BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »
Tampilkan postingan dengan label Noer Alfah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Noer Alfah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2012

Cinta Lama Bersemi Kembali

Oleh : Noer Alfah
“Non...non...non Lola bangun”. Dah siang nih! Hari ini jadwal non kuliah pagi. “Ia Bi, oh ia Bi jangan lupa buat nasi goreng iya, aku mau sarapan nasi goreng, terus bi mama udah telepon belom”? “ kayaknya belom non”! “ Oh...yaudah bi! Huuuuuhhhh... kayaknya udah lupa sama anaknya. Hari lahir anaknya ajha lupa. Sungguh menyebalkan. Langsung kulihat ponselku, yang sudah bedering terus dari semalam, entah itu telepon atau hanya sekedar sms. Kulihat pesan dan panggilan masuk namun tak ada satupun sms atau telepon dari mama. Semua sms dari sahabat dan teman-temanku, yang isinya ucapan ultah.
Aku lansung menuju kamar mandi, dan segera mandi. Untunglah masih ada Bik Minah yang selalu merawatku. Setelah itu aku langsung siap-siap untuk ke kampus. Sarapan juga sudah sia di atas meja. Pak Yum juga suga memanasi mobil. “Bik...bilang sama Pak Yum aku bawa mobil sendiri saja”. “ Tapi non, nanti ibu marah”! “ Udahlah Bik, gak apa-apa, mama juga udah enggak peduli lagi sama aku”.
Tiba di kampus aku langsung menghampiri Siska, yang dari tadi sudah sms, dan menungguku. Siska menunnguku di kantin kampus. “ Hi... Sis, dari tadi loe ia nungguin gue”! “ Tau... lama banget si loe, yaudah yuk langsung ke kelas aja”. Ok dah. Siska sahabatku yang paling baik. Dari SMP, sampai sekarang dia setia banget sama gue. Tiba di kelas, teman-temen gue udah rame benget, katanya ada mahasiswa pindahan dari Bandung. Aku dan Siska cuek-cuek saja, tak menaggapi semua itu.
Tiba-tiba saja Pak Doni masuk, dan lansung memperkenalkan mahasiswa pindahan yang tadi sibuk dibicarakan anak-anak. Aku dan Siska terkejut, ternyata mahasiswa yang dikenalkan Pak Doni adalah Allan, mantan kekasihku.” Yaampun Sis... kenapa si tuh anak harus nongol di depan gue, sumpah w bete banget”. “ ehmzzzz... La, bete apa seneng”? “ Hah... seneng, yang ada gue enek....”. “ Yaudah si eneknya, gak usah pake gerogi gitu”. Aku langsung cemberut. Karena Siska terus saja menggodaku. Sepertinya Allan, melirik ke arah kami, ternyata benar saja ia langsung tersenyum. Namun aku tak menghiraukan senyumannya. Berbeda dengan Siska yang malah membalas senyumannya. Allan langsung duduk di sebelahku. Deggggg! Jantungku berdebar, aku merasa sangat gerogi, apaan-apan si nih gue, kok gue jadi salah tingkah gini. Allan langsung menegurku. “ La... kuliah disini juga, sama siska” ? aku langsung menjawab sinis. “ Menurut loe”? Siska langsung nimbrung ikut ngomong. “ Ia Lan, kok loe bisa pindah”? “ Ia sis gue gak betah di sana, tapi kalo di sana ada Lola pasti gue betah”. “ cie...Allan masih seneng aja godain Lola”. “ Ih... kalian berdua kenapa si”? ssstttt....Pak Doni menegur kami. “ kalian kalu mau kenalan nanti saja setelah selesai mata kuliah saya”. Dengan sinisnya Pak Doni memarahi kami, dan selruh mata tertuju pada kami.
Akhirnya selesai juga mata kuliah Pak Doni, dan cukup juga mata kuliah hari ini. Lagi-lagi Allan mengikuti kami. Sangat yang menyebalkan, namun Siska selalu saja meledekku. “ Allan... hari inikan ulang tahun Lola”! “ Ia gue inget, oooh ia happy birth day ia La...”! “ Ia makasih”! dengan sinis aku menjawab. Lagi-lagi Siska menggodaku! “ Ehmzz...senengnya, yang masih diinget terus sama mantannya”! “Apaan si loe Sis...,ooh ia loe, mau ikut pulang sama gue, apa barng sama si Allan”? “ Yaudah gue ikut sama loe”. “ Lan gue pulang duluan ia...”! “ ok... hati-hati iya La...! aku langsung saja pergi dan tak menghiraukan ucapannya lagi.
“ La... jujur iya loe masih sukakan sama Allan”? pertanyaan Siska mengagetkanku.  “ apaan si Sis”. “ Bohong loe La kalau loe udah ngelupain Allan, dari gerak-gerik loe tuh keliatan banget kalo loe masih suka, kenapa gak jujur aja si La”! “ Ia gue masih suka sama Allan, dan gue juga belom bisa ngelupain Allan, tapi dia tega banget dulu pernah selingkuh dari gue, loe kan tau bagaimana gue putus sama Allan”. “ La sebenarnya gue mau jujur sama loe”. “ mau jujur apa La”? “tapi loe janji ia, loe jangan marah ia La, kalau gue udah cerita”. “ Ia gue janji”.
 “ La sebenarnya Allan pindah ke sini emang udah rencana gue sama dia, tepat di hari ulang tahun kamu, dia masih sayang banget sama loe La, sebenarnya dia gak pernah selingkuh, soal photo itu dia tak pernah tau, yang dia ingat waktu itu dia tertidur di taman, terus dia enggak tau apa-apa lagi, dan sekalipun loe gak pernah dengerin kata-kata dia, Allan lebih memilih pindah ke Bandung dari pada dia harus inget Loe terus. Dia sayang banget sama Loe La...”! “ Masa si Sis, kenapa loe gak pernah cerita sama gue,”? Allan yang ngelarang gue La, buat cerita sama loe, kata dia bagaimana waktu yang berjalan saja”!
Setelahku tau cerita dari siska, aku begitu merasa bersalah. Andai saja aku dulu percaya kata-katanya mungkin gue masih sama Allan sekarang. Ihhh... mikir apa si aku.
Sekarang hubunganku dan Allan sudah baik lagi, walau kami tak pacaran namun kami berteman dengan baik. Namun... perasaan ini semakin aneh, aku selalu merasa cemburu jika Allan dekat dengan wanita lain kecuali siska. Aku juga selalu berharap Allan mengajak balikan, dan memperbaiki hubungan kita. Namun sepertinya tak mungkin.
Sudah setahun Allan pindah ke Jakarta, karena hari ini tepat hari ulang tahungku yang ke dua puluh satu. Tahun ini adalahh ulang tahun paling menyenangkan. Karena orang tuaku merayakan ulang tahunku. Walaupun acaranya tak begitu meriah, namun aku begitu bahagia. Tapi... di mana Allan? Dari tadi aku tak melihatnya, kutanya Siska dia juga tidak tau. Apa mungkin Allan lupa, sama ulang tahun gue, tapi gak mungkin, Allan selalu inget. “ La, kenapa gak dipotong kuenya, mamah menegurku, teman-teman yang lain udah nungguin tuh La”. “ Ia mah”. Potongan kue pertama kuberi pada Siska, sahabat terbaikku”. Acara sudah hampir selesai namun Allan kenapa belum datang?
“La, kenapa cemberut aja”? Allan belum dateng ya La..., mungkin dia lagi di  jalan”. “ Mudah-mudahan aja Sis, oooh ia Sis Loe nginep di rumah guekan”? “ ia Lola sayang, loe tidur aja duluan Sis”. “ Tapi La udah malem, Loe masih mau nunggu Alla”? “ ia La”! kulihat kearah taman seperti ada orang di sana, namun siapa? Malam-malam sepertti, aku mulai takut, mama, papa, dan Siska sudah masuk dalam kamar, hanya aku sendiri di sini. Kuperhatiakan lagi ternyata benar ada orang di sana, “Allan... ternyata Allan”! Allan membawa sebuah kue yang kecil yang kecil berbentuk hati, aku tersenyum bahagia. “ La...maaf iya aku telat, tadi macet di jalan”. “ ia gak apa-apa Lan”! “ Happy birthday ia, semoga kamu selalu sukses”, “ Amien...”!
“La aku mau ngomong sama kamu”. “Mau ngomong apa Lan”? “ kamu cantik banget La malam ini”. “ Makasih Lan”! ” namun bukan itu yang aku mau omongin”. “ Terus apa Lan”? “ Aku sayang sama sama kamu La, Cuma kamu wanita yang aku cintai La, aku mau malam ini menjadi saksinya La,,,karena malam ini aku akan melamarmu La”. Aku tak mampu berkata-kata, bahkan aku sampai menangis. Ternyata siska dan orang tuaku sedang memperhatikan kami. Jangan-jangan ini rencana mereka. Dalam hati ku berguman. Tak lama Allan mengeluarkan kotak kecil dari jasnya. Dan ternyata itu cicin. “ La... apa kamu mau menikah denganku”? Aku terdiam, dan aku langsung mengangguk. “ Ia aku Mau Lan”.
Allan langsung memelukku!...


Ayah (Aku Ingin Bebas )

oleh: Noer Alfah
Zivana Aida Rachmi, nama lengkapku. Zie nama panggilanku. Mungkin menurut kebanyakan orang aku terlahir sebagai orang yang berutung. Memiliki segalanya, rumah mewah, mobil, dan banyak perusahaan milik ayahku. Namun bagiku, aku bukan orang yang beruntung. Aku tidak memiliki apa yang mereka miliki. “kebebasan”, ia, aku tak memiliki itu. Aku tak butuh materi yang berlimpah. Dalam hidup ini aku hanya ingin kebebasan dan kebahagiaan.
                 “ Tuhan… aku tidak pernah menyesal lahir didunia ini, aku juga tidak membenci orang tuaku, aku hanya berpikir, mengapa kehidupan yang kumiliki berjalan bukan dasar kemauanku”? ini hidupku Tuhan! Bukan hidup ayahku. Tapi mengapa ia selalu mengaturku dengan kemauannya? Seakan-akan aku tak pernah mempunyai pilihan. Dari sekolah, teman, sampai perguruan tinggi, ayah yang pilih. Pendapatku tak pernah didengar.  Aku ingin seperti anak-anak yang lain memilih bebas jalan hidupnya sendiri.
                  “Zie … “! Ibu memanggilku! Langsung kututup buku harianku.  Aku berguman dalam hati. Ibu, ia, hanya ibu yang bisa mengerti aku.  Tak pernah ibu memarahiku. Lemah lembut tutur bahasanya. Tak habis pikir aku dengan ibu? Mengapa wanita lemah-lembut seperti ibu bisa menikah dengan laki-laki seperti ayah yang sangat keras kepala. Ibu begitu sabar, walaupun terkadang ayah tak pernah mendengar pendapat ibu.   Langsung kujawab panggilan ibu. “Ia bu…”, tak lama ibu langsung menghampiriku. Zie dari pulang kuliah sepertinya kamu belum makan nak…! Ia bun nanti Zie makan.
                 Kuteruskan catatan harianku; terkadang ingin rasanya aku memberontak pilihan ayah. Selama ini aku memang selalu menurut pada ayah. Namun berbeda dengan kak Natly yang memilih jalan hidupnya sendiri. Kak Natly meninggalkan rumah tiga tahun yang lalu. Kak Natly pergi karena ayah menyuruhnya untuk masuk sekolah kedokteran. Namun kak Natly menentang keras, ia hanya ingin menjadi penulis. Menurutnya dokter bukan profesi yang tepat untuknya. Pesan terakhir kak Natly aku harus menurut pada ayah. Kak Natly bilang aku lebih penurut dan tidak keras kepala. Padahal kalau saja kak Natly tau, aku juga sama seperti dirinya. Hanya saja aku tak punya keberanian untuk memberontak.
                 “ Zie…Zie…”! ayah memanggilku. Ia ayah.. langsung saja ku menghampiri ayah. “ kenapa ayah”? Zie ayah mau nilai IP kamu semester ini harus di bawah tiga. “ ia ayah Zie akan berusaha semampu  Zie. Apa? Semampu kamu? Tidak bisa seperti itu zie ayah gak mau tau, ayah bilang harus, berarti harus! “Aku lansung masuk ke kamar. Rasanya aku sudah tidak bisa menahan air mataku. Kubuka lagi buku harianku. Kak… kenapa si loe harus pergi? Kak gue bingung, kenapa si ayah gak pernah ngerti, kalau kemampuan gue terbatas. Rasanya ingin sekali aku berteriak. Aku ingin sekali-kali memberontak, namun aku tak berani. Ayah… aku ingin bebas! Ini hidup aku, beri aku kesempatan sekali saja, menentukan hidupku ayah. Aku bingung ayah… bagaimana jika aku tak mendapat nilai sesuai kemauan ayah? Apa aku bukan jadi anak ayah lagi… ayah tolong mengerti aku…!
Ibu menghampiriku, mungkin saja ia tau apa yang kurasakan.  Langsung saja aku memeluk ibu sambil menangis. “ Ibu… aku kangen sama kak Natly. Ibu langsung menghusap air mataku. “ Zie ayah sayang sama Zie, dan Kakakmu. Setiap malam ayah sering kali terlihat gelisah memikirkan Kakakmu. Zie harus kuat...Zie harus buktikan sama ayah kalau Zie mampu.
                 Ujian akhir sudah selesai, namun aku tetap saja tidak tenang. Karena aku harus menunggu nilai akhir ujian. Tepat pada waktunya akhirnya nilai ujianku keluar. Degggggg! Hatiku berdebar… membuka amplop yang berisi nilai ujianku. Huuuuhhhhh…! Syukurlah… nilai ujianku sesuai dengan harapanku. Aku tersenyum. Untunglah kali ini keberuntungan sedang memihakku. Aku langsung segera pulang. Langsung kuberi tahu nilai ujianku pada ayah. Wajahnya tersenyum melihat nilaiku. Namun aku tak menghiraukanya lagi. Akhirnya aku bias makan dan tidu dengan tenang. Langsung ku masuk ke dalam kamar. Rasanya sudah lama aku tidak merebahkan diri dengan santai. Tokk..tok… tok terdengar ketukan pintu kamarku. Langsung kubuka. Ternyata ayah. Ayah lansung memelukku. Rasanya baru kali ini aku merasa pelukan yang begitu hangat.
                 “ Zie ayah memanggilku….”, kenapa ayah? Zie maafkan ayah. Aku bingung maksud perkataan ayah. Zie ayah melakukan ini karena ayah sayang sama Zie. Ayah mau Zie jadi anak yang dibanggakan. Zie ayah mau jujur sama Zie. Zie harus tau cerita yang sebenarnya. Andai saja Zie tau klau Kak Natly pergi dari rumah bukan karena ayah, paksa untuk masuk sekolah dokter. Zie ternyata diam-diam kakakmu menjalin kasih dengan laki-laki yang sudah beristri. Kakakmu hamil zie, dengan laki-laki itu. Namun sedikitpun laki-laki itu tidak bertanggung jawab, malah meninggalkan kakakmu. Aku tak percaya dengan kata-kata ayah, namun jika ku ingat pesan terakhir kaka “ Zie kamu harus menurut dengan ayah, dan jangan bikin dia kecewa”. Cukup masuk akal, ditambah lagi aku melihat ibu menangis dibalik pintu yang terbuka. Aku tak yakin dan tak percaya, namun tak aku hiraukan lagi perasaan itu, ku dengarkan lagi ceriya ayah tanpa bertanya sepatah katapun.
Zie... sedikitpun ayah tak pernah marah pada perbuatan kakakmu. Ayah hanya merasa gagal menjadi seorang ayah untuk kakak mu. Ayah juga tak pernah mengusir kakakmu. Kakakmu pergi dari rumah tanpa sepengetahuan kami. Hanya selembar surat yang ayah temukan di kamar kakakmu. Kakakmu bilang ia mau pergi ke Surabaya untuk mencari laki-laki itu. ayah sok membaca surat dari kakak. Pagi-pagi sekali ayah dan ibu langsung menyusul kakakmu ke bandara. Namun Zie... , ayah tak sanggup lagi bercerita. Ayah menangis, baru kali ini aku lihat sosok ayah yang biasa begitu tegas kini terlihat begitu cengeng. Kupeluk ayah, dan kemudian ibu menghampiriku dan ayah. Dan langsung meneruskan cerita ayah. Biar ibu yang cerita Zie, ternyata sia-sia Zie, ibu dan ayah telat. Pesawat yang kakak tumpangi sudah berangkat. Namun ketika kami ingin pulang, ternyata ada pemberitahuan bahwa peswat menuju Surabaya mengalami kecelakaan. Ternyata kakakmu adalah salah satu korbannya. Malangnya nasib kakakmu, jenazahnya tidak ditemukan. Kami sangat hancur, namun kami sepakat untuk tak memberi tahumu. Karena kami tahu kamu begitu menyayangi kakakmu.
                 Ya Tuhan... aku tak percaya ini, apa yang kudengar ini sangat menyiksa perasaanku. Aku tak bisa menerima ini. Mengapa orang tuaku tega merahasiakan hal besar seperti ini. Orang yang begitu aku sayangi ternyata sudah meninggal tiga tahun. Aku tak percaya ini, rasanya seluruh tenagaku habis, tak sanggup lagi aku mendengar cerita mereka. “ Zie... maafkan ibu dan ayah... kami tak bermaksud membohongimu. Air mataku tak berhenti mengeluarkan air mata. Rasanya dadaku begitu sesak, tak bisa aku bernafas. Aku benar-benar sudah tidak bisa berpikir. Ibu dan ayah langsung memelukku, namun aku tak berbicara sedikitpun. Tak lama mereka meninggalkanku, mungkin mereka menunggu pikiranku tenang.
                 Mataku terasa begitu perih, namun aku sudah bisa berpikir dengan tenang. Aku harus bisa menerima semua ini. Semua telah terjadi. Tapi mengapa kakak harus pergi dengan cara seperti itu. Aku tak percaya, namun semua telah terjadi. Aku langsung trertidur.
                 Esok harinya aku terbangun, aku masih berharap apa yang kudengar semalam hanya mimpi. Namun harapan hanyalah tinggal harapan. Aku langsung menghampiri ibu, dan langsung memeluknya. Ibu berkata “ Zie maafkan ibu ia”? aku mengangguk, ia bu... aku yakin apa yang ibu lakukan itu demi kebaikanku. Ayah juga menghampiriku. Dan membisikan sesuatu. “ Zie... sekarng kamu lakukan apapun yang ingin kamu lakukan demi kesuksesanmu. Ayah percaya sama Zie. Ya Tuhan... kata-kata yang aku harapkan selama ini, keluar dari mulut ayah. Aku tersenyum bahagia...
                 Tok...tok...tok, sepertinya ada yang mengetuk pintu. Tanu dari mana pagi-pagi sudah datang. Aku langsung berlari untuk membuka pintu. Aku kaget! Seorang laki-laki berbadan tinggi dan seorang perempuan cantik yang tak asing bagiku, bersama seorang gadis kecil yang lucu kira-kira usianya dua atau tiga tahun. Ia langsung menyium tanganku, dan menyapaku. “Tanteeee”!...


FATIMAH


oleh: Noer alfah
“Fatimaaaahhh… bangun udah siang kebiasaan lu ya perawan bangunnya siang-siang, gimana mau laku lu ya, jadi perawan males banget”. Seperti biasa omelan Nyak setiap pagi yang kudengar.  Aku hanya mengangguk dan meneruskan tidur lagi. Setelah kubangun tidur bukan kamar mandi yang kutuju, tapi meja makan dan langsung kubuka tutup saji, lagi-lagi semur jengkol favorit Babeh  yang terhidang di meja makan, sambil mengerutkan dahi kututup tutup saji, dan langsung menuju kamar mandi. Selesai mandi aku langsung menuju halaman belakang di sana ada Babeh yang sedang memberi makan ayam jago kesayangannya. “ Eh  Fatimah,  anak Babeh udah mandi gak biasanya!” Babeh meledekku. Aku langsung makan pisang goreng dan teh manis yang disiapkan Nyak.
            “Fatimah… Fatimah!” Nyak memanggilku. Nanti sore jangan lupa dandan yang cantik, nanti anter Nyak kondangan, di rumahnya Mpok Rohaya”. “Nyak kan tau Fatimah paling males kalo ikut begituan, apa lagi pake dandan- dandan segala, pokoknya Fatimah gak mau ikut, paling juga nanti kalo ketemu temen Nyak mau dijodohin lagi sama anaknya”. Kata Fatimah. “Gak deh Fatimah Nyak gak jodoh-jodohin lagi ama temennya Nyak, tapi Fatimah mau ya anter Nyak kondangan.” Wajah Nyak memelas.  Kalo udah begitu gak ada alesan lagi buat nolak. “Ya udah, ia Nyak Fatimah mau tapi Nyak janji gak jodoh-jodohin Fatimah.” Ucap Nyak. “ Ehmzz…. Fatimah emang anak Nyak, ia Nyak janji!” lanjut Nyak.
            Tiba waktunya aku mengantar Nyak, hal yang paling menyebalkan, pertama harus menunggu Nyak berdandan yang membutuhkan waktu berjam-jam, terus nanti kalo udah nyampe ditempat kondangan harus mendengarkan Nyak ngerumpi sama teman-temanya. Tiba di sana ternyata kedatanganku bareng dengan kedatangan besan keluarga mempelai laki-laki, aku melihat serangkaian adat pernikahan ketika dari adat palang pintu, terus seserahan, dan ada roti buaya. Setidaknya aku enggak terlalu bete masih ada pertunjukan yang bisa kulihat. Setelah itu, aku menghampiri Nyak yang sedang asyik ngerumpi sama temen-temennya.  “ Eh Fatimah, kapan nikah?” tanya dari salah satu teman Nyak padaku. “Huuuhhh… lagi-lagi pertanyaan itu, yang selalu mereka pertanyakan.” Keluhku dalam hati. Aku hanya menjawab dengan senyuman kecil sambil berkata “ Nyak, udah yuk kita pulang, udah sore nih, Fatimah udah bosen di sini!” Nyak mendengarkan perkataanku, dan segera berpamitan dengan teman-temannya.
Tiba di rumah, aku merebahkan diri di kamar sambil menunggu adzan  Maghrib. Setelah adzan berkumandang aku bergegas mengambil air wudhu, seperti biasa aku sekeluarga melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Setelah selesai shalat kami membiasakan untuk membaca sedikit ayat-ayat Alquran sambil menunggu waktu Isya. Setelah shalat Isya, kami juga selalu menyempatkan untuk makan malam bersama.
Aku anak tunggal, aku dilahirkan dikeluarga yang sangat kental budaya Betawinya.  Selesai makan malam, rasanya aku sudah merasa sangat lelah. Namun seperti biasa aku enggak bisa tidur, lalu aku membantu Nyak merapihkan meja makan dan mencuci piring. Kewajibanku menyelesaikan pekerjaan sudah selesai kemudian aku meranjak ke kamar untuk tidur.
Rasanya baru saja sebentar aku memejamkan mata, Nyak membangunkanku untuk melaksanakan shalat Subuh, namun rasanya mata ini terasa sangat berat, tapi Nyak terus saja menggedor pintu sampai aku terbangun. “ Eh, Fatimah bangun entar abis shalat Subuh tidur lagi!” Aku langsung terbangun, kasian juga si Nyak dari tadi teriak-teriak membangunkanku. Setelah shalat Subuh, rasanya aku tak seperti biasa langsung tidur. Kubuka pintu rumahku, kurasakan sejuknya udara pagi ini masuk ke dalam ruang tamuku, kulihat Nyak yang masih sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, namun pagi ini untunglah bukan semur jengkol yang dimasak. Aku ingin membantu Nyak di dapur, namun aku tak bisa memasak. Sejenak dalam pikiranku, ingin rasanya aku berjalan-jalan sebentar disekitar rumahku sambil menghirup segarnya udara pagi. Lalu, aku meninggalkan dapur dan segera pergi berjalan-jalan. Tak terasa aku berjalan dan tiba di sebuah danau, matahari hampir memancarkan suryanya, rumput-rumput di sekitar danau masih basah dengan air embun. Baru kali ini aku merasakan sejuknya udara pagi. Kulihat-lihat apa saja yang ada di sekitarku. Tak jauh kumelihat sebuah tenda berdiri, dan bekas bakaran kayu yang masih tersisa asap putih, dan sedikit  batu bara yang masih menyala. Sepertinya ada camping semalam di sini, namun aku tak menghiraukanya lagi. Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahuku, aku terengah, sosok laki-laki tinggi putih dan tampan, memakai jaket hijau Armi dan celana panjang yang bercorak sama. Aku bergumam dalam hati “ ganteng benget nih orang ya!” rasanya aku tak pernah merasa salah tingkah seperti ini saat dia menyapaku.
“Permisi saya mau tanya, kalau jl. Permai di mana ya?” tanya laki-laki itu padaku. Aku tak menjawab pertanyaan, sampai dia mengulang pertanyaan sama, “ oh… jl. Permai ? mau cari siapa?” tanyaku. “Saya Arif cucunya Engkong Ali dari bandung” jawabnya. “ Oh… Enkong Ali yang guru ngaji? satu-satunya engkong Ali yang ada di jl. Permai cuma engkong Ali yang guru ngaji.” Jawabku jelas. “Saya kurang tau, yang saya tau cuma namanya saja engkau Ali tinggal di Jl. Permai” ucapnya. “Oh, kalau seperti itu Arif ikut saya saja untuk lebih memastikannya lagi.” Pintaku padanya. “Oh, iya kenalin nama aye Fatimah” kataku memperkenalkan diri. “Oh, ya udah kalau gitu aku ikut sama kamu saja Fatimah.” Jawabnya. “Ya udah, ayo kita pergi! ajakku.  Selama perjalanan ke rumah engkong Ali, kami hanya diam, tak ada yang memulai pembicaraan, mungkin karena kami baru kenal. Akhirnya tiba di rumah engkau Arif, tiba di sana aku  mengucapkan salam. “ Assalammualaikum…engkog…kong…kong Ali, ada cucunya nih katanya dari Bandung.” Kataku. Tak lama, engkong Ali segera keluar ada apa Fatimah?” tanya engkong. “Ini engkong, ada Arif, katanya cucu Engkong dari Bandung” jawabku. “Arif ?” pikir engkong seperti orang yang bingung. Arif memperkenalkan diri, “Ia Enkong saya Arif anak pa Sofyan, dan Bu Siska dari Bandung.” Ucap Arif.  Engkong Ali memeluk Arif, “Cucuku sudah besar kamu nak? Bagaimana keadaan ayahmu Sofyan?” tanya engkong. Arif hanya menjawab dengan tersenyum. Aku langsung pamit pulang sepertinya keberadaanku  cukup mengganggu pertemuan dua insan yang baru bertemu. “ Enkong aye pulang ya!” kataku pamit. “Ia Fatimah”. “Fatimah!” “Ya!” aku menoleh ternyata arif yang memanggilku, “makasih ya!” Katanya. Aku tersenyum sambil menganggukan kepala.
“Ya Allah… Fatimah dari mana aje tumben amat pagi-pagi udeh keluyuran, bagus dah ye anak Nyak enggak takut matahari lagi.” Nyak meledeku. “ si Nyak, aye bangun pagi salah, bangun siang salah harusnya Fatimah bangun jam berapa Nyak?” ” Ya Allah Fatimah Nyak cuma becanda, Fatimah bangun jam berapa juga Fatimah tetep anak Nyak, aku hanya tersenyum dan langsung menjawab begitu dong Nyak. Yaudah Nyak Aye mandi dulu ia udah gerah nih”.
 Selesai mandi rasanya cukup segar, aku lansung menuju meja makan dan menyantap makanan yang sudah disiapkan Nyak dari tadi pagi. Kucuci piring yang tadi kupakai untuk makan. Sepertinya setelah makan aku merasakan mata yang teramat sangat mengantuk, mungkin karena biasanya aku tak pernah bangun pagi-pagi. Tanpa terasa aku tertidur di ruang tamu.
“Fatimah bangun ada Arif tuh katanya cucu engkong Arif,” tak seperti biasa aku langsung  terbangun mendengar Arif yang disebut si Nyak. “ Arif Nyak? Ia Arif, Fatimah kenal dimana sama Arif, duh Nyak ceritanya nanti aja ia”. Aku langsung menghampiri Arif, ada apa Rif? Fatimah aku belum mengucapkan terimakasih, terimakasih apa Rif? Terimakasih kalau kamu udah mempertemukan aku dengan Engkong Ali, oh tadikan aku sekalian pulang lagiankan rumah akukan sama Enkong Ali deket. Oh jadi kamu cucunya Engkong Ali? Tapi aku koq gak pernah liat kamu ya, sebenernya si aku bukan cucu kandungnya Engkong Ali, tapi dulu waktu ayah aku kuliah di Jakarta Engkong Ali yang menjaga Ayahku sampai beliau lulus. Ayahku seperti anaknya sendiri”. Sebelum orang tuaku meninggal, beliau berpesan agar aku menemui Engkong Ali, dan mengabdi dengan nkong Ali, kata ayah Enkong Ali tak punya keluarga deket. Jadi orang tuamu sudah meninggal? Ia Fatimah ibuku meninggal ketika aku masih berusia sepuluh tahun, dan belum lama ayah meninggal karena serangan jantung sebulan yang lalu. Aku hanya terdiam dan tak berani bertanya tentang dirinya. Ooohh ia Fatimah nanti malem kita jalan-jalan, hitung-hitung untuk mengucapkan terimakasih, dan aku juga ingin tau banyak tempat-tempat bagus yang ada disini.
Setelah pertemuan itu aku sering bertemu dan jalan bersama, aku bingung perasaan apa yang ada di dalam hatiku saat ini, mengapa aku jadi selalu salah tingkah saat berhadapan dengan dirinya. Kata Nyak banyak perubahan dalam diriku, aku selalu bangun pagi, belajar memasak dan selalu melakukan hal-hal positif yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Apa ia aku merasakan jatuh cinta? Apa karena cinta yang mengubah aku seperti ini, namun sepertinya tidak, ada halnya aku harus berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.
Arif begitu perhatian denganku, kami tak pacaran, namun setiap malam minggu Arif selalu main ke rumahku seperti yang dilakukan orang yang berpacaran pada umumnya. Arif cukup memiliki banyak teman bukan hanya aku, karena bagiku Arif orang yang mudah bersosialisasi terhadap lingkungannya saat ini, Ia pemuda yang ramah dan menyenangkan. Mungkin karena sifatnya yang seperti itu membuat aku kagum atau mencintainya. Entahlah sampai saat ini aku tak pernah tau apa dia punya perasaan yang sama…




Rabu, 07 Desember 2011

UNPAM


Pukul delapan pagi area parkir  UNPAM sudah dipenuhi kendaraan bermotor roda dua milik mahasiswa, hal ini yang terkadang membuatku segan mengendarai sepeda motor kekampus. Akhirnya ku selesai   memakirkan motorku, aku langsung menuju auditorium untuk menuju lobi dan langsung menghampiri tombol lift untuk naik. Lift terbuka aku langsung masuk  ternyata masih kosong, lansung kutekan tombol angka enam, pintu lift tertutup dan turun sebentar kelantai satu mungkin masih ada mahasiswa atau mahasiswi yang mau naik keatas.
Ternyata benar dugaanku empat orang mahasiswi masuk kedalam lift, salah satu dari mereka menekan tombol lima, pintu tertutup kembali dan kembali kelantai dua lagi, pintu lift terbuka lagi mungkin ada yang menekan tombol keatas, dua orang mahasiswi masuk lagi tetapi tidak menekan tombol dimana mereka akan turun. Tidak lama lift kembali menaik kemudian berhenti dan gelap.
Aku panik dan takut orang yang ada disekitarku hanya terdiam, mungkin mereka juga merasakan apa yang aku rasakan takut dan panik. Rasanya hatiku ingin menangis dan menjerit namun mereka sepertinya tidak perduli, kutekan tombol darurat berkali-kali namun tak ada hasilnya. Aku semakin panik dan rasanya semakin sesak nafasku. Tidak lama kumendengar seperti ada yang memanggil namaku, kucari asal suara itu darimana, dan suara siapa itu? Kemudian seperti ada yang menepuk bahuku. Aku tersadar ternyata aku melamun, untunglah ternyata hanya hayalanku saja. Tidak terbayangkan  jika kejadian itu benar-benar terjadi dalam hidupku. Ternyata aku masih ditempat parkir bersama temanku, yang menyadarkan lamunanku. Aku segera meninggalkan tempat parkir dan lansung menuju lobi.
Seperti biasa kumulai pelajaranku hari ini, kebetulan hari ini hanya ada satu mata kuliah yang ku ikuti. Pukul setengah sebelas ku sudah pulang,namu rupanya lift untuk turun sudah dipenuhi dengan mahasiswa, aku sangat malas menunggu aku memilih menuruni tangga. Perutku terasa sangat lapar, aku langsung menuju kantin tempat biasa aku makan bersama dengan teman-temanku. Bakso dan mie ayam sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari setiap aku dan teman-teman  pulang kuliyah. Kantin biasa tempatku makan sudah dipenuhi mahaiswa, jadi aku dan temanku harus menunggu tempat yang kosong. Mataku  tertuju pada sekelompok mahasiswa yang sepertinya sudah dari tadi menyelesaikan makannya, namun mereka tidak langsung bergegas meninggalkan meja itu. Sepertinya mereka tidak peduli pada kami yang sejak dari tadi   menunggu meja kosong. Tak beberapa lama kami langsung mendapat tempat untuk makan dan langsung memesan makanan.  Selesai makan ku langsung segera pulang, namun siang ini terasa begitu panas, ingin rasanya segera tiba dirumah.
Namun aku melupakan sesuatu, aku belum mengerjakan tugas untuk besok, akhirnya aku tunda kepulanganku kerumah, dan langsung mengerjakan tugas. Aku segera masuk ke Warnet, kebetulan pulsa modemku dirumah sudah habis. Rasanya dalam ruangan ini begitu panas, panasnya matahari begitu terasa diubun-ubunku, ingin rasanya segera meninggalkan ruangan sempit yang dan panas ini, hanya ada satu kipas angin yang nenempel diatap yang berputar tapi sepertinya tidak berfungsi.
Akhirnya tugasku selesai, aku langsung segera keluar dan meninggalkan tempat itu. Tenggorakanku rasanya haus sekali, aku mampir ketempat es kelapa didepan kampusku dan lngsung segera membelinya. Kuminum es kelapa itu rasanya haus ditenggorokanku hilang. Setelah hausku hilang aku segera pulang, dan naik angkot jurusan muncul-ciputat.

DESEMBER


Calista Stefania Laurika namaku. Aku lebih dikenal dengan nama Calista, banyak yang bilang aku cantik, tapi aku pendiam dan tidak senang bergaul. Mungkin itu yang membuat mereka segan mendekatiku. Tak  banyak teman yang kumiliki. Aku lebih senang sendiri,atau menulis diary untuk mengungkapkan semua perasaanku. Dalam hidup ini aku seperti sendiri, aku selalu merasa dunia ini membeciku. Jika aku boleh memilih aku lebih baik tidak pernah ada di dunia ini. Dunia ini kejam, dan dunia ini tidak pernah adil untuku, bahkan dunia telah merebut semua kebahagian yang tidak akan pernah kumiliki lagi. Sering kali hati menjerit, namun tak pernah ada yang mendengarkanku……
Hayooooo…..lagi ngapain? Safa mengagetkanku, dan menegurku,Menulis diary lagi? Katanya dengan senyuman yang khas. Aku menganggukkan kepala menandakan bahwa yang ia katakan benar, dan setelah itu langsung meninggalkanku. Safa satu-satunya sahabat yang benar-benar tulus bertemanku, walaupun aku dan safa sangat dekat namun tak pernah sedikitpun aku bercerita tentang diriku. Aku begitu tertutup dengan siapapun.  
Terik matahari sudah terasa sangat menyengat dikulitku. Ku percepat langkah kakiku agar segera tiba dirumah. Namun aku tak bisa menahan rasa haus ditenggorokanku. Seperti biasa aku membeli es kelapa kang cepi langganan ku. Segarnya es kelapa yang kuminum langsung habis, hanya tersisa ampas kelapanya saja. Setelah itu aku langsung pulang, dan merebahkan diri di kamar rumahku. Kunyalaka AC kamar ku, dan langsung tertidur.
Non…non…bangun sudah jam lima sore,non belum makan dari pulang sekolah,nanti non sakit! Mbok laksmi membangunkanku, aku hanya menjawab ia mbo siapkan saja makananya. Mbok Laksmi dia itu pembantuku, namun aku tak pernah menganggap dia sebagai pembantu. Mbok Laksmi sepeti neneku Mbok Laksmilah yang merawatku sejak kecil sampai saat ini.
Pagi ini di dalam ruang kelasku begitu ramai, apa yang sedang mereka bicarakan? Kutanya safa yang sudah ada dikelas sejak tadi. Ada gosip apa fa Sampai ramai seperti ini? Safa langsung menjawab  Biasa anak-anak mau adain acara diakhir desember. “ Aku terengah, langsung kulihat kalender bulan ini “ desember”? aku terdiam……. Ta…ta…Calistaaaaa panggil safa, ia Fa kenapa? Kamu yang kenapa? Ngelamun aja! Oh gak apa-apa. Langsung kubuka my diary…
Desember, ia desember apa yang mereka tunggu dibulan ini? Mengapa semua orang heboh membicarakan bulan ini? Banyak yang mereka rencanakan dibulan ini. Tetapi tidak untuku, aku benci bulan ini. Aku membeci bulan desember, mengapa harus ada bulan desember?
Calista mengapa kamu menulis seperti itu?... Fa kamu baca tulisanku? Maafin aku ta, aku gak sengaja! Gak apa-apa Fa…! Sebenarnya kamu kenapa calista? Kamu cantik, pintar,dan baik, tapi mengapa kamu selalu tertutup? Calista kali ini aja kamu cerita sama aku, mungkin kamu bisa lebih baik ta.  Dulu aku tak seperti ini, aku anak kedua dari dua bersaudara kakaku laki-laki Ifan namanya, mamah papahku begitu sayang denganku, dan juga kak Ifan. Aku merasa orang yang paling beruntung di dunia ini, papahku memberiku nama Calista Stefania Laurika yang artinya “wanita paling cantik dan bermahkota” papah begitu menyayangiku, ia selalu bilang aku puteri paling cantik, mungkin karena aku anaknya, Beliau selalu mengatakan perkataan itu. Air mata mulai membasahi pipiku, ayah begitu menyayangi, mamahku juga, ia wanita yang terbaik, yang pernah aku kenal, suaranya yang lembut penuh kasih sayang. Namun saat ini mereka tak akan pernah ada lagi disisiku. 31 desember 2008, kecelakaan mobil saat kami menuju puncak untuk merayakan tahun baru, namun semua berubah, tak ada kebahagiaan yang kami rasakan untuk menyambut tahun baru, semua menjadi duka yang teramat sangat mendalam, tak akan pernah bisa aku lupakan. Sejak saat itu aku membenci bulan ini, ya bulan desember, bulan yang mengantarkan nyawa keluargaku,. Calista, kamu tak boleh seperti itu terkadang dalam hidup kita tidak  bisa memilih, kita yang meninggalkan mereka atau sebaliknya, kita juga tak akan pernah tau. Kamu gak boleh terus-terusan seperti ini, kamu harus bangkit untuk melanjutkan hidupmu. Dengan kamu seperti ini mereka juga  tidak akan pernah kembali lagi,. Mereka akan tenang jika kamu tidak seperti, pasti suatu hari mereka akan menunggumu ditempat yang terindah. Kamu benar Safa aku gak bisa seperti ini.
Waktu pulang sekolah tiba, aku segera meninggalkan kelas bersama Safa. Namun hari aku merasa berbeda, perasaan aku begitu bahagia. Perasaan yang tak pernah aku rasakan, kini kembali aku rasakan kembali. Namun perasaan ini begitu berbeda, aku merasakan sesuatu yang begitu bahagia. Terimakasih  Safa, engkau  telah mengajarkan arti hidup yang sesungguhnya.