BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »
Tampilkan postingan dengan label adi kurniawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adi kurniawan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2012

Cowok Spesial

oleh : Adi Kurniawan

Nadia merupakan salah satu murid SMA di Jakarta, sifatnya dingin kalau untuk urusan pria.
Nadia~
"hu telat bangun pagi lagi,, padahal kan sudah niat sahur mau puasa" seperti biasa aku selalu telat bangun pagi karena memang sifatku yang seperti ini, saat aq hendak merapikan bukuku,tiba-tiba…
"Nadia kau lama sekali, ayo cepat nanti ayah telat masuk kantor lagi.", aku pun langsung berlari ke bawah untuk menemui ayahku yg sudah bosan dengan sifatku ini, "iya ayah" gerutuku.
"ah kau ini kenapa kau selalu begini Nadia? kau kan sudah SMA" "ahh ibu mungkin sifatku sudah tidak bisa di ubah".
 

Setelah Nadia sampai disekolahnya, wanita itu pun langsung berlari menuju gerbang skolah dengan baju yang tidak rapih dan rambut yang berantakan
"tungguu jangan ditutup dulu gerbangnya" teriakkan Nadia sambil melambaikan tangannya.
"ahh kau lagi, pokoknya jika nanti kau terlambat lagi tidak akan ku bukakan untukmu, mengerti??" "iya mengerti" ucap Nadia sambil berlari melanjutkan misinya untuk sampai ke kelas,,
"BRUUKK.  apa apaan kau??  jalan itu pakai mata" omel Nadia pada seorang pria yang lewat di depannya,
" ehhmm bukannya kau yang menabrakku??" ucap pria itu.
"aisshh sudahlah bukan urusanku. Yang penting kau sudah membuatku lebih telat tahu"ucap Nadia yang kemudian langsung berlari kekelasnya.
"heeyyy bagaimana dengan bukuku yang terjatuh ini??" teriak pria itu yang mungkin tak akan di dengar Nadia.

Nadia~
"ahh dasar pria  bodoh, karenanya aku di hukum lagi sama guruku, isshhh dasar pria bodoh." saking kesalnya aku dengan pria yang berkacamata itu tak sadar aku sedari tadi bicara sendiri,
"heyy Nadia kau kenapa bicara sendiri??" tanya Minzy yang tak lain teman sebangku ku.
"ahh itu tadi aku bertemu dengan pria cupu yang membuatku di hukum" kesalku
"hahh apa?? tapi bukannya hampir setiap hari kau selalu dihukum?? hahaha" "isshh kau ini".
setelah aku bercanda dengan minzy...
tiba-tiba…
"apa kabar anak-anak, hari ini ibu membawa seorang murid baru pindahan dari Bandung, silahkan perkenalkan dirimu."
"apa kabar, namaku Dimas Arya Wiguna kalian bisa panggil aku Dimas”.

setelah aku mendangarkan guruku dan murid baru yang bernama Dimas entah kenapa hatiku sangat tidak nyaman, tapi aku mencoba untuk berskap biasa saja selayaknya diriku.

"Nadia kau kenapa sih?" suara Minzy dan tepukannya membuatku makin tidak nyaman.
"ahh kenapa aku ini, kenapa rasanya ada yang aneh dengan diriku??" batinku
"ahh Minzy aku hanyaaaa pernah melihat pria ini, rasanya dia yang tadi kutabrak di depan" ucapku lemas

Nadia sangat kaget sekaligus aneh dengan dirinya sekarang,
Nadia~
"Nadia jadi itu yang kau bilang pria cupu berkacamata? waah keliatannya dia pintar yahh lihat saja yang ada ditangannya, buku semua, beda sekali dengan kita" omongan minzy yang seolah-olah membanggakan pria itu dan menjelakanku serta dirinya..
"jadi maksudmu kita bodoh Minzy? aahh memang iya sihh kita tidak pintar, tidak disiplin pula. Tapi apa maksudmu menyebut pria itu pintar? hanya pintar saja, wajahnya tidak tampan, lihat saja matanya yang aneh dengan kacamata kudanya dan gaya rambutnya yang culun." Omonganku itu begitu saja terucap dari mulutku.
Dan.
"apa kabar" "kau menyapa siapa??" tanyaku cuek
"ya kau lah,, oh iya kau kan yang tadi pagi menabrakku dan tidak bertanggung jawab pula.. iya kan?"
"bukannya kau yang menabrakku?" tanyaku
"Nadia kenapa kau galak sekali, pantas saja tidak ada pria yang mau mendekatimu," ejek Minzy yang tiba-tiba mamperkenalkan dirinya pada Dimas.
"apa kabar Dimas, aku Minzy dan ini temanku Nadia" “kau baik yahh tidak seperti temanmu itu yang garang, hehe" mendengar mereka ngobrol rasanya membuatku kesal, dan yang membuatku makin kesal kenapa dia mesti duduk disamping tempatku? pasti Minzy akan makin dekat dengan dia dan menjauhiku.

TENG...TENG..TENG...
suara yang kutunggu-tunggu pun akhirnya terdengar juga.
"haaah akhirnya aku terbebas dari guruku yang tidak jelas itu"
"apa kau baru saja meledek guruku kita?" kudengar ada suara yang menjawab omonganku, "issh kau lagi, memangnya kenapa jika aku meledeknya? apa kau akan melaporkanku? tanyaku  "bukan begitu tapi apa kau tidak bisa sopan sedikit?" "hmm sepertinya tidak bisa" ucapku dan langsung pergi dari tempat itu
Jason~
"huh wanita itu, kenapa begitu galak? tidak sopan pula"
"hmm tapi mukanya manis juga walaupun gaya rambutnya sedikit berantakan
aku terus bertanya-tanya tentang wanuta yang bernama Nadia itu, bagaimana bisa dia bersikap seperti itu dengan sifatnya yang dingin?
melihat sifat Nadia yang seperti itu, tidak pernah peduli dengan kehidupannya, membuat Dimas kesal...
karena dua bulan lagi akan ada ujian Dimas akan merencanakan misi untuk merubah sifat Nadia..
Dimas~
"ah aku harus merubah sikapnya" entah kenapa hatiku berkata seperti itu,”

Nadia~
"huh baru juga istirahat sudah masuk lagi,”ocehku sendiri
"Nadia" "seperti ada yang memanggilku" ku tengok kebelakang dan
"isshh kau mau apa sih" tanyaku yang sudah bosen soalnya Dimas lagi Dimas lagi, "ahh, ayo kita msuk kelas bareng?" dia mengajakku masuk kelas tapi aku sengaja untuk masuk lebih dulu..
begitu lama aku berkutat dengan buku pelajaran, rasanya bagaikan sedang ada didalam jeruji sungguh lelah sekali aku setiap hari mesti seperti ini. Jika bukan karena orang tuaku, aku tidak ingin sekolah!! tapi apa boleh buat, demi ayah dan ibuku aku rela melakukan apapun..

#besoknya,,
“hahh benarkah ini terjadi. apa aku cuma mimpi?  apa kiamat benar-benar makin dekat??? ahh sungguh tidak disangka aku bangun sepagi ini” racauku yang seakan mendapat suatu keajaiban yang tak terduga. Aku hari ini secara  tiba-tiba bangun pagi yahh walaupun jam 05.30, aku terus saja menepuk-nepuk pipi chubbyku karena masih tak percaya dengan apa yang sedang aku rasakan sekarang, hmm tanpa basa-basi aku langsung membersihkan diriku dan bersiap-siap untuk pergi kesekolah.

“apa kabar ibu,, apa kabar ayah”  begitulah Nadia menyapa kedua orang tuanya setelah dia merasa sangat senang karena mendapati perubahan pada dirinya.
“huaaaah Nadia kenapa tidak dari kemarin kemarin kau seperti ini, hmm apa ada sesuatu yang harus kau kerjakan sehingga kau bangun sepagi ini? atau kau ingin bertemu seseorang?” pertanyaan ibu membuat Nadia bengong.
“aah ibu, aku tidak tahu kenapa aku bangun sepagi ini, tapi apa ibu tidak senang melihatku seperti ini?” ucap Nadia lirih.

Nadia~
“huh sangat menyebalkan, aku hanya bangun pagi saja mereka sangat terkejut, hufft bagaimana jika aku mendapat nilai 100. Aku yakin pasti pada saat itu juga aku akan melihat kedua orang tuaku tergeletak.” racauku dalam hati yang seraya mendengar jawaban ibuku.
“Nadia, ibu sangat senang kau bisa berubah seperti ini, dan ibu harap ini bukan Cuma terjadi satu hari ini, ibu mau kau begini terus untuk selamanya,” aisshh aku hanya bisa menelan ludah pada saat itu, dan akupun langsung berangkat sekolah bersama ayahku setelah berpamitan pada ibu.

disekolah
huh entah kenapa ada sesuatu yang aneh sekarang, hatiku senang sekali, dengan suara lantangku, akupun menyapa teman-teman dengan senyumanku..

Minzy~
Saat aku sedang berbincang dengan temanku,, tiba-tiba kudengar suara yang mungkin menggemparkan satu sekolah ini, setelah ku tengo. Sungguh aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Nadiaa, seorang wanita yang cantik tapi tidak disiplin dan tidak menyukai peraturan sekolah sekarang masuk sekolah tidak terlambat satu detik pun, huh mataku tidak berhenti membulat, akupun langsung menyapa sahabatku ini dengan penuh kebahagiaan. “Nadia. aku senang melihatmu hari ini..” “hmm iya aku juga senang” jawabnya seraya duduk disampingku. “hmm baguslah kau sudah berubah, yaah walaupun pakaianmu msih belum rapih,, eoh apa karena kau takut dengan ucapanku waktu itu yang bilang kau tidak akan naik kelas?” tanyaku yang membuat ekspresinya sedikit aneh.” kau mau tahu kenapa aku datang tidak terlambat?” “iya”  “hmm kau tanya saja pada dirimu sendiri,” aishh jawaban macam apa itu, memang aneh sahabatku ini.

Jason~
sungguh aku tidak thau lagi apa yang harus ku katakana, aku senang sekali melihat Nadia datang pagi ini. Tidak dengan nafas terengah-engahnya lagi, tapi dengan senyuman yang mampu membuat jantungku berdegup kencang. “tenang Nadia jika kau ingin mengubah gaya hidupmu, aku akan selalu ada untukmu” bisikku yang seakan mengantarkan rasa cintaku padanya..
Nadia~
humm hari ini entah apa yang membawaku kemari, kakiku tiba-tiba saja terhenti dikursi panjang ditaman sekolah.. akupun senantiasa menemani kursi panjang itu yang tengah kesepian!! aku sekarang sendirian karena Minzy sedang rapat dengan anggota OSIS..
lama aku termenung dikursi ini sembari melihat lalu lalang anak-anak yang sedang asik bermain atau berjalan degan teman atau kekasihnya, aku hanya bias memikirkan sesuatu yang yak tentu, mulai dari kejadian hari ini sampai Dimas.. ooohh celaka, apa yang kupikirkan tentang pria itu..
soal pagi ini aku memanh senang, entah kenapa padahal hanya karena bangun pagi saj.. tapi begitu membuatku bahagia, aku tidak tau perasaan ini. Aku merasa bersalah padanya karena kemarin-kemarin aku selalu menjutekinya, padahal dia sama sekali tidak membuatku kesal ataupun marah, hmm sangat membingungkan isi pikiranku ini, “hhhhmmm” aku hanya bias menghela nfasku panjang-panjang


disaat hyera sedang termenung akan apa yang dipikirkannya, pada saat itu juga Dimas melihat Nadia ditaman, dan entah ada atmosfir apa Dimas langsung menghampiri Nadia “kenapa kau menghampirinya, aahh jantungku lagi-lagi beradu memunculkan ritme yang tak beraturan” racau Dimas yang mulai merasakan gejolak cinta dalam dirinya, rasa gundahpun mulai menghampirinya. Akhirnya tanpa disadari dia sudah ada dihadapan Nadia sekarang, “apa yang harus kulakukan sekrang” bisiknya dalam hati dan karena Nadia menatapnya, diapun memberanikan diri untuk memulai pecakapan duluan,,

“apa kabar Nadia”

Nadia~
“tuhan kenapa kau datangkan dia kehadapanku disaat aku sedang gelisah karenanya” amarahku dalam hati setelah tahu Dimas sudah berada dihadapanku, akupun menatapnya dan tiba-tiba saja dia bebicara padaku, “apa kabar Nadia?”  huh tidak mungkin aku menyuekinya lagi sekarang, akupun membalas salamnya “iya”  “hmm bolehkah aku duduk disini?”  sekrang apa yang harus kulakukan, aku tidak mau berbuat dosa lagi karenanya, dengan gugup akupun mempersilahkannya “iya, si silah kan” ucapku terbata-bata
begitu lama mereka saling membisu dan sampai akhirnya Dimas pun memulai percakapan diantara mereka “Nadia” “iya?” jawab Nadia singkat sungguh perkataan Dimas telah sukses membuat Nadia mati kutu..

Nadia~
“apa yang harus kukatakan,, dia minta maaf padaku? harusnya aku yang minta maaf padanya, bukan dia..
“tuhan berikanlah aku keajaiban saat ini”, aku memikirkan jawaban apa dan apa yang harus kukatakan padanya, tiba-tiba     “Nadia apa kau memaafkanku?” ternyata dia menunggu jawabanku,    “Dimas kau tidak perlu minta maaf padaku,, seharusnya aku yang minta maaf padamu, karena selama ini akulah yang sering berbuat kasar padamu, aku yang sering menjutekimu, aku yang sering menyuekimu. jadi akulah yang harus minta maaf Dimas”  ucapan itu mengalir mulus dimulutku, ”tuhan terima kasih kau telah beri keajaiban untukku” ucapku dalam hati..

Dimas~
sekali lagi aku tidak percaya dengan apa yang telah kudengar dari mulut Nadia, aku sungguh senang sekali “aku memaafkanmu Nadia, jadi bolehkah aku berteman denganmu?” “iya”  hah sungguh indah rasanya, diriku bagaikan terbawa angin dan melayang..
semenjak pertemuan tadi aku dan Nadia makin dekat, kami selalu bermain bersama dengan Minzy tentunya. Dan muncullah dipikiranku untuk mengajaknya jalan..

Nadia~
hmm baru aku rasakan yang namanya jatuh cinta tapi apa Dimas juga mencintaiku, kalau tidak mimpilah aku dengan hayalanku untuk pacaran dengannya.. sekarang aku tidak peduli dengan penampilannya yang super cupu itu.. tiba-tiba

drrtt drrrtt,, hpku bergetar menandakan ada sms masuk..


 from
010-474-xxx
 Apa kabar Nadia?. hmm maukah kau menemanku jalan-jalan besok??
to
010-474-xxx
hmm baiklaj,, nanti kau tentukan saja tempatnya yah.
from
010-474-xxx
Iya baiklah..

huh bagaimana ini besok dia mengajakku jalan.. harus apa aku, berdandan kah? ahh bukan tipeku.. aisshh mengapa aku jadi risih begini sihh, ahh sudahlah lebih baik aku tidur saja..

“apa aku kesiangan.?  ahh itu sungguh tidak boleh” teriakku yang membuat ibuku mendatangi kamarku..
“Nadia kenapa? kenapa teriak-teriak, kau tidak perlu takut kesiangan.. ini kan hari minggu”  “hmm pasti ibu pikir aku terlambat sekolah, haha kau tak tahu ibu anakmu ini sedang jatuh cinta”
aku bingung ingin memakai baju apa.. tapi tiba-tiba mataku berpaling pada dressku yang menggantung rapih dilemari.. ya ini adalah dress pertama yang kupunya dan ini juga dibelikan ibuku dan tak pernah kupakai sekalipun.. setelah rapih aku langsung keluar rumahku untuk mencari taksi menuju tempat yang telah kami pilih..
“Nadia apa ibu tidak salah lihat?” “ahh ibu aku mau pergi dulu  temanku ulang tahun jadi aku harus pegi sekarang..” “apa sepagi ini?, aahh pantas kau memakai dress” “iya  aku pergi dulu ibu” “ hati-hati” gara-gara aku ingin memakai dress dan rambut terurai seperti ini ibu sangat aneh melihatku.. hm tapi aku senang bias bertemu dengan Dimas disisi lain aku sangat gelisah,,

hyera perlahan-lahan mendekati sosok pria yang sedang duduk dibangku taman, karena Dimas melihatnya duluan akhirnya dia menyapa Nadia yang belum sampai dihadapannya itu.. “Nadia” panggilnya dengan senyuman yang mengembang disudut bibirnya. mereka akhirnya bertemu, ada sedikit getaran yang mengganggu pikiran Dimas, yaa itu adalah detak jantungnya yang seakan-akan menyambut kedatangan Nadia,, terlebih lagi saat melihat penampilan Nadia yang berubah 360 derajat.. “aissh kenapa gugup begini,, inikan bukan pertama kalinya bertemu..tapi sungguh dia sangat cantik.. hmm kembali ketekadku,, Dimas ini adalah awal dari kisah cintamu” begitulah ucap Dimas didalam hati ketika melihat sosok wanita yang disukainya..  disampingya,, Nadia sedari tadi hanya diam tak berbicara.. 1menit,,, 5menit,, 15menit merka hanya tersipu diam..

Nadia~
“cepatlah bicara,, jika kau tak memulai duluan aku akan pergi dari sini” sungguh bosan sekali aku disini,, aku sudah tidak betah disini,, aku tidak betah dengan dress ini,, aku tidak betah dengan high heels ini,, dan aku tidak betah dengan rambut yang terurai ini,, semuanya membuatku muak,, ingin rasanya aku melempar sepatuku ini kemuka pria ini.. “Nadia” ucapnya pelan,, akhirnya dia berbicara juga,, “iya, kenapa?” akupun membalasnya dengan sedikit kesal “hmm apa kau haus,, aku akan belikan minuman dulu  untuk kita” “ahh iya,, sebaiknya cepatlah karna aku sudah mulai dehidrasi disini” diapun pergi ketoko untuk membeli minuman..

Dimas~
huh sebaiknya aku harus latihan untuk bilang cinta  padanya, dan akupun mencuri alasan untuk membeli minuman,, yahh memang aku juga sangat haus..

setalah beberapa menit Nadia menunggu pria itu tapi tak kunjung datang juga,, akhirnya Nadia pun menyusul Dimas.. tapi selang beberapa langkah lagi ketoko,, tiba-tiba dia melihat keramaian disebrang jalan.. Nadia pun menghampirinya dan 
“apaaa… Dimas?” Nadia menjerit seketika sambil berteriak histeris saat melihat sosok pria yang sangat ia cintai itu tergeletak dijalan dengan darah yang becucuran dikepalanya, dengan isakan tangis yang tak terbendung, Nadia pun mendekati Dimas dan menaruh kepalanya yang basah diatas pahanya,,
“Dimas bangunlah,, hikss..hikss” “uhuk uhuk Nadia.. maaf ak ku ti dak bisa men ja gamu..” “apa yang kau katakana Dimas hikss..” “aku mencintaimu sejak kau masuk kelas ku uhuk uhuk” “hikss Dimas kau tidak boleh meninggalkanku, tidak akan kubiarkan tuhan menjemputmu,” “ kau tidak boleh begitu,, aku akan selalu ada untukmu selamanya” “ Dimas aku mencintaimu”

sungguh tragis..
Nadia pun langsung membawa Diams ke rumah sakit, tapi alhasil Dimas telah meninggal saat mengucapkan kata terakhirnya pada Nadia, Nadia pun langsung menelpon Minzy,, “halo minzy, aku sudah tidak kuat hikss. aku ingin mati” “Nadia ada apa,, apa yang sedang terjadi padamu?” “Dimas meninggalkanku untuk selamanya Minzy hikss cepatlah kesini hikss”

Minzy`
setelah kejadian itu terjadi Nadia sudah satu minggu tidak masuk sekolah, dia hanya menghabiskan kegiatannya di dalam kamar sambil terus menangisi kepergian Dimas,
suatu saat aku berkunjung kerumahnya,, “Nadia buka pintunya” ucapku lembut seraya mengetuk pelan pintu kamarnya,, dan akhirnya dia membuka pintunya,, sungguh aku tidak tega melihatnya,, kudapati mata Nadia yang bengkak dan berwarna merah.. akupun masuk dan berbicara padanya..
setelah dia mengerti apa yang kukatakan akhirnya dia mau kembali masuk sekolah seperti biasa,, aku senang mendenganya..

Nadia~
aku  sadar aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan,, akupun pergi ketaman sekolah untuk berdiam diri disana, ketika lama aku duduk, tiba-tiba kulihat sosok pria yang sungguh aku kenal bahkan dia yang menyebabkan ku begini, dia duduk disampingku sambil mengeluarkan senyum mautnya, diapun berbicara padaku “Nadia aku kan sudah bilang padamu aku akan ada disampingmu untuk selamanya,, jadi kau tidak usah bersedih lagi.. aku akan sangat sakit bila melihatmu bersedih seperti ini,, tersenyumlah untukku Nadia..” kata-katanya langsung menjalar keseluruh tubuhku.. aku tidak percaya,, bagaimana bisa orang yang sudah meninggal hidup kembali,, akupun perlahan-lahan mendekatkan tanganku ke pipinya tapi entah kenapa angina menerbangkan seketika sosok pria yang aku cintai,, lagi-lagi aku menangis dan dengan sigap kuhapus airmataku,, aku tidak mau Dimas melihatku menagis lagi..

Tiga minggu kemudian
huhh hari ini ujian sedang berlangsung,, dan akpun mulai bertarung dengan kertasku ini dengan ditemani pria yang aku cinta, sungguh senang bisa ditemani olehnya walaupun tidak dalam dunia nyata, yaahh karenanya aku sudah berubah total sekarang, tahun depan aku akan berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahku berkat beasiswa yang kudapat…

Don’t Say Good Bye Part 2

oleh : Adi Kurniawan 


@pagi hari dirumah min woo
Sinar pagi yang begitu menusuk tajam, tetapi mampu untuk mengahangatkan jiwa seseorang. Kala itu Jason sedang asik bertarung dengan komputernya, dan wanita yang semalam Jason temui perlahan-lahan membuka matanya karena sinar mentari yang menembus bayangnya.. melihatnya bangun Jason langsung menyapanya dengan hangat “apa kabar, kau sudah bangun?” “…” tidak ada jawaban dari wanita itu, dia sontak kaget dengan keadaannya sekarang yang tiba-tiba ada di rumah seseorang yang tak ia kenal, melihat itu Jason langsung menghampirinya ditemani dengan beberapa sarapan pagi ditangannya “makanlah dulu, kau pasti lapar. Nanti selesai makan kau mandi dan pakailah baju yang ada dikamar itu*nunjuk kamar Laras* kemudian baru kita bicara” ujar Jason panjang lebar yang disertai anggukan dari yeoja itu.

Jason~
Aku melihatnya bangun dari tidurnya dan segera menyapanya sambil membawakannya sarapan, aku sangat penasaran dengan wanita ini, kenapa bisa wanita secantik dia dibuang begitu saja oleh orang yang tega melakukannya.. saat itu aku sedang melihat peta besarku untuk mencari tempat pengamatanku.
Betapa kakunya tubuhku, mataku susah untuk dikendalikan setelah melihat wanita tadi begitu berubah penampilannya. Dia keluar kamar mandi dengan mengenakan kemeja putih sepahanya, rambut yang basah membuatnya makin seksi, oh tuhan kenapa aku “glekk” aku hanya bisa menelan ludahku saat ini, ‘sangat cantik’ “kau sudah mandi?” tanyaku membuyarkan lamunanku sendiri “iya” “hmm siapa namamu?” “aku Jessica” “oh aku Jason” Jessica,, nama yang sebanding dengan parasnya , “kenapa kau bisa ada di tempat itu semalam” ujarku penasran  “aku tidak tau kenapa bisa ada di tempat itu, tapi sebelumnya aku dibuang oleh musuh ayahku, setelah dia membunuh orang tuaku, dia membuangku begitu saja dan aku dipukul olehnya, setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi” ya tuhan ceritanya membuat bulu kudukku terangkat seketika “ lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?” “tidak tahu” tuhan haruskah aku memintanya untuk tinggal bersamaku.. aku berpikir dia adalah pengganti dari Laras,apa dia mau jika kusuruh untuk tinggal disini.
“Jessica, maukah kau tinggal disini?” “apa kau serius?” “iya, aku tau kau tidak punya apa-apa untuk dibawa pergi, jadi kusarankan kau untuk tinggal disini sesuka hatimu” “benarkah?” aku sangat berterima kasih.

Jessica~
Sungguh berat hidupku ini, aku tidak punya apa-apa lagi selain sehelai pakaian yang kupakai tadi, tapi aku tidak tahu ternyata Tuhan sebaik ini padaku, dia menampakkan sosok yang baik untukku. Dia adalah Jason, pria yang kuanggap sebagai malaikat kiriman untukku.. bagaimana tidak, setelah dia membawaku kerumahnya dia menawarkanku untuk tinggal dengannya.
Aku sempat malu untuk menjawabnya, tapi dia meyakinkanku dan akhirnya aku tinggal dirumahnya…. “terima kasih Tuhan” bisikku dalam hati.

Hari demi hari mereka lewati bersama dan itu membuat Jason makin dekat dengan jesica. Sampai suatu hari Jason mengajak Jessica pergi ke suatu tampat untuk menemani Jason yang akan mengamati malam sebagai objeknya seperti biasanya..
“Jessica, kamu di mana?” teriak Jason mencari sosok Jessica dirumahnya, “apa Jason?, aku sedang didapur” “hmm kau sedang apa?” Tanya Jason seraya menghampiri Jessica dan membelai lembut rambutnya “aku sedang membuat sarapan, kenapa kau mencariku?” “hehe, iya buat yang banyak makanannya , karena hari ini kita akan pergi bersenang-senang” “apa.. kita akan kemana memangnya?”antusias Jessica yang menghentikan aktifitasnya sejenak, “kita akan pergi ke taman sebrang komplek, aku akan melakukan pengamatanku disana” “ pengamatan apa?” “pengamatan langit disaat malam nanti, pokonya akan sangat indah” “pengamatan langit malam kenapa harus berangkat pagi ini?” “memangnya kau tidak mau bersenag-senang bersamaku? “ahh iya, aku mau, baiklah aku akan menyiapkannya sekarang” percakapan yang tidak begitu lama antara Jason dan Jessica yang diakhiri dengan kecupan manis Jason dikening Jessica.
Jessica~
“astaga, dia menciumku” gerutuku dalam hati diikuti dengan bibir Jason yang menempel hangat di keningku…
Belum reda kebahagiaanku saat Jason memintaku untuk tinggal dirumahnya, sekarang dan hari ini dia membuatku bahagia lagi .. dia mengajakku untuk bersenang-senang ,, yah memang aku tinggal dengannya, tapi aku tidak pernah keluar rumah dengannya, dan sekaranglah kesempatan itu,, karena tidak ingin terlalu lama aku pun langsung menyiapkan semuanya serapih mungkin. Jason tengah menyiapkan alat pengamatannya dan tenda yang akan kami singgahi,  setelah semuanya beres , aku pun langsung menghampiri Jason agar langsung berangkat “semuanya sudah siap kan?” tanyaku dengan senyum mengembang disudut bibirku “hmm, iya kenapa? Kelihatannya kau sungguh tidak sabar sayang” “apa kau bilang, kenapa kau memanggilku sayang” ohh apa maksudnya, aku harap ini bukan mimpi “kenapa?, tidak boleh?, kau milikku sekarang. Mengerti” “a apa” ohh jangan pingsan Jessica, jangan buat dirimu malu “ sudahlah kita pergi sekarang” arrggh dia menarik tanganku kencang sekali, tapi, hehe apa yang dia katakan tadi serius yah, ahh semoga saja….

Jason~
Kelihatannya dia senang sekali kuajak pergi, aku memberanikan diriku untuk memanggilnya sayang, karena sebelumnya aku sempat berpikir jika Laras tidak kembali padaku apa bisa aku hidup tanpa Jessica.. aku mulai menyukai Jessica perlahan dan sekarang aku sudah dewasa jadi kujadikan Jessica sebagai kekasihku…
“huh akhirnya sampai juga” ucapku seraya menoleh kearah Jessica sambil tersenyum .. “kita akan melakukan apa saja disini?” Tanya Jessica yang turun dari mobil dengan membawa barang-barang yang akan kami perlukan  “hmm melakukan apa saja yang bisa kita lakukan” “terima kasih, kau telah mengajakku kemari”.
“iya” kutanggapi dengan anggukan..

DON’T SAY GOOD BYE

oleh : Adi Kurniawan
Cahaya malam membentang langit seketika, membuat indahnya ciptaan tuhan yang terang, sungguh karya tuhan paling indah… kumpulan rasi bintang yang tak begitu nampak, terang bulan yang begitu menusuk celah malam ini,

Waktu ini adalah waktu yang sangat tepat untuk Jason memulai kerjanya, Jason adalah seorang peneliti astronomi. Baru-baru ini dia mendapat gelar sarjana muda astronomi yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya. Kekecewaan dan kehancuran yang dia rasakan sebelumnyalah yang menjadikannya tegar dang bangkit untuk masa depannya.

Flashback on..
Jason~
“Sayang”
“iya, kenapa ?” “aku akan pulang malam hari ini,, kau tidak apa-apa kan” “ne, gwenchana aku akan menunggumu” suara yang lembut, seketika membuat hatiku damai, hanya dengan mendengar suaranyaseperti memberikan energi-energi positif yang mampu menjalar keseluruh tubuhku, ya itu adalah yeoja chinguku yang nantinya akan kunikahi, kami memang tinggal 1 rumah karena melihat kim taeyeon yeojachinguku sudah tidak mempunyai orang tua lagi yang meninggal karena kecelakaan yang mereka alami.. rasanya aku tidak ingin terpisah dengannya walau hanya 1 hari, jika bukan karena dorongan kuliah, mungkin aku akan terus berada disampingnya, ku kecup singkat seketika kening mulusnya dan langsung melajukan mobilku.

Laras~
Aku sangat benci ketika Jason mengucapkan kata-kata terburuknya ‘aku mungkin akn pulang malam hari ini’ bagaimana bisa anak kuliahan pulang begitu malam, berarti hari ini aku dan Jason hanya bertemu pagi ini dan nanti malam, itupun mungkin hanya menunggunya pulang. Memang kami serumah tapi jika sudah malam, jujur Jason melarangku untuk bersamanya, yah dia bilang sih takut terjadi sesuatu padaku. Tidak tahu!! Tapi yasudahlah aku harus bersikap dewasa, bagaimanapun aku berterima kasih padanya, dia telah bersedia menampungku dirumahnya karena orang tuaku sudah meninggal, dan sekarang dia bilang padaku jika dia akan menikahiku nanti. Ooh sungguh penyelamat hidupku Jason.
Pagi itu yang begitu cerah menampakkan matahari yang seakan ingin bersahabat dengan penghuni dunia ini.. tiba-tiba berubah seketika menjadi gelap, hanya terdapat seberkas cahaya yang kelamaan akan pudar juga, seakan matahari tau akan ada sesuatu yang tak terduga.
Ya, saat itu dirumah Jason, terparkir sebuah mobil yang tak dikenal dan dengan dua pengawal yang berada didepan pintu rumah itu. Sementara keadaan didalam, ternyata sosok Laras tengah berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman pria yang bersangkutan dengannya, dia adalah Chris. Seorang rentenir yang ternyata selama ini mencari anak dari Pram, yaitu orang yang mempunyai hutang besar padanya dan belum dilunasi sampai sekarang, Chris adalah rentenir terjahat di Indonesia. Saat itu Laras sungguh tidak bisa berbuat apa-apa, yang dia rasakan hanyalah ketakutan, ketakutan meninggalkan Jason selamanya.
“lepaskan.. lepaskan aku” teriaknya sembari mencoba melepas tangannya. “cih, semudah itukah kau minta dilepaskan, kau harus membayar semua hutang ayahmu padaku. Mngerti?” “iya, tenang saja aku akan melunasinya tapi beri aku waktu, tolong.. hikks” kini isakkan Laras tak terelakkan lagi, butiran kristal bening mengucur deras di kedua pipi mulusnya,”tidak, aku tidak butuh uangmu, aku hanya butuh dirimu, itu sudah lebih dari cukup unuk melunasi hutang ayahmu” “tidak mau, aku tidak mau ikut denganmu. lepaskan akuuu”  tidak ada jawaban dari Chris, dia hanya membalasnya dengan cengkraman dan seretan kepada Laras, kini sekuat apapun Laras meronta, sekeras apapun dia berteriak tidak akan bisa meloloskan dirinya dari Chris, dia hanya pasrah dalam genggaman taeyang.

“maaf kan aku Jason, sungguh-sungguh minta maaf, hiks” lirih Laras sebelum akhirnya dia meninggalkan rumah Jason.

Keadaan hening seketika, malampun terasa cepat untuk menampilkan sinar bulannya.

Jason~
“arrgghh” sungguh membosankan, aku sudah tidak sabar untuk pulang, dosen ini maunya apasih.
Cukup lama aku menunggunya akhirnya selesai juga..
“apa kabar,
sayang kau di dalam?” ke ketuk pintu rumahku namun tidak ada jawaban darinya,, kemudian “ceklek” “hah tidak dikunci” kenapa dia tidak mengunci pintunya, langsung saja aku masuk kedalam. “hah” begitu kagetnya aku setelah mendapati rumahku yang amat berantakan. Dan barang bergeletakkan dilantai, “sayang,, kau dimana?” kucari sosok Laras di seluruh ruangan rumahku, tapi nihil, dia tidak ada dimanapun.
“arrgghh tidak. Kamu dimana?” teriakku yang sedari tadi mengeluarkan air mata kehilangan, dengan lunglai aku berjalan menuju balkon rumahku, tibatiba kutemui secarcik kertas rusak tertempel pada lemari esku. Kutatap nanar sejenak surat itu yang berisi.

Ya, apa kau kekasih Laras? Aku adalah pemiliknya sekarang, dia akan tinggal bersamaku untuk selamanya. Jadi kau tidak perlu lagi mencarinya lagi. Mengerti?

“brukk”  dia meninggalkanku. “kenapa?”.. “kenapaa?” rasanya aku tidak ingin berhenti untuk berteriak, seakan suara serakku habis tak tersisa.

Satu hari Jason hanya menghabiskan dirinya di dalam kamar. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pindah keluar negeri dan tetap menyebarkan informasi atas hilangnya Laras.

Flashback off
Jason~
Lama sudah aku hidup tanpa Laras di paris. Setelah kepindahanku ke paris dan melanjutkan kuliahku, akupun mendapat gelar sarjana muda astronomi dan kembali ke Indonesia.
“huh, pas sekali malam ini” ucapku sembari berjalan ke depan teras rumahku untuk mengamati suasana langit malam, saat akan meletakkan mikroskopku tiba-tiba saja terdengar olehku suara yang mengarah pada kantong sampah rumahku “krskrsskkrkrsks” terdengar lagi olehku dan akhirnya perlahan-lahan akupun mendekati kantung itu, “apa ini?” dengan hati-hati aku membuka kantung itu dan seketika itupun aku langsung tersontak kaget “huaa” “brukk” teriakku ketakutan dan menghempaskan tubuhku seketika ketanah.. “s ss saiapa?” ucapku terbata-bata ketika melihat sosok wanita yang ada dikantung sampah itu, wanita berambut panjang dengan muka yang terlukis oleh debu begitu terlihat lemah tak berdaya, awalnya aku takut untuk mengangkatnya dari tempat itu, tapi saat kepastian menghampiriku, langsung saja aku membawanya ke dalam rumahku untuk menormalkan keadaannya.

“hmm siapa wanita ini?, sepertinya dia dibuang oleh seseorang, lebih baik besok kutanyakan saja padanya, sepertinya dia sangat lemah” pikirku sambil menggendongnya kerumahku dan menidurkannya disofa.

SEMANGAT DI PAGI HARI

oleh : Adi Kurniawan
Sekitar pukul 05.30, saya milai beranjak dari tempat tidur. Sebelum pergi mandi saya menyempatkan waktu sebentar untuk melihat liputan olah raga di salah satu stasiun televise swasta. Setelah itu saya langsung pergi mandi.
            Tepat pukul 06.00 saya sudah selesai semuanya, dari mandi, berpakaian, sampai menyiapkan buku untuk materi kuliah pada waktu itu. Setelah semuanya selesai saya pun mulai berangkat dan tidak lupa berpamitan pada kedua orang tua. Di dalam perjalanan pun saya merasa sangat semangat.
            Walaupun di dalam perjalanan itu sangat macet, panas dan debu berterbangan menrjang muka dan pakaian saya. Tetapi saya tidak mengeluh dengan itu semua, saya tetap semangat menjalani hari-hari yang melelahkan tersebut. Sesampainya di kampus saya langsung memakirkan kendaraan saya, saya lewati satu persatu anak tangga untuk menu kelas tercinta dan memulai belajar dengan semangat.

OPERASI

oleh : Adi Kurniawan
Sabtu pagi yang cerah kuhirup udara yang sangat sejuk, ya ini waktunya weekand, dan aku pun harus pergi ke suatu tempat,bersama kedua orang tuaku. Pukul 08.30 kami berangkat ke tempat yang berada di daerah Cipondoh-Tangerang. Lumayan jauh untuk sampai ke sana.

Akhirnya sampailah kami di tempat itu. Perlahan ku dorong pintu kaca dan segera masuk ke sana. Gedung ini beraroma aneh dan di penuhi orang-orang yang takku kenal. Ku lihat orang-orang sibuk mengantre panggilan untuk dapat masuk ke sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat seorang pria berjas putih dengan berbagai macam peralatan.
            Aku melanjutkan perjalananku berkeliling ruangan. Kini aku menuju ke ruang kecil yang mengantarkanku ke lantai atas, di dalamnya terdapat orang yang duduk di kursi roda dengan kakinya terbungkus kain berwarna putih. Sungguh mengerikan. Lalu sampailah aku di lantai empat gedung ini. Aku masuk ke dalam ruangan bersekat-sekat. Kulihat seorang wanita tua terbaring lemah di atas kasur dengan tangan ditempelkan pada selang-selang dengan botol tergantung di tiang sampingnya. Pandanganku kembali berpusat pada wanita yang baru saja datang membawa sebotol obat dan alat untuk menyuntik. Aku langsung merinding ketakutan. Untung saja aku salah ruangan.
Sudah hampir pukul 11.00 ibu dan bapak mengajakku bergegas mencari Ruangan Angrek 401. Hmm… Ruangan Angrek, dari namanya ruangan itu pasti menyenangkan pikirku. Tapi ternyata, ruangan ini sama dengan ruangan lainnya. Datanglah seorang pria memakai kemeja berwarna biru dengan jas putih, gagh sekali. Tiba-tiba jantungku berdebar lebih kencang. Entahlah, aku tiba-tiba takut. Kali ini seorang wanita berbaju putih menghampiriku. Ia menyuruhku rileks. Tiba-tiba saja ia menyuntikku, aku pun pasrah dan meringis ketakutan. Ooh Tuhan… mereka benar-benar membuat jantungku berdebar-debar. Tiba-tiba ia berkata “operasi akan dilakukan besok jam 08.00”. Ya Tuhan jantung ini semakin berdebar kencang. Tidak ini pasti salah, pasti salah kenapa orang tuau tidak memberitahuku jika aku akan di operasi. Sungguh saat itu juga kekecewaan mulai nampak dalam wajahku.
            Ketika perlahan aku memasuki teras rumah itu, yang ada di benakku sekarang adala Selama ini aku hanya diberitahu oleh orang tuaku jika aku mempunyai penyakit kanker, dan entah separah ini aku pun tidak tahu, hari itu sungguh bagaikan hari terburuk yang pernah aku temui dalam sejarah hidupku. Rasanya aku tidak ingi melihat kedua orang tuaku yang sudah tega membohongi anaknya sendiri, setelah selesai untuk di periksa aku pun memutuskan untuk pulang sendiri. Melihat keadaanku orang tuaku hanya bisa mengiyakan dengan rasa bersalah di mimk mereka, saat mengitari jalan, seketika mataku tertuju pada suatu tempat di seberang jalan ya tempat itu adalah “Rumah Kita” yaitu rumah khusus untuk penderita kanker sepertiku, dengan mantap aku pun meminta supir taksi untuk memberhentikan kendaraan seketika dan langsung menuju rumah tersebut, tidak lupa untuk membayar taksi terlebih dahulu, ketika perlahan aku memasuki rumah itu yang ada di benakku sekarang adalah ekspresi wajah mereka dan kehidupan mereka yang mungkin jarang untuk bersosialisasi dengan dunia luar. Saat itu aku pun berpikir pasti mereka di hinggapi dengan rasa takut, marah, atau putus asa dengan penyakit mereka. Ku ketuk pintu perlahan, dan datanglah seorang ibu paruh baya yang ramah menyapaku dan menyuruhku masuk aku pun membalasnya dengan anggukan. Setelah aku menjelaskan tujuan kedatanganku kesini, ibu itupun mengajakku langsung ke tempat utama, yaitu tempat dimana penderita kanker menghabiskan kegiatannya. Ku lewati setiap ruang di sudut rumah ini dan apa yang ku lihat, aku tersontak kaget tidak percaya. Benarkah ini terjadi , semua penderita kanker disini mayoritas adalah anak kecil dan bagaimana bisa mereka begitu ceria, bahagia, bahkan sangat menikmati hidup mereka. Canda tawa menghiasi raut wajah mereka seakan tidak peduli dengan dunia luar dan walaupun tidak sedikit orang tua yang meninggalkannya begitu saja.
            Ku tepuk sebelah pipiku nan mulus ini untuk sekedar meyakinkan diriku yang memang berada dalam dunia nyata. Aku terus mengitari rumah ini ditemani oleh ibu asuh mereka, kudengarkan setiap cerita ibu asuh ini dari mulai suka maupun duka, lumayan lama aku mendengar kisah mereka dan tanpa kusadari setes air bening pun menyapu wajahku seketika. Sungguh bodohnya aku, kenapa aku bersikap arogan kepada orang tuaku, mereka berusaha menyembunyikannya karena tidak ingin aku merasa terbebani akan penyakitku yang ternyata separah ini. Itulah yang ada dipikiranku sekarang, akhirnya aku pamit untuk pulang kepada pemilik rumah ini, kulambaikan tanganku seraya tersenyum manis di depan anak-anak penderita kanker itu.
            Suatu pelajaran yang sangat berharga untukku, entah sampai aku akan bertahan tapi aku akan tetap yakin dan berusaha untuk mempertahankan hidupku, agar aku bisa membalas semua yang telah dilakukan kedua orang tuaku kepadaku. Kusuruh sopir taksi untuk lebih cepat melajukan mobilnya, karena aku ingin cepat mengeluarkan kata maaf kepada orang tuaku . Akhirnya setelah sampai di rumahku, aku pun bergegas untuk masuk ke dalam rumahku alangkah tidak sabarnya aku, langsung saja ku ketuk keras pintu dengan menimbulkan ritme yang tak berturan. Langsung ku peluk erat ibuku ketika beliau membukakan pintu untukku, mungkin orang tuaku terheran-heran melihatku seperti ini, tapi apa peduliku, yang penting aku sudah berada disisi mereka “maaf kan aku, sungguh aku minta maaf” kalimat itu terus saja kuucapka untuk meyakinkan mereka. Dibelainya pelan rambutku, seketika itu kami pun terlarut dalam kesedihan yang tak terbendung lagi, mengingat besok aku akan di operasi dan entah akan bagaimana lagi hidupku ini.
            Ketika kami termenung menyudahi kesedihan malam ini, kami bertiga pun tidur bersama dalam kedamaian dan keheningan malam ini.Cahaya pagi begitu menusuk kamar kami seketika, suara ayam yang rutin untuk berkokok mengiringi bangun kami. Orang tuaku sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit kemarin, dan aku pun dengan senyum pahit bergegas untuk pergi mengikuti orang tuaku. Bayangan potret penderita kanker kemarin menjadi pegangan untukku yang berjuang melawan penyakit ini, ku yakinkan kedua orang tuaku untuk tidak terlarut dalam kesedihan lagi. Kuberikan senyum terakhir termanisku sebelum operasi dilakukan dan akhirnya tepat jam 08.00 operasi pun di mulai.