berarti ada yang sedang membicarakan kita. Apa mungkin Ardi sedang membicarakan aku. Huuu, pikiran aku terlalu mengada-ngada. Tak lama di luar rumah seperti ada orang yang mengucapkan salam. Pikirku pun langsung kepada Ardi, pasti yang mengucapkan salam itu Ardi. Aku pun perlahan-lahan membuka pintu dan segera melihat orang yang mngucapkan salam. Ternyata benar firasat aku, orang yang megucapkan salam itu Yudha. Dia tersenyum melihat aku keluar, kemudian aku menghampiri Ardi. Aku mempersilahkan dia duduk dikursi depan rumah. Suasana menjadi sangat kaku, seperti aku baru mengenal Ardi saja. Akhirnya Ardi pun menanyakan kenapa aku tidak masuk sekolah tadi, aku pun menjawab bahwa aku merasa tidak enak badan siang tadi. Tiba-tiba suasana menjadi diam sejenak, aku pun langsung menanyakan kepada Ardi hal yang ingin dia bicarakan kepadaku. Tetapi Yudha hanya diam, seperti bingung ingin mulai bicara dari mana.
“Tau engga kamu, aku sayang banget sama kamu. Aku selalu kangen sama kamu, ingin rasanya setiap hari berada disisi kamu. Dari sejak pertama kita kenal dan menjalin hubungan. Rasa sayang aku selalu bertambah untuk kamu. Tapi ternyata semua engga semulus yang aku bayangkan ...” Kata-kata Ardi yang membuatku bingung.
“Kenapa?” Tanyaku.
Ardi hanya tersenyum kecil, melambangkan sesuatu yang mungkin buruk untukku. Dan Ardi memberikan sekotak kecil yang dibungkus kertas warna biru bergambar kelinci.
“Itu hadiah untuk kamu, sebagai hari jadi kita yang ke 5 bulan, terima kasih selama ini kamu udah mengis hari-hari yang sepi menjadi bahagia. Aku engga akan lupain semua tentang kita. Semua itu menjadi cerita dalam kehidupanku” Perkataan Ardi
Tapi aku bingung dengan semua ucapan yudha, seperti kata-kata perpisahan yang ia ucapakan untukku. Aku hanya diam dan bimbang, sebenarnya ada apakah ini ? Dalam pikiran ku bertanya-tanya. Tanpa sadar air mataku jatuh membasahi pipi ini, semua begitu terlalu cepat untuk diucapkan. Ardi pergi begitu saja, meninggalkan aku dalam kesedihan yang sangat mendalam. Ia meninggalkanku tanpa memberikan kejelasan yang pasti tentang pa yang ia ucapkan untukku.
Ku buka sekotak kecil pemberian dari Ardi. kemudian ku lihat apa yang ada di dalam kotak itu. ternyata kalung yang bermata warna biru. Itu kalung yang aku inginkan saat jalan bersama Ardi waktu itu. semua itu menjadi kenangan dan cerita dalam kehidupanku.

Selasa, 06 Desember 2011

KISAH HIDUP SI PEMULUNG

Oleh : Senandu Zanuar Biru
Pagi yang indah dikala aku membuka mata, kuhirup udara sejuk ini. Begitu tenang jiwa ragaku ingin sekali suasana pagi terus seperti ini, tetapi semua yang ku bayangkan tidak akan menjadi nyata. Aku hanya seorang anak pemulung yang tinggal di kolong jembatan. Hanya berbekal kardus dan tas yang lusuh  untuk aku pakai sebagai alas tidur.  Aku tinggal bersama ibu, adik kecilku dan orang-orang yang berstatus sama seperti aku. Ya, sekitar lima belas orang yang tinggal ditempat kumuh ini. Mereka hanya berbekal seadanya sama seperti aku.
Aku berumur 17 tahun dan adikku 5 tahun. Sudah lama aku dan mereka terbuang di tempat ini, sangat mudah untuk disingkirkan. Ditengah ketidakadilan dalam hidup, bertahan menerima keadaan dan berjuang untuk hidup. Aku dan mereka bukan pemalas yang ingin mendapatkan belas kasih dari orang-orang. Tetapi aku hidup seperti ini adalah cobaan yang sudah di takdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Aku hanya menerima dengan ikhlas, walaupun hati ini kadang ingin memberontak. Kenapa aku tidak bisa seperti orang yang layak untuk hidup didunia ini. kadang hati ini ingin marah kepada sang pencipta, tetapi ibu selalu memberikan nasehat yang bijaksana kepadaku.
“ Nak janganlah kamu sesali hidup seperti ini, kita harus mensyukuri segala nikmat yang sudah diberikan oleh YANG Maha Kuasa”. Kata-kata itu selalu aku ingat, dan hanya ibu yang dapat mencairkan suasana hatiku menjadi tenang.
Kehidupan ini sudah lama aku jalani, tidak ada perubahan sama sekali. Tetap saja yang aku kerjakan setiap harinya memungut sampah-sampah yang dapat aku jual kembali ke lapak barang bekas. Dengan berbekal tas keranjang dan sarung tangan. Aku bukan pengemis yang selalu meminta-minta kepada orang-orang yang lewat dihadapanku. Mereka selalu memandang diriku sebelah mata, yang mereka tahu aku hanya orang yang tak pantas berada dekat mereka. terkadang aku sangat sedih dengan kehidupan ini, aku lelah dan letih. Tetapi aku harus tegar menjalani kehidupan yang keras ini.
Saat aku berjalan mengambil sebotol aqua yang berada di tempat sampah depan sekolah, aku terdiam. Melihat anak-anak sekolah, aku ingin seperti mereka yang bisa bersekolah. Aku sama sekali tidak pernah merasakan bangku sekolah. Membaca dan meulis pun aku tidak bisa, karena keadaan lah yang membuatku seperti ini. aku sadar aku dilahirkan dari keluarga yang tak mampu. Tempat tinggalku saja bukan rumah, hanya kardus saja sebagai alas tidurku. Aku sangat iri kepada mereka, mereka bisa hidup dengan bahagia. Tapi aku sejak kecil sudah diajarkan untuk mencari uang dan menerima kenyataan hidup. Sebentar saja aku diam melihat kedalam sekolah itu, tiba-tiba orang berpakaian putih yang memakai topi mengenakan celana panjang menghampiriku. Ya, bisa dibilang ia satpam sekolahan itu. Dan ia berkata “ Hey, kamu pergi sana !”. ia mengusirku dengan nada suara yang kasar, seakan-akan aku sangat hina dan tak pantas untuk masuk kedalam. Mungkin karena pakaian yang aku kenakan compang camping dan sangat kotor. Lalu aku pun pergi tetapi mata ini masih tertuju kedalam sekolah itu.
Ketika aku kembali pulang, aku hanya diam dan meletakan tas keranjangku disamping tumpukan sampah yang sudah didapati ibu. Tiba-tiba ibu bertanya kepadaku.
“kamu kenapa nak ? ko terlihat lemas ?”. tanya ibu sambil merapikan botol-botol bekas.
“Aku tidak apa-apa bu”. Jawabku
“Ya sudah kalau begitu tolong jaga adikmu, ibu mau menjual barang bekas ini ke lapak”. Kata Ibu dengan nada lemah lembut.
“iya bu”. Jawabku sambil menghampiri adikku.
Saat ibu pergi aku pun bercanda tawa dengan adikku, satu hal yang membuatku sangat sedih. Ketika adikku bertnya kepadaku :
 “Kak, kenapa kita tinggalnya disini ? Kenapa kita tidak punya rumah seperti itu. Aku ingin tinggal dirumah, terus punya banyak mainan juga”. kata-kata itu membuat aku meneteskan air mata, aku hanya bisa diam dan memeluk adikku.
Tak lama ibu sudah pulang dan melihat aku meneteskan air mata. ibu kembali bertanya kepadaku, tapi aku hanya diam. Saat itu adikku yang menjawab, ia bilang kepada ibu. “Kakak menangis saat aku bertanya kenapa kita tidak punya rumah? Aku ingin memiliki rumah dan mainan yang banyak bu, tapi kakak tidak menjawab pertanyaan aku”. Mendengar perkataan adikku ibu tersenyum kecil, senyuman itu memiliki makna yang dalam. Ibu selalu mengeluarkan kata-kata yang bijaksana. Ibu bilang kepada adikku, suatu saat nant pasti kita akan memiliki rumah nak. Jika Alah sudah mengizinkan kita untuk pindah dari tempat ini.

Tugas 3 Penpop

Jumat, 02 Desember 2011

MENUNGGU

Oleh : Senandu Zanuar Biru
Pagi  yang cerah, ketika aku pertama masuk gerbang kampus dengan mengendarai sepeda motor metik berwarna biru. Tertegun heran saat melihat antrian panjang untuk mengambil kartu parkir. Hmm.. seperti antri membeli tiket saja yang harus berbaris panjang untuk dapat masuk ke bioskop. Barisan aku cukup jauh kurang lebih lima belas meter dari dua orang yang memberikan kartu parkir dan ia  memakai seragam yang sama, bisa dibilang ia satpam ditempat saya kuliah.
Merasa risih saat Orang yang antri dibelakang aku selalu membunyikan klakson, seperti ingin menyerobot dan tidak sabar untuk antri bergantian. Aku menoleh ke belakang dan ingin tahu siapa orang itu. Selintas melihatnya dengan sepeda motor ninja berwarna biru dan memakai helm yang berkaca hitam. Aku diam sejenak memperhatikan orang itu dengan jaket yang tebal dan celananya agak dibuatnya ketat, seperti celana yang dikenakan salah satu grup band yang katanya si celana itu disebut celana pensil. Entah lah, tapi disisi lain agak sedikit mengerikan saat melihat ada gambar tengkorak didepan jaketnya tersebut. Seperti preman saja, sungguh mengerikan.
Antrian panjang itu pun sudah mulai sedikit, aku pun sudah mendapat kartu parkir. Dan segera untuk mencari tempat parkir motor, terkejut sekali ternyata banyak motor yang berbaris tersusun rapi. Tanpa sadar ternyata ramai sekali disekeliling kampus, saat mahasiswa lalu lalang disetiap area dan di gedung kampus. Tampak dari luar lantai 4, 5 dan 6 ada beberapa mahasiswa yang memperhatikan setiap mahasiswa yang mengendarai motor, terdengar samar-samar dikuping aku ada suara siul dari arah yang tak jauh dari tempat parkir motor kira-kira sepuluh meter. Ternyata mereka segerombolan mahasiswa yang sedang asyik nongkrong di tangga dan menggoda cewek-cewek yang lewat disekitar mereka. Entah lah apa maksud mereka seperti itu, tak aku perdulikan.
Aku berjalan menuju gedung Auditorium, dan tak aku sangka baru aku melihat depan gedung ternyata harus mngantri lagi untuk masuk lift. Hal yang paling sangat menyebalkan, dan tidak mungkin aku harus naik tangga. Aku saja menuju lantai 6, buat aku sangat begitu melelahkan jika harus menaiki tangga. Makin lama mahasiswa berdatangan suasana pun semakin ramai, sedangkan hanya ada tiga lift. Aku langsung menarik nafas, seakan-akan sedikit kesal dan malas harus menunggu lama.

Cukup lama aku menunggu lift dan akhirnya Lift sebelah kanan terbuka, aku dan mahasiswa lainnya langsung menyerbu dan berdesak-desakan untuk dapat masuk lift itu. Aku pun akhirnya dapat masuk, tetapi di dalam lift terasa begitu sempit dan sumpek. Sangat berdesakan sekali, aku merasa asing di dalam lift ketika ada salah satu orang yang mungkin buat aku merasa terganggu. Dengan badan yang lumayan gemuk, wanita itu sangat ribet sekali dengan tasnya yang cukup besar, entah pa yang berada di dalam tasnya. Di tangan kirinya ia memegang buku, kira-kira 3cm tebal buku itu. Sedangkan, di tangan kanannya sedang asik menekan tombol-tombol hp, seperti sedang ketik pesan untuk seseorang. Dan yang anehnya lagi di dalam lift sudut pojok sebelah kiri, seorang cowok yang berpakain kemeja dan jeans begitu tampak kumel dengan rambut yang seperti sarang burung. Orang itu bersandar di dinding lift dan memejamkan mata, seakan-akan masih merasakan ngantuk yang melandanya. Dan kepalnya selalu mirng arah kiri dan kanan. Suasana dalam lift membuat aku ingin tertawa, dengan apa yang dilakukan mahasiswa. Ada yang asik berbincang-bincang dengan temannya, yang berada disudut pojok sebelah kanan asik dengan hpnya yang dipegangnya dan ditempelkan ke kupingnya. Seperti sedang menelfon, dan ada juga sedang asik membaca buku novel yang seingat aku novel itu pernah aku baca sebelumnya. Aku sendiri merasa heran dan bingung berada di tengah-tengah mereka, berbagai aktivitas yang ia lakukan di dalam lift.  Tetapi aku hanya bisa tersenyum kecil.
Satu persatu mahasiswa di dalam lift keluar menuju lantai yang ia tuju. Sedangkan aku orang terakhir di dalam lift untuk menuju lantai 6. Akhirnya aku melangkah keluar lift dan menuju kelas aku, untuk sampai ke kelas aku melewati dua ruang kelas. Sepertinya kelas mereka sudah mulai belajar, dengan dosen yang sedang berdiri di hadapan mahasiswa. Ya, seperti menjelaskan materi yang di bawakan dosen itu.
Sampai depan kelas tampak begitu gelap kelas 630. Aku membuka pintu ternyata benar, teman-teman aku belum ada yang datang. Langsung aku nyalakan lampu, dan aku duduk paling depan. Dengan bangku yang masih tersusun rapi, tidak lama aku merasakan sangat dingin sekali kelas ini. Tampak Acnya menyala dengan suhu yang paling dingin. Seketika itu pula aku membiarkan dingin ini, lalu aku mengambil buku untuk membaca. Sampai menunggu dosen dan teman-teman datang.
Tugas 2 PenPop

Selasa, 29 November 2011

OPERASI


 Oleh: Senandu Zanuar Biru
Sabtu pagi yang cerah kuhirup udara yang sangat sejuk, ya ini waktunya weekand, dan aku pun harus pergi ke suatu tempat, bersama kedua orang tua ku. Pukul 08.30 kami berangkat ke tempat yang berada di daerah Cipondoh-Tangerang. Lumayan jauh untuk sampai ke sana.
Akhirnya sampailah kami di tempat itu. Perlahan ku dorong pintu kaca dan segera masuk ke sana. Gedung ini beraroma aneh dan dipenuhi orang-orang yang takku kenal. Ku lihat orang-orang sibuk mengantri panggilan untuk dapat masuk ke sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat seorang pria berjas putih dengan berbagai macam peralatannya.
Aku melanjutkan perjalananku berkeliling ruangan. Kini aku menuju ke ruang kecil yang mengantarku ke lantai atas, di dalamnya terdapat orang yang duduk di kursi roda dengan kakinya terbungkus kain berwarna putih. Sungguh mengerikan. Lalu sampailah aku di lantai empat gedung ini. Aku masuk ke dalam ruangan bersekat-sekat. Ku lihat seorang wanita tua terbaring lemah di atas kasur dengan tangan ditempelkan pada selang-selang dengan botol tergantung di tiang sampingnya. Pandanganku kembali berpusat pada wanita yang baru saja datang, membawa sebotol obat dan alat untuk menyuntik. Aku langsung merinding ketakutan. Untung saja aku salah ruangan.
Sudah hampir pukul 11.00 ibu dan bapak mengajakku bergegas mencari ruangan Anggrek 401. Hmm.. Ruangan Anggrek, dari namanya ruangan itu pasti menyenangkan pikirku. Tapi ternyata, ruangan ini sama dengan ruangan lainnya. Datanglah seorang pria memakai kemeja berwarna biru dengan jas putih, gagah sekali. Tiba-tiba jantungku berdebar lebih kencang. Entahlah, aku tiba-tiba takut. Kali ini seorang wanita berbaju putih menghampiriku. Ia menyuruhku rileks. Tiba-tiba saja ia menyuntikku, aku pun pasrah dengan meringis ketakutan. Ooh Tuhan... mereka benar-benar membuat jantungku berdebar-debar. Tiba-tiba ia berkata “operasi akan dilakukan besok jam 08.00”. Ya Tuhan jantung ini semakin berdebar kencang. Tidak ini pasti salah, pasti salah. Apa yang ia katakan pasti salah besar. Siapakah yang akan di operasi ? aku rasa aku baik-baik saja.
Selesai pemeriksaan aku masih memikirkan perkataan itu. Aku merasa ketakutan jantung ini tidak berhenti berdebar kencang, lalu aku dan orang tua ku menuju ruang tunggu untuk menunggu hasil pemeriksaan tadi. Di ruang itu juga banyak pasien yang sedang menunggu hasil pemeriksaannya, satu persatu nama pasien di panggil oleh perawat untuk mengambil hasil pemeriksaan mereka. Hampir satu jam aku menunggu hasil pemeriksaan, kemudian nama aku pun di panggil oleh perawat. Lalu ayah bergegas mengambil hasilnya. Aku masih tidak mengerti kenapa aku  harus dibawa untuk periksa. Ah, mungkin ini cuma untuk memeriksa kesehatan aku saja. Aku dan orang tuaku pun menuju parkiran mobil dan menuju ke rumah.
Sesampainya di rumah aku bertanya kepada orang tuaku.
“Ibu, memang aku sakit apa ? kenapa aku harus diperiksa tadi ?” tanya aku saat memasuki rumah.
“Itu hanya pemeriksaan biasa saja kok nak” jawab ibu.
“Tapi kenapa tadi dokter berkata besok akan dilaksanakan operasi bu? Siapa yang akan dioperasi ?” tanya aku.

Ibu tidak menjawab pertanyaanku, ibu hanya diam dan pergi menuju kamarnya. Aku pun termenung. Kenapa ibu tidak menjawab pertanyaanku? Ibu membuat aku sangat bingung. Sedangkan aku tidak boleh melihat hasil pemeriksaan tadi. Padahal aku ingin tahu sekali, apalagi saat dokter berkata besok akan dilakukan operasi. Aku terus memikirkan hal itu. Sampai aku tidak bisa tidur karena dalam benakku masih betanya-tanya. Sebenarnya penyakit apa yang ada pada diriku ? hmm.. waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 mata ini pun belum bisa dipejamkan sama sekali, setiap aku ingin memejamkan mata ini, selalu saja perkataan dokter itu  terngiang ditelingaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Entahlah, aku pun berusaha untuk memejamkan mata ini.
Jarum jam menunjukkan tepat 06.00 pagi alarm di meja belajar ku pun berbunyi keras, membuat aku terbangun dari tidur. Dalam pikiranku terus memikirkan hal yang membuat aku takut. Tapi aku bergegas mandi. Selesai aku mandi ibu menyuruhku untuk sarapan.
“Nak, sarapan dulu nanti kita berangkat ke rumah sakit” kata ibu sambil menyiapkan roti untukku.
“Untuk apa bu kita ke rumah sakit lagi ? Apakah yang akan dioperasi itu aku ?” tanya ku dengan raut wajah yang bingung.
Tapi kembali ibu hanya diam, dan berjalan menuju dapur dengan membawa teko. Aah, kenapa ibu selalu menghindar setiap aku bertanya. Mungkin nanti aku akan tahu jawabannya. Tepat pukul 07.30, ayah sudah menunggu aku dan ibu di mobil. Aku segera masuk ke dalam mobil. Saat perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu aneh, ayah dan ibu diam tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Suasana melebur menjadi sangat menegangkan. Aku merasa hal yang aneh dan tidak tenang. Ada apa sebenarnya ? pikiran ini tidak menentu. Aku pun terbawa akan suasana di dalam mobil yang hanya diam.
Saat ayah membelokkan setir mobilnya, ternyata kami sudah sampai di Rumah sakit. Kami membuka pintu mobil dan segera keluar. Tiba-tiba jantungku kembali berdebar kencang. Saat memasuki Rumah sakit, aku mencium aroma yang aneh ini lagi. Hmm, membuat aku pusing. Aah, aku tidak suka aroma ini. Ingin rasanya aku pulang ke rumah. Tetapi ayah dan ibu memegang tanganku erat. Aku semakin tidak mengerti dan di buat penasaran. Lalu ayah dan ibu bergegas ke sebuah ruangan, aku hanya menunggu di ruangan yang aku tidak tahu, tetapi aku melihat tulisan yang menempel didinding yang bertulis Ruang tunggu. Ya, ternyata ini ruang tunggu. Aku duduk dan merasakan hal yang aneh, aku melihat ke arah kanan dan kiri. Banyak orang yang lalu lalang di hadapan aku duduk. Ada pasien duduk di kursi yang dibawah kaki kursi itu ada 4 roda yang bisa di jalankan kesana-kemari. Ya, itu kursi roda. Aku merasa kasihan melihatnya, dengan tangan yang di bungkus kain putih dan kaki yang ku rasa panjangnya berbeda dengan kaki kanannya. Ya Tuhan, kaki orang itu ternyata buntung. Aku merasa kasihan, semoga ia tabah dengan keadaannya sekarang.
Ketika aku sedang memperhatikan orang itu, ibu dan ayah keluar dari ruangan dokter. Lalu mengajakku ke ruang UGD, ketika aku berjalan melewati ruang Anggrek 405 pandanganku melihat pada jendela ruang itu, Di dalam ruang itu aku melihat wanita tua yang terbaring lemah di atas kasur. Bukankah wanita itu yang kemarin aku lihat? Ya, benar sekali ternyata wanita itu yang sempat aku lihat saat aku salah masuk ruangan. Ketika aku melihat sosok wanita itu kembali, aku merasakan hal yang lain. Kenapa hati ini rasanya ingin sekali dekat dengan wanita tua itu ? Ada perasaan yang sangat berbeda. Ternyata wanita itu melihat ke arah ku juga. Wanita tua itu tersenyum melihat ku, aku pun membalas senyumannya.
Terhentak kaget ketika ayah memanggilku untu segera berjalan menuju ruang UGD, tetapi pikiran aku tertuju pada wanita tua itu. Ah, mungkin ini hanya perasaan kasihan saja melihat wanita itu sakit. Aku meneruskan jalanku menuju ruang UGD, ketika aku membuka pintu aroma aneh ini masih tercium. Seperti bau obat yang sangat menyengat membuat aku tidak betah berada di ruang ini, ketika aku baru saja duduk tiba-tiba wanita berpakaian putih menghampiriku. Ia menyuruh aku untuk berbaring di tempat tidur, aku bingung dan kaget. Untuk apa aku harus berbaring di tempat tidur ini. Aku pun memanggil ayah.
“Ayah, kenapa aku harus berbaring di tempat tidur ini ? aku tidak sakit ayah” kata ku bingung.
“Maafkan ayah dan ibu nak, seharusnya ayah memberitahukan kamu sejak awal. Tapi ayah takut kamu tidak bisa menerima semua ini.” Jawab ayah dengan nada yang pasrah.
“Sebenarnya ada apa ayah ? aku tidak mengerti”. Tanyaku kembali kepada ayah dengan penasaran.
“Ruang Anggrek 405 yang kamu lihat tadi itu adalah ibu kandungmu nak”. Jawab ayah sambil mengeluarkan air mata.
“ Haaahh...”kataku dengan perasaan yang tidak percaya apa yang telah diucapkan kata ayah.
“Dulu ibumu sering sakit-sakitan, ayah tidak tahan dengan keadaan ibumu saat itu. Lalu ayah menceraikan ibu saat sedang mengandung kamu 8 bulan. Ketika itu ayah menikah lagi , saat ibumu melahirkan ayah mengambil paksa kamu. Karna ayah tidak mau kamu di asuh ibumu yang sering sakit-sakitan. Ketika 2 minggu lalu ayah mendapat kabar kalau ibumu dirawat di Rumah sakit ini. Dia terkena penyakit gagal ginjal, kemarin kita periksa ke sini untuk mengetahui apakah ginjal kamu cocok dengan ibumu. Ternyata hasilnya positif cocok, ayah dan ibu akan memberitahukan kamu saat operasi sebelum dilaksanakan. Maafkan ayah dan ibu nak, telah merahasiakan semua ini. Apakah kamu mau mendonorkan ginjal untuk ibumu?” kata ayah sambil memegang tanganku dengan meneteskan air mata.
“Apakah ini benar ayah ? kenapa ayah baru cerita sekarang, mengapa ayah merahasiakan ini semua. Aku ingin bertemu ibu ayah sebelum operasi dilaksanakan” kataku sambil mengusap air mata yang jatuh membasahi pipiku.
“Ia nak, kamu boleh bertemu ibumu” jawab ayah.
Aku lalu bangun dari tempat tidur, segera membuka pintu dan aku pun berlari menuju ruang Anggrek 405 untuk menemui ibu kandungku. Aku berlari sekencang-kencangnya, hingga meneteskan air mata yang tak berhenti. Aku benar-benar tidak menyangka semua akan seperti ini, semua ini sangat mengejutkan aku. Aku tak hiraukan di sekelilingku memperhatikan aku berlari, semua aku anggap kosong. Tujuanku hanya ingin ke ruang Anggrek 405.
Kaki ini tersentak berhenti ketika berada di depan pintu ruang Anggrek 405. Aku perlahan membuka pintu itu, ternyata wanita tua yang aku lihat tadi adalah ibu kandungku. Aku segera menghampiri wanita itu yang sedang berbaring lemah di tempat tidur.
“Ibu....” panggilku sedih.
Tetapi ibu hanya tersenyum dan mengeluarkan air mata. Ternyata ibu sudah mengetahuinya, ibu menarik tanganku dan memelukku sangat erat. Aku pun tidak bisa menahan air mata ini, suasana pun menjadi sangat menyedihkan. Lalu ibu meminta maaf kepadaku, semua ia ceritakan. Aku mengerti sekarang semua ini terjadi demi kebaikanku.
“Nak, apakah kamu yakin akan menjalani operasi ini ?”tanya ibu sambil mengusapkan air mataku.
“Ya bu, aku akan tetap melakukan operasi ini. Aku ingin ibu sembuh.” jawabku
“ibu lebih baik seperti ini nak, dari pada ibu harus mengambil ginjalmu untuk ibu”.kata ibu sedih.
“ibu tidak apa-apa. Semua ini sudah menjadi keinginanku sendiri.” jawabku.
Setelah panjang lebar berbicara kepada ibu, aku pun meminta do’a kepada ibu agar opersi pengangkatan ginjalku untuk ibu berjalan lancar. Karena operasi akan segera dilaksankan, aku pun meninggalkan ibu dan menuju ke ruang UGD untuk menjalani pemeriksaan sebelum dilaksanakan operasi. Ayah dan ibu menunggu diruang tunggu. Ketika Operasi dilaksanakan akupun tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama, beberapa jam kemudian operasi selesai. Seorang pria berkemeja biru dengan berjas putih pun keluar ruangan. Ya, ia dokter yang menangani saat operasi dilaksanakan. Ia berkata kepada ayah dan ibu bahwa operasi berjalan dengan lancar dan aku dalam keadaan baik-baik saja. Ayah sangat senang mendengarkannya, segera munkin ayah memberitahukan kepada ibu kandungku yang berada di ruang Anggrek 405. Kemudian operasi ibu kandungku pun dilaksanakan hari yang sama, sementara itu aku di pindahkan ke ruang Anggrek 405. Kamar yang sama dengan ibuku. Tetapi ibu sedang menjalani operasinya, aku pun saat itu belum sadarkan diri.
Akhirnya operasi pun selesai dan berjalan dengan lancar juga, kemudian ibu dipindahkan ke Ruang Anggrek 405. Saat ibu sudah di pindahkan aku sadarkan diri, dan melihat ke arah kanan. Ternyata ibu masih belum sadarkan diri, aku pun menanyakan kepada ayah dan ibu bagaimana operasi ibu kandungku. Apakah berjalan dengan lancar ? Ia ayah menjawab dengan senang bahwa operasi aku dan ibuku berjalan dengan lancar, sekarang hanya menunggu ibuku siuman. Ketika ibuku siuman kami pun berkumpul dengan suasana yang sangat sedih hingga berbaur rasa bahagia. Aku teramat bahagia karena semua dalam keadaan baik-baik saja dan lancar.

UTS Penulisan Populer